Berawal dari Perahu Kertas, Bertemu di Dee’s Coaching Clinic


Oleh: Fitri A.B.            

“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) 

1Sssst, satu hal yang harus kuberitahu dan ini yang sebenarnya. Satu-satunya novel Mbak Dee yang kulahap habis cuma Perahu Kertas. Tapi ada hal lain yang harus kuberitahu dan ini juga yang sebenarnya. Perahu Kertas yang bikin aku yakin kalau Mbak Dee itu bukan sembarang penulis. Of course, datanglah keinginan untuk bisa menulis sehebat beliau.

Berawal dari Perahu Kertas, aku pun googling sana sini soal profil beliau dan sepak terjang beliau. Aku pun tersadar kalau beliau adalah Dewi Lestari yang ada di grup vokal RSD. Bukan cuma penulis dan penyanyi, beliau juga pencipta lagu. Keren kan? =) Yup, seperti yang beliau katakan saat di momen Dee’s Coaching Clinic (DCC), beliau dulu sempat nge-fans dengan karya-karya Sapardi Djoko Damono sehingga beliau pun tidak memungkiri kalau karya-karya beliau di awal romantis ala SDD. Tidak bisa dipungkiri, kita adalah apa yang kita baca. (Mbak Dee, saya juga penyuka karya-karya Prof. SDD. ^^v)

Berawal dari Perahu Kertas, aku pun rajin buka Good Reads untuk cari potongan-potongan quote Mbak Dee. Bermunculanlah quotes beliau dari semua buku yang beliau tulis. Akhirnya, aku pun jatuh cinta dan penasaran dengan karya beliau yang judulnya Filosofi Kopi. Tapi begitu pun sampai sekarang, aku belum baca buku itu. Hanya potongan-potoganan quotenya. -_- But, target buku yang akan dibeli selanjutnya adalah buku itu. Penasaran aku dengan isinya. Berawal dari Perahu Kertas, aku yakin ada banyak ilmu kepenulisan keren yang Mbak Dee punya dan suatu hari, pasti ada masa di mana aku bisa ada di forum kepenulisan yang pembicaranya adalah beliau. Itu yang kupikirkan selepas membaca Perahu Kertas. =)  

Antara Aku dan Gelombang Keadilan

Gak sengaja lihat postingan seorang teman di FB tentang DCC. Siapa saja bisa ikut DCC dengan syarat mereview Gelombang Keadilan (GK)-nya Mbak Dee. Ok, aku pun menyiapkan strategi dan target. Aku harus ada di momen itu, begitu azzamku ketika itu. Kapan lagi bisa ketemu salah satu penulis hebat itu? Walaupun harus melewati rintangan itu (baca: mereview GK =D ), aku akan sanggupi. Akhirnya GK kubeli via Ririn. Halaman demi halaman kubaca dan terhenti di halaman puluhan. Terbaca olehku postingan si Nurul yang isinya bilang kalau Gelombang Keadilan ini novel berseri. Jadi kalau mau nyambung, ya harus baca Supernova seri yang sebelumnya. =D

Jadi ceritanya di Forum Lingkar Pena (FLP) Sumut ada beberapa orang yang ikut event ini juga, termasuk Nurul dan Ririn. Deadline reviewnya makin lama terasa makin dekat pula, gak bisa semakin jauh. Well, kali ini aku terpaksa nyerah. Melepaskan sesuatu yang kita inginkan dengan ikhlas itu memang berat ya, termasuk melepaskan dan mengikhlaskan kamu, #eh =D . Mbak Dee, kita belum berjodoh kali ini. Semoga ada momen lain yang mempertemukan kita. Semoga. Itu kataku, ketika itu.

Di sisi lain, aku haru dan terheran-heran. Di FLP Sumut ada beberapa orang yang ngikutin jalan cerita novel Supernova Mbak Dee itu. My God, “segila” itu ternyata mereka. Di banding Perahu Kertas, novel Supernova termasuk buku yang bukan genreku sebenarnya. Tapi setelah googling sana sini lagi, Supernova-nya Mbak Dee itu bagiku termasuk novel yang proses kreatif penulisannya luar biasa. Saat DCC itu terbukti. Mbak Dee memaparkan proses kreatif penulisan Supernova itu hingga Gelombang Keadilan. Gak nyangka aku sebegitunya proses kreatifnya.

Seperti Ini Skenario Allah Itu…

Cek info di grup FLP Sumut on BBM. Ada kiriman dari Putri. Biasanya aku itu lama baru cek info di grup bbm, entah kenapa hari itu, begitu dengar notifikasi langsung kubuka. What? Ternyata masih ada peluang untuk ikut acara DCC. Beberapa komunitas menulis di Medan, dapat kuota 5 orang per komunitas untuk ikut acara ini tanpa syarat.

