Kita, Kak Aida MA, Novel dan Terapi Menulis


writeOleh: Fitri A.B.

 

Bermula dari obrolan di BBM. Kak Aida MA mengabarkan kalau beliau akan ke Medan untuk beberapa agenda kepenulisan tanggal 15-17 Juni 2014, Minggu-Selasa. Yup, ini kabar baik pikirku ketika itu. Kalau beliau jadi ke Medan, kesampaian-lah harapan saya untuk ketemu beliau. Soalnya selama ini tau beliau cuma dari media sosial dan sesekali berkomunikasi. Saya tahu, tidak cuma saya yang pengin ketemu beliau dan itu terbukti ketika beliau benar-benar jadi datang ke Medan.

Singkat cerita, Kak Aida  yang dengan senang hati mau meluangkan waktu untuk main  dan berbagi ilmu ke FLP Sumut pun akhirnya tiba di Medan. Kami janjian di sebuah hotel ketika itu. Setelah sebelumnya berkomunikasi dengan pihak Erlangga, akhirnya perjalanan kak Aida  selama di Medan pun turut “dikawal” oleh penerbit tersebut. 😀

Di rumcay, sudah banyak FLPers Sumut yang kumpul. Tuh kan, banyak yang juga nunggu pertemuan dengan kak Aida. Sesekali, saya menghubungi salah satu di antara mereka apakah kondisi di rumcay aman terkendali. Sssst, tamu spesial kan mau datang ceritanya. ^^v

Perjalanan dari hotel menuju rumcay pun dimulai. Kita naik mobilnya Pak Sahala (Erlangga). Ketika itu, Pak Sahala turut membawa istri dan satu orang anaknya, Kak Aida dengan partnernya, sedangkan saya dengan Putri. Berhubung saya yang jadi penunjuk jalan, Putri balik ke rumcay dengan kereta yang kami pakai dari rumcay menuju hotel. (Putri, thank you dek, sudah mau melewati kemacetan dan panas yang wow ketika itu. ^^v)

 

Cerita dari dalam Mobil

Flash back sedikit ya tentang siapa sih sebenarnya kak Aida . Dimulai dari yang saya tahu dulu. Beliau seorang istri dan ibu dari seorang anak perempuan. Kelahiran Aceh dan berdomisili di Jakarta. Menulis banyak buku, termasuk Sunset in Weh Island dan The Mocca Eyes. Buku terbaru beliau adalah ya Rabb Aku Galau dan kabar paling fresh dari kak Aida adalah sebentar lagi novel beliau tentang Sunset in Weh Island bakal difilmkan.  Selebihnya bisa kenal lebih dekat dengan beliau lewat blognya di http://aida-ma.blogspot.com/ .

Next, tentu saja obrolan di dalam mobil yang paling utama adalah rute perjalanan menuju rumcay. Tapi yang tidak kalah penting adalah tentang penerbitan buku. Dari cerita kak Aida dan Pak Sahala semakin menguatkan kalau menerbitkan buku perlu diawali dengan silaturrahim dengan pihak penerbit dan editor bukunya. Selain itu, marketing buku juga adalah tugasnya si penulis, bukan cuma tugasnya pihak marketing (penerbit) buku. Penulis harus ikut “bergerak” memasarkan buku tersebut.

 

Cerita dari Rumcay-FLP Sumut

Sampailah kami di Rumcay. Semua wajah berseri-seri menyambut kak Aida . Gak sabar pengin segera ngobrol dan diskusi dengan kak Aida . Walaupun tidak semua pengurus dan anggota FLP Sumut hadir tapi hari itu rumcay penuh. Alhamdulillah. =)

Pertemuan ketika itu dibuka oleh saya. Selain diisi oleh kak Aida, Pak Sahala pun turut dalam diskusi ketika itu. Ok, pasti sudah tidak sabarkan pengin tahu point penting dari diskusi ketika itu. Oh ya, sesuai request materi diskusi ketika itu tentang Novel. Ini dia beberapa kesimpulannya:

  1. Menulis novel dimulai dari premis >> synopsis >> mendesain cerita >> menciptakan konflik >> setting (tempat-waktu)
  2. Novel harus punya premis (masalah)
  3. Menggambarkan karakter tokoh dalam novel bisa melalui dialog
  4. Konflik utama/ klimaks dalam sebuah novel upayakan ada di 2 bab sebelum akhir.
  5. Kita bisa menguatkan “setting” cerita kita melalui informasi dari TV atau internet.
  6. Setting dalam sebuah novel dan buku travelling berbeda cara menuangkannya.
  7. Tips supaya lolos ke penerbit:

–          Kenali penerbit dan pihak penerbit/ editor

–          Ikut lomba nulis dan menangkan. >>> based on pengalaman kak Aida

–          Kalau kirim naskah lewat email tulis perkenalan diri di badan email

–          3 file yang dikirimkan: perkenalan, isi naskah, dan kelebihan naskah kita dibanding naskah lain.

  1. Terapi menulis supaya muncul ide dan cinta menulis:

–          Kalau pada saat menulis merasa bosan/ jenuh, tulis kebosanan itu. Upayakan tidak ada waktu untuk tidak menulis. Ini akan menjadi sebuah kebiasaan jika dilakukan terus menerus. Skala internasional, sesuatu itu menjadi habit jika dilakukan selama 21 hari tanpa jeda. Dalam Islam, 40 hari.

–          Biasakan menulis setiap hari selama paling sedikit 15-20 menit per hari

–          Menulis lebih baik pakai tangan

–          Biasakan kata “setelah” untuk memulai aktivitas menulis. Misalnya, menulis setelah shalat shubuh, setelah sarapan, dan sebagainya.

Itu dia point pentingnya. Semoga bermanfaat.=) Ah ya, teringat dengan potongan sebuah tulisan yang kemarin baru saya baca. Kalau kita mengganggap menulis itu takdir kita, maka menulislah. Kalau kita tidak menulis, berarti kita telah mengkhianati takdir. Lagi, menulis itu mewariskan banyak kebaikan tanpa kenal zaman.

Iklan

2 thoughts on “Kita, Kak Aida MA, Novel dan Terapi Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s