Mbak Dee, FLP, Dunia Editor dan Travelling

Kutipan


Oleh: Fitri A.B.

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah” (Andrea Hirata, Padang Bulan)

Kurasa begitu untuk pertemuan kita waktu itu Mbak Dee. Semoga. =)

Apa yang spesial dari pertemuan FLP Sumut di 29  November 2014, Minggu, bertempat di rumcay ketika itu? Kedatangan Mbak Dee dan buku setas besar dari Noura Books. Senangnya bukan main ini ceritanya. Di pertemuan hari itu ada 23 FLPers Sumut berhadir. Rumcay padat tapi tetap seru. =D

Perkenalkan. Mbak Dee alias Mbak Rahmadiyanti Rusdi adalah ketua harian I di Badan Pengurus Pusat (BPP) FLP 2013-2017. Karir kepenulisan beliau dimulai dari kesukaan membaca buku, menulis naskah skenario di Teater Bening dan menulis mading. Semakin merasakan keasyikan menulis setelah bertemu Mbak Helvy Tina Rossa (salah satu pendiri FLP), bekerja di Majalah Annida (suka kali awak baca majalah ini sejak Aliyah. Belinya pakai uang sisa jajan 😀 ), dan akhirnya bergabung di FLP. Selain di BPP FLP, beliau juga bekerja di Noura Book bagian PR and Communications. Hobi beliau yang paling ketauan itu jalan-jalan dan nulis catatan perjalanan di media-media massa. Pengin mahir seperti itu. Piawai.  Soal dunia editing jangan ditanya. Beliau juga sudah berpengalaman. Makanya FLP Sumut merasa waw karena ada banyak ilmu yang bisa diambil di kedatangan beliau. Ah ya, sila lihat info lengkap Mbak Dee di http://la.linkedin.com/pub/rahmadiyanti-rusdi/6/a28/3 , bukan begitu Mbak? =)

Saya tuliskan poin per poin apa yang disampaikan Mbak Dee dan sekumpulan jawaban atas pertanyaan kawan-kawan ke Mbak Dee selama beberapa jam di Rumcay FLP Sumut. Pertemuan yang singkat tapi menyisakan banyak keseruan dan manfaat. Check it out!

  • Mengatasi kendala dalam menulis, apapun bentuknya, mari mengingat kalimat ini: “Penulis yang berhasil adalah penulis yang tekun dan punya azam.” Soal ini, Mbak Dee mereferensikan kita belajar pada John Grisham.
  • Tips menulis catatan perjalanan ala Mbak Dee: 1) Kemana pun kita berjalan, temukan sejarah atau jejak Islam di sana. Tuliskan sisi-sisi menarik dan fakta yang ada di sana dengan konsep 5W + 1H. 2) Tulis hal-hal menarik yang bisa diceritakan dan dibagi. 3) Tuliskan pesan kebaikannya.
  • Tidak bisa ditawar, penulis yang baik adalah pembaca yang baik.
  • Sekarang ini, adakalanya penerbit yang mencari dan mendatangi penulis. Tentu terlebih dahulu ditelisik pemikiran-pemikiran mereka lewat tweet dan tulisan-tulisan mereka di blog. Tokoh-tokoh masyarakat di sekitar kita dengan pemikiran-pemikiran mereka yang luar biasa termasuk yang dicari penerbit saat ini. J
  • Beda ya antara copy editor dengan editor. Kalau copy editor tugasnya mengoreksi tanda baca dan typo, editor tugasnya lebih berat dan dalam dari itu.
  • Tips menjadi editor: 1) Punya keterikatan hati dengan buku. 2) Punya knowledge tentang pengeditan buku. 3) Harus punya kamus yang lengkap. 4) Punya wawasan yang luas.
  • Supaya lolos ke penerbit, perhatikan pasar (apa yang update diperbincangkan). Istilah Mbak Dee bumata alias buka mata buka telinga. =D
  • Novel masih menjadi sarana dakwah yang efektif