Karena kita ada banyak di FLP Sumut, Putri bikin inisiatif yang komen tercepatlah yang berhak ikut. Komennya berupa nama lengkap dan alamat email masing-masing. Deg-degan juga aku nunggu info terupdate dari Putri siapa saja yang berhak ikut. Karena ternyata di Grup Rumcay FB, ada info soal itu juga. Tapi kalau memang namanya sudah berjodoh, seberliku apapun jalannya, pasti akan tetap berjodoh #kenapa kalimat ini terasa dalem? =D. Ya, aku termasuk 5 orang yang beruntung itu. Mbak Dee, See You… =)

Lain aku, lain pula jalan Nurul, Tiwi, Iyik dan Intan untuk bisa dapat kursi panas di momen DCC ini. Nurul dan Tiwi jalannya dari Emak-Emak Bloger Medan, sedangkan Iyik dan Intan dari event review GK yang mereka ikuti. Aih, masing-masing punya rasa bahagia yang sama walau pencapaiannya dengan jalan yang tak sama.

DCC, It’s Wow

4 Sabtu malam aku nginap di rumah umak tobang (kakak kandung Mamak) karena nenek masih di sana sejak kembali umroh. Selagi masih di Medan, berkunjung ke sana sering-sering memang sudah seharusnya. Tak ada niat untuk nginap kali itu karena hari Minggu ada beberapa hal yang harus tunai termasuk datang di acara DCC. Tak ada bawa pakaian ganti akhirnya membuatku harus pulang ke rumah pagi-pagi sekali. Berharap bisa sampai di acara DCC tepat waktu dan gak ketinggalan apapun dari semua yang disampaikan Mbak Dee. 3

Yeah, aku sudah berusaha tapi ya itu, sampai di Hotel Santika Dyandra, tempat acara DCC agak telat. Syukurnya belum banyak yang beliau sampaikan. Ok, aku duduk dan mulai fokus ke Mbak Dee. But wait, kenyataan aku ada di DCC, momen yang gak semua orang bisa ada di sana, duduk sejajar dengan posisi Mbak Dee berdiri, bikin aku kesenangan bukan main dalam hati sehingga agak-agak belum fokus di awal-awal. Guys, mimpiku menjadi nyata.^^v Setelah memperhatikan orang-orang yang hadir dan menarik nafas tanda kefokusan akan dimulai, aku pun benar-benar fokus #maaf agak lebay =D. Penasaran apa saja yang disampaikan beliau di momen DCC itu kan? =)

