Saya, Stasiun dan Gerbong Kereta Api


Oleh: Fitri A.B.

“Hidup itu bagaikan kereta api, masuklah ke gerbongnya.” (Khaled Hosseini, The Kite Runner)

Medan-Kisaran pada akhirnya menjadi perjalanan rutin saya setiap minggu. Stasiun, bangku tunggu, masinis, para petugas stasiun kereta api dan yang ada di dalam gerbong kerete api, para penumpang denga berbagai macam karakter dan perilakunya, dan AC kereta api yang cukup dingin dan beberapa terkadang mengeluarkan air adalah hal-hal yang perlahan-lahan mengakrabi saya. =D Kalau ditanya perjalanan dengan transportasi apa yang menyenangkan buat saya, maka jawabnya adalah kereta api. Di stasiun dan di dalam gerbong kereta api ada banyak kehidupan yang bisa dinikmati dan dihayati. Bagi saya, stasiun dan gerbong-gerbong kereta api menyimpan begitu banyak diksi yang diam-diam menuntut saya untuk menuliskan apa saja tentang mereka. Romantis? Ya, perjalanan dengan kereta api itu romantis. Jadi ingat dengan film-film yang setting tempatnya di stasiun kereta api. Pemeran utama laki-laki mengejar-ngejar pemeran utama perempuan yang sudah berada di dalam kereta api yang berjalan atau mungkin sekedar mengantar ke stasiun kereta api. Okeh, lupakan bagian ini kita fokus ke yang lain. =D

Yup, tapi terkadang saya lebih sering berada di kondisi writer’s block.  -_- Entah karena lelah atau apa, sekarang kalau sudah di kereta api bawaan saya pengin tidur. Ya, maksud saya, pada perjalanan saya yang sebelumnya jika naik kereta api saya tidak begitu. Padahal sudah direncanakan untuk membaca ini dan itu, googling ini dan itu dan ngetik tulisan di HP android saya. Ini yang jadi perjuangan saya kalau sudah di dalam kereta api. Jadi, kamu doakan saya ya berhasil dalam perjuangan ini. =D

Iya, saya menyadari betul perjalanan Medan-Kisaran yang lebih kurang 4-5 jam itu sayang sekali jika tidak dimanfaatkan. Padahal banyak inspirasi di stasiun dan di dalam kereta api. Padahal ada HP Andorid plus internet yang cukup membantu untuk googling bahan tambahan tulisan dan nge-post langsung di blog. Nikmat Allah mana lagi yang kita dustakan? Tapi harus saya akui, orang-orang yang duduk di sekitar saya saat berada di dalam kereta api cukup mempengaruhi kenyamanan saya untuk melakukan semua rencana terbaik saya itu. Jangan tanya apa lagi yang membuat saya tidak nyaman sebab akan ada banyak alasan yang membuat saya memilih untuk duduk dengan tenang dengan headset di telinga lalu perlahan-lahan tertidur di dalam kereta api. Seharusnya sih duduk dengan tenang dengan headset di telinga sambil membaca atau mengetik. =D

Pssst, adegan ini jangan ditiru sebab saya juga sedang berusaha untuk keluar dari zona nyaman yang begitu. Tidak mau waktu yang dihabiskan dalam perjalanan ini berlalu begitu saja. Semua perjalanan itu menyenangkan. Semua perjalanan itu selalu mengenalkan dan mengakrabkan kita dengan banyak hal. Tidak ada satu orang pun yang sanggup menggerakkan hati kita untuk sebuah kebaikan yang berarti kalau diri kita sendiri tidak mau bergerak untuk melakukannya, begitu kan? Yes, of course. Melakukan perjalanan itu seperti membuka sebuah buku kesukaan lalu membacanya dengan penuh semangat. Lalu ada satu waktu di mana kita harus dan perlu untuk menuliskannya agar perjalanan dan kenangan itu abadi. Agar apa yang kita tuliskan itu menjadi hal bermanfaat untuk yang menuliskannya juga bagi yang membacanya.

Kisaran, 31 Ooktober 2015. Seusai packing menuju Medan. =)

Iklan

Pada Sore yang Singkat

Kutipan


Oleh: Fitri A.B.

“Begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah” (Andrea Hirata, Padang Bulan)

Selepas menunaikan amanah Mamak dan membeli tiket kereta api untuk perjalanan rutin saya setiap minggu, saya melanjutkan langkah ke UIN SU. Menunaikan janji untuk menemui seorang dosen sekaligus seorang teman dan kakak bagi saya. Beliau saya panggil kak Yani. Sudah lama sekali tidak bertemu tapi beliau masih berkenan membawakan oleh-oleh untuk saya dari Filipina. Yes, beliau baru saja kembali dari Filipina mengikuti Management Training. Proud of her, soalnya setelah saya tanya untuk bisa ikut program ini harus lolos seleksi dan beliau ada di peringkat pertama yang berhasil lolos dalam seleksi itu.

Sampai di UIN SU, kami tidak langsung bertemu. Saya menunggu di lobi jurusan sebab beliau sedang mengajar.  Alhamdulillah, selama menunggu saya bertemu dengan beberapa dosen saat S1, terutama dosen Bahasa Inggris.  Senang sekali bahwa ternyata mereka masih ingat nama saya. Selepas bertemu 1 dosen, bertemu dengan dosen yang lainnya. Percakapan pun mengalir begitu saja. Percakapan berisi harapan, doa dan ingatan saat saya masih menjadi mahasiswa mereka. Saya seperti sekarang ini salah satunya juga karena mereka.