FLP dan Kita

Pada bagian ini, ulasan mbak Dee (dengan sedikit penambahan seperlunya dari saya) berhubungan dengan pertanyaan saya saat pertemuan itu. FLP dan (karya) kita adalah dua hal yang akan selau berkaitan. Jika kita merasa belum atau tidak punya keterkaitan, maka pembaca yang akan mengait-ngaitkannya. Ada yang harus kita ingat dan pahami, bahwa di FLP, selain menjadi pribadi yang organisatoris dan terus berkarya, ada nilai-nilai keislaman yang harus senantiasa kita sampaikan dan tunjukkan. Disampaikan dan ditunjukkan lewat tulisan, juga pribadi kita. Tentu tidak ada karya yang sempurna, sebagaimana tak ada manusia yang sempurna. Tapi setiap kali pesan kebaikan itu tersampaikan lewat karya yang tulus, itulah sempurna itu. Intinya ada “konsekuensi” yang harus kita terima ketika kita ada di FLP ini. “Konsekuensi” untuk menuliskan pesan-pesan kebaikan dengan cara yang manis. Pada akhirnya kita adalah cermin dari apa yang kita tuliskan. Seperti kata Mbak Helvy Tiana Rosa, salah satu pendiri FLP, “Seperti apakah Anda? Menurut saya, paling tidak Anda adalah apa yang Anda tulis.” Ah ya, bukankah membahagiakan jika nanti ternyata salah satu hal yang membuat kita menjadi ahli surga adalah tulisan-tulisan kita saat ada di dunia? Tulisan yang tak lekang dari pesan kebaikan bagi banyak orang.

*Foto-fotonya nyusul ya. Tertinggal di my blue netbook. ^_^

Iklan

Catatan Perjalanan Medan-Padang #3: Aku, Kamu dan Kita di Tanjung Medan


(Ini kelanjutan tanggal 16 Mei 2012 ya kawan. Ehm…, masih dalam rangka arisan menulis itu =) . Entah kenapa-lah ya aku kedapatan tanggal yang berhujan kisah paling banyak, hehe.  *Melirik Lia, Ririn, and Suci. Check it out again ya kawan…. ^_^)

Terdampar di Tanjung Medan

Pagi masih basah sejak shubuh. Kaca bus masih bersisa titik-titik hujan. Ada hujan di sebagian perjalanan kami, sejak shubuh hingga hari benar-benar pagi. Ehm, kami baru di desa Tanjung Medan (salah satu nama tempat di Sumbar) ketika tiba-tiba bus kami macet alias mogok alias gak bisa melaju lagi =D. Apa penyebabnya? Hehe, cerita punya cerita, dari sumber yang dapat dipercaya, katanya bus kami mogok karena ada masalah pada mesinnya. Maaf, awak bukan dokter mesin alias teknik mesin, jadi tak tau dengan detail apa masalahnya, hehe.

Hujan sudah usai ketika kami terdampar di desa ini. Ketika pagi masih berada di sekitar pukul 07.30 wib. Mesin mati, AC busnya pun mati. Kali ini, diriku nyari-nyari AC, hehe. Soalnya sedang tak berada di penghujung malam. Bus kami pun mendadak pengab alias sumpek. So, setelah sarapan dengan menu sederhana bersama beberapa FLPers di dalam bus, kami putuskan untuk turun.

Setiap yang kita alami tak lepas dari ketetapan Allah, kan? Terdamparnya bus kami di negeri orang ini tentulah bagian dari takdir Allah juga. Banyak hal yang kami alami selama beberapa jam di sini. Ya, pada akhirnya butuh waktu 4 jam untuk menunggu bus kami sembuh dari sakitnya =). Dan 4 jam itu telah menyempatkan kami mengalami hal-hal tak terduga dan berkesan. I’m serious. So, check it out, what it is ^_^. 

Ibu dan Ayah Baru

Awalnya aku dan Nurul hampir tak jadi untuk nge-charge hp di masjid raya yang ada di desa ini. Nurul kelihatan berat untuk ke masjid ini. Ehm, mungkin karena khawatir ditinggalin bus kali ya, hehe. Sebenarnya aku takut juga. Tapi gak mungkin mereka ninggalin kami, soalnya gak ada kami pasti gak rame. Ups, apa pulak ni =D. Ya, itu alasan paling logisnya menurutku. Sebenarnya ke masjid ini bukan cuma untuk numpang nge-charge tapi untuk hal lainnya, hehe.

Meski agak berat dan penuh pertimbangan, sampai jugalah kaki kami di masjid yang sudah dikunjungi lebih awal oleh FLPers yang lain. Masjid yang sederhana menurutku, meski disebut sebagai masjid raya. Dan Alhamdulillah, masjidnya tidak terkunci. Biasanya susah dapat masjid yang terbuka pada jam-jam segitu, apalagi di kampung orang.

Di teras masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki muda. Taksiranku dia itu salah seorang pengurus masjid. Tak begitu jelas wajahnya karena tertutup helm yang ia kenakan. Kulihat, dia pun buru-buru ingin pergi. Meski begitu, sempat juga kami menanyakan kondisi masjid apakah terkunci atau tidak.

