Jodohku, Boru Tulangku…


Oleh: Fitri A.B.

 “Zal, 2 hari lagi kita ke Medan. Ayah dan Ibu ingin silaturrahim ke rumah Tulang*mu di Medan  dan berniat menjodohkanmu dengan anaknya.” Ucap Ayah tanpa meminta jawaban dariku.

Entah apa penyebabnya, tiba-tiba orang tuaku ingin menjodohkanku dengan Boru Tulang**ku. Perjodohan mendadak ini tidak pernah terpikirkan olehku. Biarpun perempuan itu Boru Tulangku tapi aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Aku dan keluargaku tinggal di Padang sedangkan ia dan keluarganya tinggal di Medan. Sejak aku lahir hingga usiaku yang kini 24 tahun, kami sama sekali tidak pernah bertemu.

Ingin saja kuteriakkan bahwa aku tidak mau dijodohkan sebab sebenarnya aku tengah menyukai seorang perempuan yang satu kampus denganku. Namanya Nisa. Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya di kampusku. Parasnya yang cantik ditambah pribadinya yang baik, itu yang membuatku menyukainya. Perasaan itu sudah kusimpan 3 tahun lamanya. Kalau perjodohan itu kuterima, aku tidak tahu bagaimana jadinya.

Beberapa jam sebelum berangkat ke Medan, aku mencari Nisa ke kampus. Nyatanya, ia tidak masuk kampus sejak 2 hari yang lalu. Sahabatnya bilang ia akan dijodohkan di kampung halamannya. Aku terdiam.

———-

“Memangnya siapa nama anak Tulang itu Ibu?”

“Tanya saja langsung pada anak Tulangmu kalau kita sudah sampai di rumahnya. Sabar! Lima belas menit lagi kita sampai.”

“Ibu…, aku ingin bilang kalau aku….”

“Nanti saja kalau kita sudah sampai di rumah Tulangmu ya… !” Ibu memotong perkataanku

Mungkin aku memang tidak berjodoh dengan Nisa. Biarlah. Aku ikhlas. Aku mulai sadar bahwa mungkin ini jalanku untuk membahagiakan orangtuaku. Takdir Allah ini akan kujalani dengan sebaik-baiknya. Nama Nisa tidak lagi kusimpan di hatiku. Tepat setelah aku masuk ke rumah Tulangku.

Sungguh, aku merasa asing dengan keluarga ini meskipun Tulangku adalah adik kandung Ibuku, kecuali dengan seorang perempuan yang baru lewat secepat kilat. Aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. Tapi aku tidak bisa memastikannya. Sebab aku hanya melihat wajahnya dari samping dan dari jarak yang cukup jauh.

“Apa mungkin itu Boru Tulangku?” Tanyaku dalam hati

————–

Hidangan malam itu tampak istimewa. Aku berkeyakinan kalau ini bukan sekedar makan malam biasa, apalagi kulihat wajah Tulang dan Nantulang*** serta kedua orangtuaku begitu bahagia. Aku semakin tidak tenang. Tiba-tiba, aku teringat lagi pada Nisa….

“Sayang…, makan malamnya sudah mau dimulai.” Kata Tulang memanggil anaknya

Aku tertunduk. Detik yang tidak kuharapkan akan segera datang.

“Rizal, ini anak Nantulang satu-satunya. Namanya Nisa.” Ucap Nantulang

Aku hampir tidak percaya. Perempuan berkerudung biru yang duduk di hadapanku ternyata Nisa, teman sekampusku. Ia perempuan yang kusukai sejak 3 tahun lalu. Ia Boru Tulangku.

——–

                “Bang…, ini kopinya.” Nisa datang menghampiriku, lebih tepatnya memecah lamunanku.

“Terimakasih sayang. Kapan anak dan cucu kita datang? Aku rindu pada mereka.” Kataku pada perempuan yang cantiknya masih sama seperti ketika pertama kali aku melihatnya.

 

 

 

 

 

*Tulang         : Panggilan untuk abang atau adik kandung (laki-laki) Ibu pada suku Mandailing

**   Boru tulang: Panggilan untuk anak perempuan abang atau adik kandung (laki-laki) Ibu pada suku

Mandailing

***Nantulang  : Panggilan untuk istri abang atau adik kandung (laki-laki) Ibu pada suku Mandailing

Iklan

Sebab Cinta Kita Tak Berjarak


Oleh: Fitri A.B.

“Meski kita berjarak tapi kutahu cinta kita tak berjarak. Karena itu pula, kita punya rindu yang sama.”

Aku tersenyum membaca sms-nya. Ia masih seromantis dulu rupanya. Tanpa menunggu lama, langsung kubalas sms-nya itu.

“Bang, aku rindu Abang. Kapan Abang pulang?”

Telah setahun ia menjadi TKI di Malaysia. Dalam setahun itu pula, ia tak kunjung pulang.

“Mira, minta ia menceraikanmu. Suami apa yang 6 bulan tidak menafkahi istrinya dan tidak pernah menanyakan soal anaknya.” Kata-kata Ibu mengagetkanku

Aku terdiam hingga sebuah sms masuk ke Hp-ku.

“Mira sayang, Abang juga rindu padamu dan anak kita. Bulan depan Abang pulang. Sabar ya Sayang.”