Book Review: Kisah Unik Para Bunda di Jepang



cover BS
Oleh: Fitri A.B.

Judul Buku      : Bunda Sakura  (Antologi Kisah Para Bunda di Jepang)

Penulis             : Rose Firdauzi Nakamura, dkk

Penerbit           : Dian Rakyat

Tahun Terbit    : April 2013

Tebal                    : 162 halaman

 

Anak adalah cerminan dari Ayah dan Ibu. Pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tua menjadi modal penting bagi si anak untuk tumbuh dan berkembang serta memahami kondisi di sekitar mereka. Tanpa menomorduakan Ayah, Ibu menjadi sosok yang harus ada dalam setiap tumbuh dan kembang si anak. Ibu menjadi madrasah pertama bagi si anak, pun sejak dalam kandungan.

Bunda Sakura, buku yang ditulis oleh Rose Firdauzi, dkk dari komunitas FLP Jepang ini memuat sekumpulan kisah nyata tentang perjuangan para bunda asal Indonesia di Jepang dalam mendidik anak mereka. Ada hal-hal unik berwujud tantangan, rasa bahagia, rasa sedih dan haru, semangat dan rasa optimis sepanjang mendidik anak-anak mereka di negara yang nota bene bukan berpenduduk mayoritas Islam.

Kisah yang ditulis oleh Henny Herwina Hanif dengan judul Hina Ningyo, misalnya. Penulis berkisah tentang pengalamannya saat baru saja melahirkan putri pertamanya, Jilan. Jilan dihadiahi sebuah Hina Ningyo oleh seorang perempuan tua Jepang yang tak sengaja ia kenal saat bersama-sama dirawat di rumah sakit. Ia memberikan hadiah itu sebagai rasa bahagia menyambut kelahiran Jilan. Hina Ningyo merupakan satu set boneka terdiri dari boneka kaisar, permaisuri, puteri istana (dayang-dayang), dan pemusik istana yang menggambarkan upacara perkawinan tradisional di Jepang. Di pajang pada saat Nina Matsuri (festival anak perempuan), setiap 3 Maret.

Selepas menerima benda itu, penulis mengalami konflik batin sebab penulis meyakini bahwa memajang benda-benda seperti itu di dalam rumah bisa mengarah kepada syirik. Jika benda itu tetap ada di rumah mereka itu sama saja mengajarkan Jilan untuk meyakini hal-hal di luar nilai Islam. Sementara di sisi lain, penulis tidak ingin perempuan tua itu kecewa jika pada akhirnya mereka harus mengembalikan benda itu. Maka, untuk mengurangi kebimbangan itu, penulis berdiskusi dengan Nakamura sensei, profesor pembimbing penulis sendiri. Senseinya menyarankan agar sementara benda itu disimpan dan ditutup saja. Surat yang dikirimkan oleh Nakamura sensei kepada perempuan tua itu pun pada akhirnya membuat perempuan tua itu tak lagi datang ke rumah penulis.

Pada akhirnya, setelah mencari informasi di internet tentang Hina Ningyo yang ternyata menurut kepercayaan orang Jepang dapat menyerap roh jahat dan nasib sial, benda itu diberikan ke sekolah Jilan. Tepat setelah berdiskusi dengan Jilan. Saat itu, Jilan sudah berusia 3,5 tahun.

Dalam diskusi tersebut, penulis berupaya memahamkan Jilan kenapa Hina Ningyo itu tidak boleh ada di rumah. Tentu saja, berdiskusi dengan anak seusia Jilan tidak semudah berdiskusi dengan orang dewasa. Penulis menganalogikan Hina Ningyo dengan daging yang ada di Jepang kepada Jilan. Ada daging yang tidak boleh mereka makan sebagai seorang muslim dan hanya daging yang disembelih dengan nama Allah yang boleh mereka makan sebagai muslim. Begitupun soal memiliki benda-benda tertentu, ada yang boleh dimiliki dan ada yang tidak boleh.

Lain lagi dengan kisah Sri Zein dalam Kue di Sandaimato Supa. Semenjak menetap di Jepang membuat penulis harus ekstrak hati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Tidak semua halal untuk dimakan. Ada tantangan tersendiri bagi penulis setiap kali memahamkan Zein, anak penulis, tentang apa yang boleh dimakan dan mana yang tidak boleh.

Seperti ketika penulis dan Zein berada di Supermarket. Tangis Zein pecah ketika penulis melarangnya memilih makanan yang sudah jelas keharaman-nya. Diskusi antara ibu dan anak pun terjadi hingga akhirnya Zein benar-benar diam.

Masih ada 22 cerita menarik lainnya di buku ini yang amat sayang jika terlewatkan. Ada kisah Aan Wulandari dengan Bentengi Akidah Anak, Antara Tokyo dan Melbourne yang ditulis oleh Rahmayanti Helmi Yanuariadi, Ajakan Hidup Bersama ditulis oleh Nesia Andriana Arief,  Asa Tersisa di Okayama oleh Ike Fazar dan lain sebagainya.

So far, saya suka buku ini. Tiap kisah yang disajikan penulis pada intinya semacam memberikan tips dan trik bagaimana hidup menjadi seorang Ibu di Jepang. Bagaimana memahamkan si buah hati tentang hal-hal yang diperintahkan dan dilarang Islam dan bagaimana bertahan untuk tetap menjadi ibu dan istri yang bijaksana turut tersampaikan dalam tiap kisah di buku ini.

Cover yang cantik dengan warna yang lembut, adanya catatan kaki untuk istilah atau bahasa Jepang yang digunakan penulis di tiap akhir tulisan, sebentuk kisah yang diceritakan apa adanya dan manis, dan gambar-gambar atau foto  yang mendukung tulisan di tiap kisah dalam buku ini menjadi kelebihan dan daya tarik tersendiri buku ini. Tapi barangkali, jika buku ini dilengkapi dengan quote atau kata-kata pemanis di beberapa bagian atau di tiap permulaan cerita akan menjadikan buku ini semakin menarik.

Well, itu sekilas review saya untuk buku hebat yang satu ini. Sangat direkomendasikan untuk para ibu yang akan atau tinggal di luar negeri. Sebuah bacaan yang ringan tapi punya misi kebaikan yang luar biasa. Bagaimana anak-anak di masa depan bukankah tergantung pada pola asuh dan didik para orangtuanya sejak dini? Selamat membaca. =)

Iklan