Setelah dia menunjukkan bagian pintu yang tidak dikunci (soalnya masjid itu puny banyak pintu, hehe), kami dengan penuh semangat melangkah dan mncari pintu itu. Belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba seorang laki-laki yang usianya kurasa lebih muda 10 tahun dari Ayahku menghampiri kami. Kupikir beliau mau marah, apalagi setelah kami bilang kalau kami mau nge-charge HP kami. Ternyata eh ternyata, beliau malah menunjukkan lokasi colokan di dalam masjid itu. Ini akibat pernah menemukan masjid yang melarang siapa saja yang ingin mengambil listrik dari masjid itu. Apalagi ini bukanlah kampung awak =D.

Pencolokan pun dimulai oleh Nurul. Aku masih mencari posisi colokan yang lain di masjid itu. Nurul mengabarkan kalau arus listrik di colokan itu tidak jalan (hehe, macam liputan berita ya?). si Bapak masih menunggui kami. Bukan karena takut kami melakukan hal-hal yang tidak baik dalam masjid, tapi karena ingin memastikan apakah colokannya berfungsi dengan baik.

Pertolongan itu datangnya sering tidak terduga ya? =). Walaupun urusan charge men-charge adalah urusan sederhana, tapi di saat perjalanan jauh begitu, HP menjadi bagian yang harus terpenuhi kebutuhannya, hehe. Kalau sampai low-bat, of course tak bisa menghubungi keluarga. Allah menolong kami lewat si Bapak itu. Bukan main, beliau langsung menawarkan kami untuk nge-charge di rumahnya saja. A positive thinker sekali menurutku. Baru ketemu udah menganggap kami orang dekat ^^.

Sebelum benar-benar sampai ke rumah si Bapak, di dalam masjid kami sempat ngobrol dengan si Bapak. Hampir sama pertanyaan dan komentarnya dengan si pemilik rumah makan di Sipirok itu. Bertanya tentang kampus, asal, dan keperluan kami datang ke Medan. Bedanya si Bapak yang satu ini tampaknya sudah cukup familiar dengan nama FLP alias Forum Lingkar Pena. Ehm, jadi tersanjung, hehe.

Setelah cari mencari alamat rumah si Bapak (padahal sebenarnya gak jauh amat dari masjid raya yang letaknya berada di dalam gang ^_^), akhirnya ketemu juga. Rumah beliau berada tepat di pinggir jalan. Dari halaman beliau, kami bisa melihat bus kami yang masih dalam proses pengobatan. Rumah yang sederhana. But I like that. Desainnya masih sangat kental dengan nuansa kedaerahannya. Bertangga dan ujung atapnya runcing menyerupai rumah adat Padang.

“Assalamu’alaikum….” ucap kami penuh semangat.

“Waalaikumsalam….” jawab seorang perempuan yang lebih muda dari Ibuku sedikit. Jawab yang bercampur keheranan.

Jelas keheranan. Si Bapak tadi baru muncul beberapa menit kemudian, setelah kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami =D. Dengan sejujur-jujurnya kami mengatakan maksud kami.

“Ibu…, kami mau numpang nge-charge HP kami. Boleh ya buk…?” ucap kami dengan polos plus senyum tertulus dan tanpa basa-basi, hehe.

Setelah diperjelas lagi oleh si Bapak kepada si Ibu, akhirnya kami mendapat surat izin untuk nge-charge HP kami. Macam urusan berat aja ya? =D. Alhmdulillah, si Ibu paham tanpa harus ber-negative thinking. Dan pengecasan HP pun dimulai. Ini kebahagiaan paling ditunggu setelah beberapa jam tak menemukan kehidupan di dalam HP-ku.

Nge-charge enaknya sambil ngobrol, hehe. Iya, kami sempatin waktu buat nunggu si HP batrenya penuh dengan ngobrol banyak hal bersama si Bapak dan Ibu. Obrolan kami tak tentu arah =D. Kadang dari A ke Z, dai E ke A, dan seterusnya. Gantian. Kadang kami bertanya soal si Ibu dan Bapak dan kadang mereka yang bertanya soal kami. Ajaib! Meski ini adalah pertemuan pertama yang tak terduga, tak ada rasa canggung di antara kami. Seperti sudah keluarga sendiri. Jika tadi tak jadi ke masjid, pasti gak ketemu keluarga yang baik hati ini.

Ehm, mataku tertuju pada satu meja di dalam rumah itu. Meja yang full dengan berkas, kertas dan buku. Simpulanku sementara keluarga ini keluarga yang berpendidikan. Simpulku ini didukung dengan pernyataan si Ibu tentang si Bapak dan anak-anaknya. Si Ibu bilang…. (Bersambung….^_^)