Aku dan FLP #2


Oleh: Fitri A.B.

Semangat Ngajakin Satu sekolah
Sesuai harapan dan pesan kak Fadli agar diriku ngajakin kawan-kawan satu sekolah untuk gabung di FLP Sumut, jadilah diriku berusaha untuk melaksanakan harapan dan pesan itu. Yang kulakukan pastinya adalah minta izin ke kak Fadli untuk mencantumkan nama dan nomor HP-ku di brosur itu. So, teman-teman satu sekolah yang mau daftar bisa bareng diriku. Soalnya, samaku juga ada beberapa formulir pendaftaran yang masih kosong, hehe.

Setiap berkunjung ke kelas temanku, aku juga tak lupa untuk promosi soal ini. Seperti biasa, ada yang antusias dan ada yang biasa-biasa saja =). Tapi pada akhirnya, dari sekian lama aku promosi disertai semangat yang berpangkat-pangkat, hanya ada beberapa orang yang tertarik. Tak apa, mungkin di lain waktu mereka akan tertarik untuk bergabung. Soalnya, kebanyakan alasan mereka adalah tak punya waktu untuk itu saat itu.

Dan Pencarian pun Dimulai
Pada hari yang udah aku dan beberapa temanku sepakati, yaitu saat pulang sekolah, jadilah misi untuk mendaftar ke FLP Sumut diupayakan. Pencarian alamat pun dimulai. Maklum, diriku sendiri pun sebenarnya tak tahu sama sekali dimana lokasi FLP Sumut. That’s the first time for me =D. Dan kawan-kawanku tahu itu. Biar mereka tidak kecewa kalau pada akhirnya harus berlelah-lelah mencari alamat itu.

Yang aku tahu dari kak Fadli, alamatnya dekat kampus IBBI, JL. Sei Deli. Tepatnya, dari sekolah kami, kami harus naik angkutan yang arahnya ke daerah Carefour (waktu itu belum ada). After that, kami berhenti di dekat jembatan sungai Deli. Lalu berjalan ke arah jalan yang ada masjid dan kuburannya.

Turunlah kami di jalan yang sesuai dengan petunjuk kak Fadli itu. Kami berjalan melewati masjid dan kuburan itu. Kemudian melewati sebuah SD dan kampus IBBI itu. Melewati kampus itu kami bingung harus kemana lagi. Atas inisiatifku, bertanyalah kami ke pengemudi becak motor yang tengah parkir di sana. Aku bertanya dimana posisi Gang Sauh. Sebab FLP Sumut memang ada di Gang Sauh.

Ternyata abang tukang becaknya berniat menipu kami. Wah…., dipikirnya kami ini anak SMA yang bisa ditipuin. Kau tahu kawan, dia bilang posisi Gang Sauh itu jauh dari kampus IBBI itu. Kami harus naik becak dan mutar jalan. Padahal sesuai penuturan kak Fadli, lokasinya tidak jauh dari kampus itu. Sorry, kami tidak bisa ditipu =).

Kelihatan sekali wajah kecewanya si Abang tukang becak ketika kami tidak mengiyakan tawarannya. So, pencarian pun kami lanjutkan. Kami berjalan sambil lirik bagian kanan dan kiri jalan. Berharap menemukan Gang Sauh itu. Dan Alhamdulillah, ternyata memang benar, Gang Sauh itu dekat sekali dari kampus IBBI =D. Coba kalau kami terima tawaran tukang becak tadi? ^_^

FLP Sumut ternyata bermarkas di rumah yang sederhana. Kata kak Fadli dan kak Sukma  namanya Rumah Cahaya atau Rumcay. Terbangun di tengah-tengah ruko dan hiruk pikuk kota Medan. Tapi selain Rumcay, ada beberapa rumah warga juga di sana. Rumah-rumah yang sederhana dan terkesan tersesmbunyi dari keramaian. Tapi lingkungan di sana cukup nyaman. Dan penduduk yang tinggal di sana sampai hari ini sangat ramah pada kami.

Bukan Modal Nekat
Kami mendaftar alias mengembalikan formulir sekaligus langsung testing dan interview. Biar cepat selesai dan hati pun lega. Sebelum interview kami harus jawab test tertulis dulu. Ehm, kalau kuingat soal-soal yang ada di selembar kertas kecil itu susah-susah gampang. Tentu bukan soal Bahasa Inggris, Matematika, atau yang lainnya. Semua pertanyaan yang tertera berhubungan dengan dunia tulis menulis.

Alhamdulillah, sebelumnya aku sempat baca soal FLP dan sejarahnya. Berkat pelajaran Bahasa Indonesia di sekolahku, aku pun tahu sedikit-sedikit tentang dunia sastra dan para penulisnya. So, aku tak begitu merasa kesulitan untuk menjawab soal-soal itu =).

 

Berlanjut ke interview. Yang mewawancaraiku ketika itu adalah kak Nihayah Rambe. Aku tidak pernah ketemu beliau sebelumnya. Tapi sebelumnya kak Sukma pernah bercerita sedikit tentang beliau. Kak Nihayah jago buat puisi. Salah satu puisinya pernah kami terbitkan di buletin kami ketika itu. Oh ya, nama buletin sekolah kami ketika itu adalah Nafla. Sekarang kak Nihayah sudah berkeluarga dan sudah dikaruniakan seorang anak sholeh ^_^.

Sempat tertegun juga pertama kali bertemu beliau. Aku yang penyuka puisi ini dan ketika itu belum ada apa-apanya sudah pasti surprise bisa bertemu dengan beliau. Walaupun salah satu puisiku ada yang udah terbit di Waspada sebelumnya, tapi buatku diriku belum ada apa-apanya. Masih harus banyak belajar dari orang lain.

Buatku gak bisa cuma modal nekat untuk daftar di FLP Sumut. Harus benar-benar prepare disertai semangat yang berpangkat-pangkat =D. Masuk ke FLP Sumut buatku bicara masa depan juga. Aku yakin bahwa dengan gabung di FLP Sumut, mimpiku untuk jadi penulis akan lebih mudah. Ya, sebab jika bergabung di dalamnya pastilah akan bergabung dengan orang-orang yang punya kesukaan dan semangat yang sama di dunia tulis menulis. Of course, akan lebih mudah mendapatkan momen saling mengingatkannya.

#Menulis sepotong kenangan saat 2006 di 22 Juni 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s