Komunikasi yang Menyenangkan dalam Keluarga


(Short Review: Komunikasi yang Menyenangkan dalam Keluarga oleh Elly Risman) Oleh: Fitri A.B. ibuDi suatu siang, saya iseng buka TV. Berkelana lewat remote control TV dari satu stasiun TV ke stasiun TV yang lain. Sempat terpana dengan sinetron yang selalu berlebihan menguras emosi. Syukurnya saya hanya terpana sesaat. Saya jenuh dan pindah program. Akhirnya saya landing di program Coffe Break TV One. Bukan sekali dua kali saya menonton acara ini, tapi kali ini narasumber yang dihadirkan sangat waw dan tidak asing bagi saya. Yup, nama beliau ada di judul tulisan ini. Elly Risman, seorang psikolog, tapi menurut saya beliau adalah master psikolog kebanggaan negeri ini. Komunikasi dalam keluarga tentu saja hal yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Topik tersebut sangat direkomendasikan untuk siapa saja yang sudah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga, seperti saya. =D Hitung-hitung sebagai pembelajaran dan persiapan sebelum berkeluarga, benar tidak? Okeh, kembali ke topik tulisan ini. ^^v Anda yang membaca short review ini barangkali ada yang mengikuti program ini dari awal sekali sampai akhir. Sebab itu, jika berkenan sila ditambahi yang kurang di kolom komentar tulisan ini untuk melengkapi tulisan sederhana ini. Saya tertinggal beberapa sesi di awal soalnya. =D Saya tulis short review ini dalam bentuk point per point ya. Check this out!

  • Cara seorang ibu berbicara pada anak laki-laki baiknya sama seperti ketika berbicara dengan Ayah si anak (suami si Ibu). Bicara dengan to the point. Dalam sekali ucap tidak lebih dari 15 kata. Misalnya ketika orangtua menghimbau anak untuk menonton TV selepas mandi dan sholat. Orang tua cukup mengatakan: “Nak, kamu mandi dulu ya. Setelah itu sholat. Selesai sholat kamu boleh menonton TV.” Hal ini disebabkan anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dalam memahami banyak hal yang ada di sekitarnya. Maka pada anak perempuan adalah sebaliknya.
  • Berkomunikasi atau berbicara yang baik-baik adalah anjuran dalam Islam. Misalnya dalam Q.S. Al-Isra’: 53, “Dan katakanlah kepada hamba-hambak-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)….” Kita dianjurkan untuk berkata baik pada siapa saja. Orangtua terhadap anak-anaknya atau anak terhadap orangtuanya, misalnya. Dalam keluarga, selain memiliki kesadaran untuk berbicara baik, kesadaran bahwa anak adalah amanah dari Allah juga perlu dimiliki. Dalam hal ini, Elly Risman memberikan sebuah perbandingan atau contoh yang menarik. Beliau mengatakan, misalnya Pangeran Charles dengan banyak pengawalnya datang menitipkan anaknya untuk kita jaga, tentu saja kita akan sangat menjaga anak itu. Tidak akan membiarkan anak tersebut terluka atau kekurangan apapun dan mengupayakan yang terbaik. Sebab jika tidak, Pangeran Charles dan para pengawalnya bisa saja akan meminta pertanggungjawaban kita. Lalu, ketika yang menitipkan anak kepada kita adalah Allah, raja dari seluruh raja, kenapa kita tega menyia-nyiakannya? Sementara pengawal Allah (baca: malaikat Allah) ada di mana-mana dan dekat dengan kita. Bukankah Allah akan meminta pertanggungjawaban kita nanti?
  • Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika berkomunikasi adalah pertama, miliki kesadaran bahwa anak adalah titipan dan amanah dari Allah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Kedua, perhatikan apakah anak yang kita ajak komunikasi laki-laki atau perempuan. Penjabaran ini kembali ke point pertama di atas ya. Ketiga, perhatikan usia anak yang berkomunikasi dengan kita. Anak perempuan dan laki-laki secara umum mengalami perkembangan pola pikir dan tingkah laku sesuai usia mereka. Jangan berbicara seperti berbicara kepada anak TK di saat anak Anda sudah mencapai usia dewasa. Keempat, perhatikan juga tingkat kecerdasan si anak. Anak yang memang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi akan membutuhkan banyak jawaban dari kita ketika mereka menyampaikan sebuah pertanyaan. Kelima, perhatikan apakah si anak seorang yang introvert atau ekstrovert dan lain sebagainya.
  • Tips berbicara dengan anak TK: Ucapkan kalimat yang pendek seperti adanya mereka berbicara dan adakan eye contact dengan posisi mata kita sejajar dengan posisi mata kita. Agar mata kita bisa sejajar dengan mata kita, disarankan agar kita berjongkok, bukan membungkuk.
  • Untuk memulai berbicara pada anak, entah itu untuk menasehati, mulailah dengan kalimat pertanyaan atau mengajak sebagai tanda penghargaan pada anak. Pada saat kita bertanya, anak akan berpikir tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Sebelum memikirkan jawabannya, anak akan melihat atau memperhatikan dirinya untuk menyempurnakan jawabannya. Misalnya si Ibu bertanya pada anak perempuannya yang beranjak remaja: “Nak, kenapa hari ini pakai baju warna biru?” Pertanyaan ini akan memancing si anak untuk menjawab pertanyaan tersebut apa adanya tanpa merasa sedang diremehkan atau merasakan hal-hal negatif. Bisa saja si anak memiliki jawaban-jawaban logis, baik dan menarik yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Berbeda halnya ketika si Ibu mengatakan begini: “Nak, lebih baik tidak usah pakai biru tapi pakai yang kuning saja.” Bukankah kalimat ini terkesan menekan dan memaksa?
  • Cara mudah untuk meredakan amarah, khususnya amarah terhadap anak adalah tersenyum sesegera mungkin. Apalagi setelah mereka meminta maaf. Tersenyum dapat merangsang keluarnya Endorphin dan Serotonin. Endorphin adalah pereda rasa sakit secara alami dan Serotonin adalah hormon yang mengendalikan mood seseorang.
  • 3 kunci mengasuh anak ala Elly Risman yaitu, maafkan kesalahan-kesalahan anak, jangan mudah marah pada anak dan minta ampunkan kepada Allah kesalahan yang dilakukan anak terhadap kita sebagai orangtuanya agar anak dapat menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan dan keberkahan dari Allah.
  • Perkembangan teknologi mempengaruhi cara berkomunikasi orangtua terhadap anak. Orangtua harus selalu ada dalam dunia anak mereka. Tidak jarang kita menemukan anak yang tetap asyik dengan gadgetnya sementara orangtua mereka sedang berbicara pada mereka. Dalam hal ini orangtua perlu tegas dan tetap memegang kendali anak agar anak paham bagaimana seharusnya.
  • Berbicara pada anak laki-laki butuh kesabaran yang luar biasa pada saat mereka sedang asyik dengan sesuatu yang ada di dekat mereka. Misalnya ketika Ibu sedang memanggil anak laki-lakinya yang sedang menonton TV. Biasanya Ibu perlu berkali-kali untuk memanggil anak tersebut. Hal tersebut bukan karena si Anak mengalami gangguan pendengaran, tetapi karena ia sedang fokus pada yang sedang ia lakukan sehingga pendengarannya menurun. Saya teringat dengan hasil penelitian Dr. Rober Groski, ahli neurologi dari Universitas California, Los Angeles yang pernah diulas oleh Dr. Wahyu Triasmara bahwa corpus collosum pada otak perempuan lebih tebal daripada laki-laki sehingga perempuan mampu mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak saling berhubungan dalam satu waktu (multitasking).

