Anak-anak dan Lagu yang Sering Mereka Dengarkan


Oleh: Fitri A.B.

ibuPaling miris dan sedih kalau menemukan orang tua yang memperdengarkan lagu-lagu tidak berkualitas dan mendidik di rumahnya. Pada anak-anaknya. Bisa jadi, sebenarnya si orang tua tidak ada niat untuk mengajarkan yang tidak baik pada anaknya. Tapi tanpa orang tua tersebut sadari, si anak mendapat didikan yang tidak baik dari lagu-lagu tersebut. Sejak kapan lagu-lagu dengan isi syair yang full cinta, patah hati, dan kata-kata yang tidak enak didengar sesuai dan boleh diperdengarkan ke anak-anak?

Tambah miris dan sedih ketika si orang tua malah bangga bercerita ke tetangga atau sanak saudaranya kalau si anak paling jago melagukan lagu-lagu yang tidak pantas itu. Tidak adakah kebanggaan yang lain? Misalkan bangga karena si anak hafal juz 30, pandai mengaji, melagukan syair-syair islami, dan rajin shalat.

Makin miris dan sedih saat kemarin saya seangkot dengan 2 keluarga yang membawa anak mereka masing-masing. Miris dan sedihnya di mana? Jadi, sepanjang jalan, entah kenapa pula, si supir angkot putar 1 lagu dan itu-itu saja. Begitu lagu habis, putar lagi, habis, putar lagi, begitu seterusnya.  Lagu yang diputar apalagi kalau bukan lagu da**dut yang tidak sesuai untuk didengar oleh anak-anak.

Lagu yang diputar sepertinya cukup familiar. Anak-anak mereka hafal lagu dan iramanya. Si orang tua malah senang dan senyum-senyum melihat anak-anaknya melagukan lagu itu. Ikut bernyanyi pula. Allah.

Sedikit banyaknya, karakter anak dipengaruhi dari apa yang sering mereka lihat, alami dan dengar. Prihatin sekali ketika anak-anak di negeri ini selalu dijejali dengan tontonan dan lagu-lagu yang tidak mendidik mereka. Ketika syair-syair yang tidak sesuai untuk mereka diperdengarkan terus-menerus, bisa jadi karakter mereka akan sama dengan lagu yang biasa mereka dengarkan

Menjadi orang tua, khususnya ibu memang bukan mudah. Seperti yang diungkapkan Miranda Risang Ayu dalam Cahaya Rumah Kita: Renungan Batin Seorang Ibu Muda Tentang Anak, Wanita, dan Keluarga bahwa pekerjaan menjadi orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu pekerjaan klasik terberat dan tertua dalam sejarah umat manusia. Tapi saya pikir ini juga menjadi salah satu sebab dan alasan terkuat kenapa orang tua, Ibu khusunya, semasa mudanya atau sebelum usia menikah diperintahkan untuk menuntut ilmu setinggi-tinggi dan sebanyak-banyaknya. Agar ketika sampai pada peran menjadi orang tua atau ibu sudah punya modal terbaik untuk menjadikan anak-anaknya kelak menjadi generasi cerdas tapi bertakwa. Kesimpulannya, orangtua bijak, cerdas dan “terdidik” pasti tahu hal-hal terbaik yang perlu ditanamkan ke anak-anak mereka.

Teringat dengan perkataan Aisyah ra, “Ajarkan anak-anakmu puisi”. Juga perkataan Umar bin Khatab, “Ajarkan sastra pada anak-anakmu agar anak pengecut jadi pemberani. Ah ya, daripada menjejali anak dengan syair-syair lagu yang tidak berkualitas, bukankah lebih bermanfaat jika orang tua mengajarkan anak dengan sastra atau puisi?

In My Bedroom, 03 Februari 2014/ Senin

Iklan