Kabar Ter-Wow di Bulan Ramadhan 1435 H


nulisOleh: Fitri A.B.

Beasiswa S3 Full Plus Dikontrak Jadi Dosen

Tiba-tiba butuh saudara kembar yang bisa nolongin saya ngerjain apa-apa yang harus saya selesaikan sebelum Idul Fitri tiba. Kantong ajaib Doraemon pun jadi-lah, yang penting bisa bantu saya. =D Ceritanya, ada dua kabar mengejutkan datang di pertengahan Ramadhan ini. Kalau diklasifikasikan, kabar ini termasuk ke dalam jenis kabar apa ya? Kabar baik plus mengejutkan plus bikin gak bisa tidur kali ya.

15 Juli 2014, Selasa yang lalu, ada SMS masuk yang diawali dengan sebuah panggilan tak terjawab satu kali. Waktu saya cek, sms dan panggilan tak terjawab itu ternyata dari Ayah Tobang saya alias abang ipar Mamak. Orang yang sudah saya anggap seperti Ayah saya. Isi sms-nya ya termasuk dalam kabar baik plus mengejutkan dan bikin gak bisa tidur itu. =D

Isi pesannya ternyata soal beasiswa S3 dari sebuah kampus di Medan, kawan-kawan. Beasiswa full + ikatan dinas sebagai dosen di kampus tersebut. Yang bikin makin keren, kita boleh S3 dimana saja alias tidak harus di kampus tersebut. Apa gak keren itu?

Cerita S3, jadi ingat di awal-awal saya selesai sidang kemarin, Ayah semangat kali nyuruh saya untuk langsung daftar S3. Aih, kalau Ayah saya jangan ditanya. Beliau itu sosok yang paling semangat untuk nyekolahin saya dan adik-adik saya setinggi  mungkin. Pun Mamak. Bersakit-sakit alias hidup seadanya pun jadi. Tapi soal S3 itu, saya berat mengiyakan karena beberapa alasan. Alasan pertama, penginnya nikah dulu. S3-nya bisa bareng suami atau kalau pun gak berbarengan, yang penting nikah dulu. Ingin segera menyempurnakan separuh agama. =) Kedua, saya penginnya S3 di luar Medan tapi enggak dibiayai Ayah dan Mamak. Penginnya biaya sendiri atau dapat beasiswa. Cukuplah S2-saya mereka yang biayai. S1 kemarin tetap dibiayai juga plus Alhamdulillah dapat beasiswa dari kampus sejak semester 4 sampai 8.

Sssst, alasan pertama gak pernah saya lisankan dengan jelas ke Ayah, paling cuma ke Mamak. Tapi rupanya, Ayah adalah Ayah. Sosok yang sebenarnya selalu paling mengerti isi hati anak perempuannya. So, haru plus malu saya jadinya waktu Ayah tahu alasan utama saya itu. Ayah selalu bilang jodoh itu pasti ada. Gak perlu ada kekhawatiran gak dapat jodoh kalau pendidikan kita tinggi. Yes, saya setuju sama Ayah. Toh, tidak ada satu pun dalil yang mengatakan kuliah setinggi-tingginya bisa menghalangi jodoh. Tapi namanya juga hati, sesekali kekhawatiran kayak gitu ada. *eh =D

Btw, yang paling membahagiakan walaupun ada di tengah-tengah “konflik batin” begitu adalah saya udah dapat SIM alias Surat Izin Menikah-nya. Sekarang tinggal nyari waktu yang tepat dan pasangan yang tepat. Wahai jodoh, kamu lagi dimana? *lho =D

Okeh, kembali ke soal beasiswa S3 itu. Deadline-nya tanggal 25 Juli ini, kawan-kawan. Berkas-berkas yang harus dilengkapi juga lumayan banyak dan “ribet”. Ketika saya menuliskan ini, baru sekitar 40% yang kelar. Fiuuuh…! Demi cita-cita dan cinta (essseh…), tentu saja ini harus diperjuangkan. Hasilnya biar Allah yang tentukan. Mohon doanya kawan-kawan. =)

Gimana dengan alasan pertama tadi? Jauh di lubuk hati ini, saya yakin Allah sudah punya rencana terbaik untuk saya. Semoga diri ini selalu dimudahkan Allah untuk bijaksana dalam memilih dan menangkap setiap kesempatan. Hidup, mati, rezeki dan jodoh, Allah-lah yang mengatur.

“Menunggu kamu benar-benar tiba, perjalanan ini kulanjutkan dulu ya. Sampai jumpa di episode yang entah mana. =) ”

Yup, hidup ini bukan hanya soal jodoh, jodoh dan jodoh. Sembari berusaha mencari/ menunggu, banyak hal positif yang bisa dilakukan. Kadang-kadang, saya malah berpikir, barangkali ada usaha yang lebih besar lagi yang perlu dilakukan agar tiap harap terpenuhi dengan penuh ridho dari Allah. Tentu saja, ini semata soal memperbaiki diri dan kedekatan kita pada-Nya. Setuju? 😉

Yang pasti, kemana pun kaki melangkah dan keputusan apapun yang kita ambil, upayakan agar selalu semata-mata karena Allah. Nanti sekali pun ada rasa kecewa yang datang, kita selalu punya penawarnya. Kita selalu bisa mengobatinya segera. Libatkan Allah dalam hal apapun agar hidup ini berkah, right?

 

Berkas Wisuda oh Berkas Wisuda….

