Antara Saya dan Sesuatu di Bawah Kursi Saya

Kutipan


Oleh: Fitri A.B.

1

Keajaiban hadir dengan cara-cara yang sederhana. Pada matahari yang terbit setiap hari, pada warna sayap kupu-kupu, dan pada kekuatan cinta orang-orang terkasihmu. ― Dian Syarief Pratomo, Sunrise Serenade

            Saat itu, Minggu, 13 April 2014, ada beberapa agenda yang sebenarnya ingin dijadikan semua. Dihadiri maksudnya. Tercatat ada 3 agenda yang harus dihadiri. Acara manasik umroh yang diadakan oleh kantor, silaturrahim ke rumah bang Robby di Binjai bareng FLPers, dan acara launching buku terbaru salah satu penulis asal Medan “Writing is A journey”, Lana Molen. Nah lho, penting semua kan acaranya?

            Karena memang acara manasik dan keberangkatan ke Binjai waktunya bertabrakan, jadilah saya tak ikut ke Binjai. Sebuah pilihan yang berat sebenarnya (ceilah 😀 ). Well, hidup memang akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang membuat kita harus memilih, ya kan? Dan hidup harus terus berlanjut, apa coba? 😀

            Syukur, penuh syukur, acara manasiknya hanya setengah hari. Mau ke Binjai tak mungkin sebab FLPers yang berangkat sudah dalam perjalanan pulang. So, saya putuskan untuk ke acara launching buku itu. Oh ya, sebelum itu, saya dan Mayang, salah satu rekan kerja saya, singgah sejenak di rumah salah satu rekan kerja kami yang istrinya baru saja melahirkan.

            Sepanjang perjalanan menuju acara launching buku itu sebenarnya saya bimbang antara jadi datang atau enggak karena tak seorang pun dari FLPers yang sudah di TKP. Gak asyik kalau cuma sendiri walaupun di lokasi acara ada beberapa yang dikenal. Ehm, tapi saya harus memilih dan memutuskan lagi. Bismillah, dan kaki ini pun memilih meneruskan langkah ke lokasi acara.

            Sampai di TKP ternyata acara baru dimulai. Alhamdulillah dong. ^_^ Setelah sms sana sini, ada juga  FLPers yang sedang otw menuju lokasi acara ini alias Nurul. Alhamdulillah lagi.^^v  Menunggu dia datang, saya pun memilih duduk di bangku paling pinggir baris ke-5.

            Sesi tanya jawab pun berlangsung. Ada beberapa penanya yang diminta naik ke stage untuk memberikan pertanyaan. Waw, yang bertanya dikasih buku. Masih ada lagikah doorprize di acara ini? begitu tanya dalam hati saya ketika itu, hehe. Sssst, saya ini termasuk “pemburu” doorprize soalnya. Maka saya pun berdoa (segitunya ya kan? 😀 ), “Ya Allah, izinkan hamba jadi salah satu orang yang dapat doorprize di acara ini kalau memang itu baik untuk hamba.” Ya begitulah, setiap kali saya ada di acara  yang ada doorprizenya.^^v Sederhana alasannya, saya selalu percaya kekuatan doa dan begini salah satu cara saya menjadikan acara yang saya ikuti bermakna dan berkesan sampai di hari-hari yang akan datang. ^_^

            Lanjut. Nurul pun datang. Saya hampiri dia yang sedang di meja registrasi. Saya tidak lagi duduk di bangku saya yang awal. Nurul mengajak untuk duduk di bagian tengah barisan paling depan. Pada akhirnya, Nurul di posisi kanan saya dan saya di sebelah kiri Nurul. Dan kamu? Kamu dimana ketika itu? 😀

            Setelah pembukaan, acara talk show dengan penulis buku, ucapan selamat dari beberapa pihak untuk penulis yang juga sedang berulang tahun ketika itu, acara pemotongan kue dan yg lainnya, tiba-tiba sang MC acara ini mengalihkan perhatian semua yang hadir. Ia minta semua yang hadir duduk di bangku masing-masing dengan tenang . Next, ia minta pada semua yang hadir untuk melihat ke bawah bangku masing-masing untuk mengambil kertas bertuliskan angka. Bagi yang mendapatkan kertas itu di bangkunya diminta untuk naik ke stage karena termasuk yang beruntung dan berhak mendapatkan buku yang dilauncing di acara ini. And you know, saya salah satu yang beruntung itu. Alhamdulillah, Alhamdulillah. Tuh kan, kesenangan jadinya. Apalagi hadiahnya buku, saya suka itu, so much. Ternyata hanya ada 7 bangku yang diselipkan nomor-nomor.

            Saya sebut ini keajaiban, boleh ya? Seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini, keajaiban hadir dengan cara-cara sederhana. Di ujung doa selalu ada keajaiban, saya percaya itu. Skenario Allah tetap yang terbaik. Mari bersyukur, mari bersyukur. ^_^

            Sebelum pulang, saya dan Nurul foto-foto narsis dulu dengan penulis. Foto itu saksi bisu perjalanan kita dan kenangan yang tercetak padanya tidak akan berubah sama sekali. Seperti kata Winna Effendi “…bahkan saat dunia berputar dan berubah, kenangan yang tercetak pada lembaran foto itu tidak pernah berubah. Photographs last for a lifetime.” Buku hadiah doorprize itu pun akan jadi pengingat kalau saya pernah ada di acara hebat ini.

            Eits, ini yang paling penting. Yup, some important points tentang buku Writing is A Journey ini. Buku WIAJ ini merupakan buku ke-2 penulis setelah buku Catatan 100 Hari. Isinya seputar hal-hal atau masalah yang tidak jauh dari dunia si penulis. Beberapa ada yang merupakan kisah fiksi seperti salah satu tulisan dalam buku tersebut yang berjudul Menjemput Kakak. Berkisah tentang perjuangan seorang adik yang mencari kakaknya di kota Bandung. Btw, ayuk dibeli bukunya dan kenal langsung dengan penulisnya kalau mau tahu lebih jauh. Bukan promosi. ^^v

            Well, sekian dulu cerita saya. Selain foto, tulisan adalah ruang paling asyik untuk mengabadikan kisah kita, sesederhana apapun kisah itu. Mari menulis. ^_^

Iklan