  • Menulis itu gak bisa lepas dari yang namanya ide. Cari ide semenarik mungkin dan gak usah mengikuti maunya penerbit. Personifikasikan ide yang kita punya agar ia hidup dan ada kemana pun kita pergi. Konkretkan yang abstrak. Jadi, kapan akan kita pakai ide itu selalu siap sedia.
  • Angle/ sudut pandang. Sudut pandang/ camera penulis itu harus selalu zoom dan in agar cerita yang dituliskan menjadi nikmat ketika dibaca.
  • Prolog dan pembuka dalam novel. Prolog itu berbeda dengan kalimat pembuka. Mbak Dee termasuk yang tidak suka dan tidak menulis dengan prolog. Tapi kalimat pembuka menurut Mbak Dee sangat menentukan apakah pembaca akan membaca cerita kita sampai selesai. So, buatlah pembuka yang menarik.
  • Penting, ini penting sekali. Penulis memang harus punya dan bisa bersahabat dengan deadline. Ini juga akan berhubungan dengan kuantifikasi kepenulisan kita. Misalnya, berapa jam yang kita gunakan untuk menulis, berapa halaman dalam jam tersebut yang harus kita tuliskan dan berapa lama tulisan itu harus selesai. Kita juga perlu menentukan kapan waktu efektif menulis kita. Mbak Dee sendiri waktu efektif untuk menulis sehabis shubuh, kamu? =)
  • Ciptakan tokoh-tokoh dengan kebiasaan-kebiasaan yang unik dan khas. Seperti Kuggy dalam Perahu Kertas yang suka dengan kura-kura ninja dan identik dengan perahu kertas. Apalagi yang kamu ingat soal Kuggy? =) Eh, aku jadi ingat dengan karakter Coi In Ha dalam film Korea Pinocchio yang suka berdiri terbalik sambil bersandar di dinding (kepala di bawah dan kaki di atas) setiap kali ia cemas dan bingung dan ibunya dalam film itu yang suka sekali memainkan ujung pulpen yang ada di tangannya setiap kali cemas dan bingung pula. Benar saja, karakter mereka begitu melekat di kepala saya sampai sekarang.
  • Setiap bab dalam novel akhiri dengan sebuah tanda tanya di kepala pembaca. Bisa dibilang ini pengantar pembaca untuk menuntaskan rasa penasaran mereka dari bab ke bab dalam sebuah novel. Kalimat demi kalimat dalam tiap bab baiknya mengandung pola “sebab-akibat” agar mengalir.
  • Karya Fiksi yang bagus ada realita dan fiksinya. Jadi, antara realita dan fiksi di match/ ditubrukkan.
  • Humor dalam sebuah cerita. Pastikan penulis sendiri juga tertawa dengan humor yang ia buat. Dengan begitu, pembaca juga pasti akan tertawa. Kalau tidak tertawa, minimal dia senyum-senyum sendiri. =D
  • Riset untuk keperluan sebuah tulisan bisa didapatkan dari perpustakaan, buku, internet, artikel, berita, wawancara dan observasi langsung. Untuk Supernova, salah satu narasumber Mbak Dee adalah ayahnya sendiri yang asli orang Batak. Ketika wawancara, tips yang diberikan Mbak Dee adalah dilakukan secara mendalam dan detail agar ceritanya hidup. Sekali lagi, cameranya harus zoom dan in.
  • Cerita yang menarik ada tubrukan antara yang “terlihat” dengan karakter yang sebenarnya. Menurutku, ini bisa menjadi salah satu sumber konflik dalam cerita yang kita buat. Mbak Dee sendiri bilang, sesuatu yang kontras bisa menjadi sumber konflik dalam cerita.
  • Beberapa teknik menyusun cerita ala Mbak Dee. Pertama, kita perlu membuat skema kronologi ceritanya dari awal sampai akhir cerita. Hal ini yang beliau terapkan dalam menulis Akar (2002). Kedua, karakter dan mind map karakter setiap tokoh yang ada dalam cerita kita. Termasuk soal, si tokoh yang A misalnya bakal punya konflik dengan tokoh yang mana. Bisa dibuat dalam bentuk skema juga. Ini diaplikasikan Mbak Dee dalam Petir (2012). Ketiga, ini teknik yang dipakai Mbak Dee untuk novel terbarunya yang akan segera lahir. Drama tiga babak namanya. 2Untuk teknik yang satu ini kita perlu 4 kajang karton dengan warna yang berbeda-beda dan stick note. Karton tersebut masing-masing diberi judul dengan 1, 2A, 2B, dan 3. Bab I memuat soal pengenalan terhadap para tokoh dan “calon” konflik yang akan terjawab satu per satu di bab-bab berikutnya. Di bagian 2A, pembaca bisa menemukan pertanyaan dan jawaban-jawaban baru. Semua pertanyaan-pertanyaan yang ada harus sudah terjawab di bagian 2B. Nah, di bagian 3 adalah bagian untuk closing cerita. Tidak perlu panjang-panjang.
  • Stimulasi berpikir kreatif Mbak Dee berawal dari kesukaan terhadap karya SDD dan kesukaan memandang langit. Ini termasuk latar belakang lahirnya Filosofi Kopi. Ketika memandang segala hal menurut Mbak Dee, pandanglah dengan sudut pandang seorang penulis. Don’t tell but show.
  • Keinginan menulis seorang Mbak Dee bermula dari keinginannya untuk menulis buku yang ingin ia baca.
  • Ide Supernova berawal dari teori hexagonal. Setelah aku googling aku menemukan fakta bahwa teori hexagonal berhubungan dengan kekuasaan Allah tentang lebah yang mendesain sarangnya berbentuk hexagonal. Arti hexagonal adalah bangun yang terbentuk atas 6 sisi dan masing sisinya mempunyai sudut 60 derajat. Para ahli Matematika menyimpulkan cara terbaik membangun gudang simpanan dengan kapasitas terbesar dan menggunakan bahan bangunan sesedikit mungkin adalah dengan membuat dinding berbentuk heksagonal.

7 Medan beruntung menjadi salah satu kota tempat terlaksananya DCC ini. Mbak Dee sendiri berharap dan meyakini ada penulis hebat yang akan lahir dari Medan. Sebagai orang yang memiliki darah Batak, beliau merasa punya tanggungjawab untuk memberikan sumbangsih untuk Medan. Seperti yang beliau katakan, beliau akan senang jika ada yang suatu saat nanti berhasil menjadi penulis sukses dan salah satu sebabnya adalah efek kegiatan DCC ini.

At least, aku suka gaya bertutur Mbak Dee sepanjang DCC. Selain penulis yang hebat, kusebut beliau sebagai trainer kepenulisan yang hebat pula. Banyak kan penulis hebat tapi tidak handal soal mengeksplorasi ilmunya ke orang lain. Beliau juga tidak sungkan untuk berbagi rahasia menulisnya. DCC kemarin udah serupa acara workshop kepenulisan yang full time kurasa. Keren, sangat keren. Thank you so much Mbak Dee and Bentang Pustaka. =) 5