Perjalanan Menulisku #1


 Ole: Fitri A.B.

“Menulis itu menuliskan kembali apa yang kau baca….”

Entah bagaimana mulanya aku jatuh cinta dengan tulis-menulis. Barangkali cinta adakalanya seperti ini. Sampai hari ini yang pasti aku begitu menikmati perjalanan cinta ini. Cinta yang membuatku ada dan akan  tetap abadi. Sampai nanti.

Kiranya ini bermula dari aku yang sudah bisa dan senang membaca sejak belum masuk sekolah dasar dan begitu bersemangat masuk sekolah dasar. Seperti yang  Ayah dan Mamak bilang. Dulu tak ada TK atau sekolah yang sejenis. Perempuan kecil yang suka memandangi anak-anak berseragam sekolah yang lewat di halaman rumahnya dulu adalah aku.

Waktu berjalan sambil membiarkan beberapa perjalananku menjadi ingatan yang kukenang di waktu-waktu yang tak tentu. Aku tak begitu ingat segila apa aku membaca buku saat SD dulu. Aku hanya ingat saat-saat aku begitu suka membaca hingga hapal iklan di pinggir jalan dari dalam angkot yang kunaiki. Kemana pun aku pergi, iklan atau pamplet yang ada di pinggir jalan habis kubaca. Aku suka membaca potongan-potongan koran atau majalah yang dijadikan pembungkus cabe atau bawang belanjaan Mamak. Aku senang mendengarkan lagu dari radio kesayangan Ayah, kemudian menuliskan bait demi bait lagu itu ke dalam sebuah buku tulis. Hingga akhirnya di kelas 4 SD aku mulai menulis surat untuk sahabat pena dengan bimbingan dari Mamak. Mamak juga yang ketika itu mengajarkanku bagaimana membuat tandatanganku.

Masa Tsanawiyahku berbanding terbalik dengan masa Aliyahku. Saat Tsanawiyah aku tidak suka dengan pelajaran bahasa Indonesia, apalagi jika topik yang dibahas tentang puisi. Topik yang ribet dan menguras pikiran. Walaupun begitu, aku sanggup dan senang mengarang sendiri pidato yang kutulis dalam rangka seleksi pembawa pidato saat perpisahan kelas 3 Tsanawiyah. Pidato berbahasa Inggris. Yes, I translated it my self. Jadi ceritanya, English is one of my favorite study since SD.

Saat Aliyah, aku malah sangat dekat dengan dunia puisi. Tulisan pertamaku yang muncul di media massa adalah puisi. Di sekolah, aku lebih sering ikut lomba baca atau tulis puisi. Di beberapa acara sekolah atau luar sekolah, puisiku sering diminta untuk dibacakan sebagai salah satu agenda acara. Ah ya, saat mengikuti ajang pemilihan Putri Inteligensia se-Sumut dan Aceh oleh Surat Kabar Waspada tahun 2005, aku juga berkesempatan menunjukan kebolehanku membacakan puisi yang kutulis sendiri di hadapan para juri. Maka di Aliyah-lah aku baru benar-benar menyadari kalau passionku adalah menulis.

Dengan segala keterbatasan yang ada di masa-masa Aliyah ada begitu banyak hambatan yang kualami untuk mengembangkan passionku ini. Hari ini, meski aku masih belum sesukses penulis-penulis papan atas, setiap kali aku mengingat masa-masa sulit itu, aku bangga dan bersyukur atas semua itu. Hambatan dan kesulitan itu yang membuatku ada dan bisa seperti sekarang ini. Memang sudah formulanya ya, untuk mencapai kesuksesan atau cita-cita kita harus kuat, sabar dan ikhlas melewati masa-masa sulit di hidup kita.

Saat itu aku kelas 2 Aliyah. Lagi semangat-semangatnya berorganisasi dan menulis. Ketika ada acara di stadion sepak bola UNIMED, aku menemukan flyer info lomba menulis puisi. Aku mengikuti lomba itu dan mengantarkan naskah puisiku ke alamat yang diminta panitia. Waktu itu belum nge-tren memakai e-mail untuk hal-hal semacam ini.

Berbekal semangat dan uang jajan yang aku alokasikan untuk ngetik dan nge-print naskah ke rental dekat sekolah, naskah pun kuantar. Aku meminta kesediaan salah satu sahabatku untuk menemaniku mengantarkan naskah itu. Reni namanya. Aku sama sekali gak tau dimana pastinya tempat pengiriman naskah itu, Reni pun begitu. Tapi berdua kukira lebih baik dan aman.

Perjalanan mencari alamat itu pun kami mulai. Ternyata lokasinya ada di balik-balik gedung Kesawan, sekitar lapangan merdeka atau stasiun kereta api Medan. Lelah sekali perjalanan itu kalau kuingat. Tak ada angkot yang masuk ke dalam. Ya, kami akhirnya berjalan kaki menyusuri sudut demi sudut jalan itu.

Setelah tanya sana sini, kami pun sampai. Sahabatku, diam-diam kuamati terlihat lelah. Memasuki ruang panitia seorang perempuan memberitahukan kalau penerimaan naskah sudah berakhir. Saat itu, sakitnya tuh di sini. Tidak bisa protes walau di flyer tertera penerimaan naskah masih ada beberapa hari lagi. Aku kecewa sekali ketika itu.

Reni menyemangatiku. Perasaanku campur aduk jadinya. Campur aduk dengan perasaan gak enak dengan Reni sebab sudah berjalan sejauh itu, tapi tak menghasilkan apa-apa. Tahu kah, ternyata tempat kami mengirim naskah gak jauh dari kantor surat kabar Waspada. Itu artinya,  kami sudah terlalu jauh berjalan. =D

I called this as one of unforgetable moment. Akan selalu ingat kebaikan Reni dan mendoakan banyak kebaikan untuknya. Sudah lama kami tak jumpa. Rindu.

Akan banyak berkisah seputar masa Aliyah. Karena di masa inilah aku menemukan dan mengalami banyak hal-hal baik dan bermanfaat. Hijrah ku pun bermula di masa ini. Di Aliyah, kecintaanku pada buku semakin nyata. Sampai-sampai aku rela cicil buku ke teman sekolahku yang jualan buku. Uang cicil buku itu ada dari uang jajan yang kusisihkan. Buku pertama yang kubeli dengan hasil nyicil Adakah Pacaran dalam Islam? dan Gue Never Die (Salim A.Fillah). Selain nyicil buku, aku selalu berupaya untuk bisa berlangganan majalah Annida sebulan sekali. Rela ngantri baca buku teman yang judulnya kebetulan booming saat itu. Mau tahu judulnya apa? =D Nikah Dini Keren karya Haikal Siregar. Reni satu-satunya orang yang punya buku itu ketika itu. Meski kami tidak sekelas, tapi buku itu sudah lintas kelas. Ajaib, habis baca buku itu, jadi pengin kayak Bang Haikal saat kuliah. #eh =D

Bersambung….

11 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s