Jangan Genggam Terlalu Kuat


Oleh: Fitri A.B.

Saat itu saya duduk di kursi bernomor 4E, tidak jauh dari pintu gerbong dan toilet kereta api. Begitu saya duduk dan kereta api hampir berjalan, seorang pria bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil duduk tepat di dekat pintu gerbong. Ah ya, entah sejak kapan kereta api ekonomi sudah lebih nyaman kondisinya. Tidak ada penjual makanan yang bebas keluar masuk dari satu stasiun ke stasiun yang lain. Setiap gerbong juga disediakan sekitar 3 AC. Jadi duduk di mana pun tetap nyaman.

Kembali ke pria itu dan keluarga kecilnya. Mereka rupanya membawa beberapa barang, termasuk sebuah koper besar dengan muatan yang banyak. Begitu istri dan kedua anaknya duduk, pria itu masih berusaha menempatkan kopernya di tempat terbaik. Entah karena ia terlalu bersemangat mengangkat koper itu atau karena ia terlalu khawatir dengan pandangan tidak enak dari orang di sekitarnya atau karena ia terlalu kuat menggenggam pegangan koper itu, akhirnya pegangan kopernya patah. Ekspresi kecewa dan malu bisa terlihat dari wajahnya. Saya dan Anda mungkin bisa membayangkan bagaimana ia membawa koper itu begitu turun dari kereta api sambil memperhatika dan mendampingi istri dan kedua anaknya yang kecil. Sebab saya lebih dulu turun dari mereka, maka saya hanya bisa berdoa agar ada orang lain yang membantunya.

Di kehidupan kita anggap saja koper itu seperti ambisi, harapan atau impian kita. Menggenggamnya terlalu kuat seringkali menyisakan kekecewaan yang begitu besar. Muncul perasaan bersalah, kecewa, kesal, patah dan sesal bahkan untuk jangka waktu yang lama jika kita tidak bisa meraihnya. Besar dan lamanya rasa kecewa, kesal, patah dan sesal itu tidak bisa dipungkiri tergantung seberapa besar harapan kita agar semua terwujud dan tentu saja tergantung pada siapa pengharapan itu kita gantungkan.

So, coba cek kembali apa saja ambisi, harapan dan impian yang kita punya. Semuanya karena apa dan untuk apa. Apa saja yang kita lakukan agar semua terwujud dan berjalan seperti yang kita harapkan? Bagaimana sebaiknya sikap kita jika harapan kita tak seperti kenyataan yang terjadi? Lalu, sejak harapan itu ada pada siapa ia kita gantungkan? Maka sebaiknya sebesar atau sesederhana apapun impian dan harapan kita, gantungkan semua hanya kepada Yang Maha Melihat usaha-usaha kita, Yang Maha Mendengar doa-doa kita. Percayalah, semua akan selalu baik-baik saja.

Iklan

3 thoughts on “Jangan Genggam Terlalu Kuat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s