Kemudian, saya memilih menunggu kak Yani di luar gedung jurusan. Suara yang tidak asing di telinga saya memanggil dari jarak sekitar 3 meter. Miss Mary, salah satu dosen Bahasa Inggris saya saat S1 memanggil saya. Saya salam tangannya sambil menanyakan kabarnya. Dulu, beliau masih single saat mengajar kami dan sangat akrab dengan kami, saya yakin dengan mahasiswa di kelas lain pun begitu. Percakapan kami pun berisi ingatan masa lalu, harapan dan doa. Bertemu dengan orang-orang di masa lalu selalu mengantar hikmah yang banyak, apalagi jika orang tersebut adalah orang yang kita senangi dan kagumi.

Kak Yani datang sebelum percakapan saya dan Miss Mary selesai. Rupanya kak Yani dan Miss Mary juga cukup dekat. Beberapa menit lamanya saya, Miss Mary dan kak Yani bercakap-cakap. Percakapan dan pertemuan tadi seakan-akan percakapan dan pertemuan yang pernah begitu dirindukan. Lagi, percakapan kami masih tentang ingatan masa lalu, harapan dan doa. Beberapa jam berada di UIN SU ternyata mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dan memberikan saya banyak hikmah.

Akhir percakapan kak Yani izin shalat Ashar dan Miss Mary pulang. Saya menunggu kak Yani di taman dekat gedung jurusan sambil membaca buku. Sesekali pandangan saya, saya layangkan ke beberapa sudut kampus. Kampus ini sudah mengalami banyak perubahan tapi semua kenangan sepanjang berkuliah tak satu pun yang ikut berubah. Mereka lekat, abadi dan mengikuti panjang asa saya.

Ah ya, kadang kebaikan dan kebahagiaan itu tidak harus berbentuk materi. Orang-orang baik yang hadir di sekitar kita juga sebentuk kebaikan dan kebahagiaan yang perlu disyukuri. Sebab itu saya bersyukur sudah Allah pertemukan dengan orang-orang baik di sepanjang hidup saya. Mereka hadir tanpa pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya, tapi mereka hadir di atas skenario Allah. Kita yakin saja, pada setiap pertemuan dan silaturrahim yang terjalin selalu punya makna.

Seperti pertemuan dan percakapan yang terjadi di antara saya dan Kak Yani. Pertemuan kami sangat singkat tapi tiap percakapan yang terjadi menyisakan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik sampai saya menuliskan ini. Banyak hal kami bincangkan seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Mulai dari kabar, pekerjaan, hobi, perjalanan yang sudah dilakukan akhir-akhir ini dan juga “petualangan” mencari dan menanti jodoh. =D

“Mereka yang sudah menikah dengan yang belum menikah,” kata Kak Yani mengulang perkataan teman lamanya, “punya kesempatan yang sama untuk berbuat baik.” Kalimat ini dalam sekali, bukan? Ampuh untuk menghibur hati para jomblo yang sedang galau menunggu atau mencari jodoh. Belum menikah tak boleh menghambat semangat kita untuk terus berbuat baik. Bukankah Allah membalas tiap kebaikan walau besarnya hanya seukuran biji Sawi? Bisa jadi Allah akan membalas kebaikan itu dalam bentuk jodoh yang selama ini kita tunggu. Biar Allah saja yang menentukan waktunya. Biar Dia saja yang mengatur bagaimana pertemuan itu. Kita berbuat baik saja, perbanyak doa dan silaturrahim.

Di balik semua yang terjadi di dunia ini memiliki hati yang peka adalah salah satu hal yang penting. Hati yang peka memudahkan kita untuk mengambil hikmah untuk setiap hal yang terjadi di hidup kita. Hati yang peka selalu bersyukur untuk setiap kebaikan atau apapun yang terjadi di hidupnya. Mengerti bahwa berterima kasih pada orang lain juga sebentuk rasa syukur pada Allah sebab sudah menjadikan orang tersebut sebagai perantara yang membawa kebaikan atau pertolongan baginya. Hati yang peka pada akhirnya dengan penuh sadar mengatakan, “Allah, biarpun Kau belum memberikan purnama itu, tapi aku bersyukur sebab Kau sudah  menghadirkan bintang-bintang yang bersinar di sekitar hamba.”

Bagi yang belum mendapatkan jodoh, anggap saja purnama itu adalah jodoh. Bagi yang menginginkan pekerjaan yang baik dan berkah, anggap saja purnama itu adalah pekerjaan itu. Anggap saja purnama itu adalah keinginan terbesar di hidup kita yang sampai saat ini belum juga kita dapatkan. Bintang-bintang itu tentu saja kebaikan yang tak habis-habisnya Allah beri pada kita. Mari bersabar dengan sebaik-baik sabar. =)

My bedroom, 28 Oktober 2015

#Selamat Hari Blogger Nasional dan Sumpah Pemuda. Saya bangga jadi pemuda sekaligus blogger. =) Kak Yani, segera buat blog ya. Terima kasih banyak oleh-oleh Filipina-nya. Jazakillah. Semoga murah rezeki dan segera dipertemukan Allah dengan jodoh terbaik. ^_^