Jadi, waktu lagi sibuk ngurus sesuatu di kampus pasca untuk urusan beasiswa itu, saya jumpa dengan kak Noni, bagian administrasi di prodi saya. Beliau kira saya udah wisuda padahal belum. Barangkali karena saking banyaknya mahasiswa yang diurus jadi lupa-lupa ingat. Karena saya bilang belum, barulah beliau teringat memberi kabar kalau pengumpulan berkas untuk wisuda bulan Oktober ini deadlinenya tanggal 9 Agustus 2014. Lewat dari tanggal itu sampai September 2014, bakal kena kewajiban bayar uang kuliah walaupun gak full. Oh Allah, kabarnya bikin saya pengin pingsan. =( Kalau dari awal tahu soal ini, gak bakal mepet begini.

Jelas bikin mau pingsan karena belum ada berkasnya yang saya persiapkan. Belum ada jumpai dosen untuk tandatangan revisi, belum dijilid, belum ngurus surat ini dan itu, belum foto untuk pasfhoto yang pakai film, belum ini dan itu, dan belum kelar nyiapin berkas-berkas untuk beasiswa S3 itu. Luar biasa sekali. =D

Tapi bismillah, insya Allah semua akan terselesaikan. Konsekuensinya semua harus kelar sebelum lebaran tiba. Biar bisa menghabiskan masa-masa lebaran dengan hal bermanfaat lainnya. Padahal sudah semangat prepare untuk rencana mudik, tapi karena berita dari kak Noni tadi, ya gitu deh…. Udah lama pengin bisa mudik sekeluarga ke rumah nenek di sekitar Sibuhuan. Jadi mudik atau enggaknya, kita lihat saja nanti. Semoga jadi dan lancar ya. =)

Selamat puasa, kawan-kawan. Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya. Jangan lupa doakan saya ya. Saling mendoakan tepatnya. =)

Iklan

Allah Pasti Bantu….


subuhOleh: Fitri A.B.

Sudah masuk semester 4. Perasaan baru kemarin saya jadi mahasiswa baru pascasarjana di salah satu kampus ternama di kota tempat saya dibesarkan, Medan. Banyak cerita berbalut rasa yang campur aduk sudah terlewati. Ada bahagia, sedih, kecewa, gelisah, deg-deg-an, pokoknya komplit.

 

Saya sudah ada di bulan ketiga dari semester 4 yang saya jalani. Jadi, lebih kurang 3 bulan lagi semester ini akan habis. Sekali pun selalu ada kemungkinan kalau saya masih akan tercatat sebagai mahasiswa sampai semester depan, saya selalu menganggap semester 4 ini sebagai semester akhir. Diam-diam di kata-kata itu saya menyematkan satu doa. Bahwa saya akan segera wisuda sebelum semester depan datang. Meski mungkin tidak masuk dalam kategori mahasiswa yang tercepat selesai kuliahnya, tapi paling tidak saya ingin masuk dalam kategori normal dan bukan termasuk mahasiswa abadi.

 

Selesai liburan dari Barus akhir tahun 2012 yang lalu, target saya Januari adalah garis start buat saya untuk mulai mengerjakan proposal tesis saya. Karena semester 4 adalah masa-masa normal buat mahasiswa di kampus saya untuk fokus mengerjakan proposal tesis. Di sela kesibukan saya kuliah, saya yang juga aktif di FLP Sumut, tak lama kemudian mendapat amanah jadi koordinator acara TFT FLP Se-Sumbagut yang akan diadakan Mei tahun ini (2013). Ya, jadi menjalani semester 4 ini bukan cuma tesis yang harus saya pikirkan dan kerjakan, TFT FLP itu juga.

 

Soal tesis saya sampai saat ini (jangan ditiru ya…^^), masih berkutat di bab yang sama. Oh bukan, bukan berarti saya tidak berusaha mengerjakannya. Saya selalu berusaha untuk itu. Karena saya tahu, ini adalah salah satu kewajiban saya kepada kedua orangtua saya. Apalagi dana kuliah saya selama ini adalah dari kedua orangtua. Penyemangat saya sampai hari ini adalah kedua orangtua saya dan mimpi-mimpi sederhana saya lainnya. Saya harus memberikan yang terbaik untuk mereka. Mereka sudah terlalu banyak berkorban. Ingin membanggakan mereka, apalagi saya ini bertakdir sebagai anak pertama. (Allahumma yassir wala tu’assir….)

 

Jadi, sempat muncul pertanyaan dalam benak saya, “Kenapa saya kemarin mau aja dijadikan sebagai koordinator acara?”. Lalu komentar lain pun muncul, “Kalau enggak kan saya bisa lebih fokus ngerjain tesis. Jadi anggota aja kan udah cukup.” Tapi saya cepat-cepat istighfar karena merasa sudah mengeluh dengan apa yang menjadi amanah saya. Mungkin ini hal sederhana. Tapi buat saya, hal sederhana apapun itu, semuanya adalah bagian dari takdir Allah. Dan semua itu pastilah Allah selipkan hikmah atau tujuannya.

 

Pertanyaan yang senada itu saya tepis jauh-jauh karena di saat yang sama saya ingat perkataan Allah yang ini:

Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya.” (Q.S. Al-Baqarah: 286)

Dan ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Q.S. Muhammad:7)

 

Di balik setiap amanah yang saya punya saat ini, saya percaya Allah telah menyisipkan kemudahan dan kekuatan untuk saya. Kemudahan dan kekuatan untuk saya dan teman-teman saya mengemas acara TFT FLP agar berjalan lancar. Kemudahan dan kekuatan bagi saya untuk segera menyelesaikan tesis itu.

 

Kalau setiap hal dilakukan dengan niat membantu Allah, Insya Allah, Dia pun akan membantu setiap urusan kita. Mulai dari urusan yang kecil sampai urusan yang besar. Saya percaya itu.