Saya selalu terharu dan takjub setiap kali Ibu Elly Risman menyampaikan ilmunya. Sosok perempuan cerdas tapi tetap religius. Setahun yang lalu saya tidak sengaja hadir dalam sebuah seminar parenting dan pendidikan yang salah satu pembicaranya adalah beliau di salah satu hotel di Medan. Niat utama bukanlah hadir di acara itu karena memang sebelumnya tidak tahu info seminar tersebut. Saya ke hotel tersebut hanya untuk mendapatkan bimbingan terakhir dan tanda tangan ACC dari dosen penguji untuk tesis saya supaya bisa daftar sidang segera. Di acara itu dosen penguji tesis saya merupakan moderatornya. Allah mempertemukan kami dengan cara seperti itu. Semangat beliau menyampaikan banyak ilmu dan kebenaran mengalahkan usianya yang tak lagi muda. Jadi bertanya pada diri sendiri, saya sudah berbuat apa untuk kebaikan dan kemajuan negeri ini? Saya punya apa yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan banyak orang? In My Bedroom, 20 Juli 2015 (sambil nyiapin kejutan untuk ulang tahun Mamak.^^v)

Iklan

3 thoughts on “Komunikasi yang Menyenangkan dalam Keluarga

  1. Nice post. Berkomunikasi dengan anak² memang selalu menjadi tantangan bagi saya. Tantangannya ya itu, mengendalikan diri agar bisa melakukannya dengan baik. Tidak jarang saya menjalankannya dengan payah hingga membuat anak² yang terlibat obrolan dengan saya menjadi terlihat tidak nyaman. Kebanyakan tidak sengaja saya lakukan itu. Dan kerap membuat saya menyesal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s