The First Day of Ta’aruf


Oleh: Fitri A.B.

Aku gak begitu tahu, apa itu ta’aruf. Yang kutahu hari ini kami disuruh datang ke sekolah. Dengan mantap dan semangat yang luar biasa, aku pun berangkat dan pamit pada kedua orang tuaku. Yang terlintas dipikiranku saat ini, hari ini ada banyak hal menyenangkan dan berkesan yang akan kudapatkan.

Aku harus sampai sebelum pukul 07. 30 wib. Seperti biasa. Itu memang jadwal paling mendunia kan di Indonesia? Pukul 07. 30 wib itu jam dimulainya belajar. Dan hari ini, aku gak boleh terlambat. Hari pertama harus menjadi hari yang mengesankan dan awal yang baik. Salah satu jalannya ya itu, jangan sampai terlambat, hehe.

Angkot alias angkutan kota dari rumahku ke sekolahku masih terbilang agak susah. Tapi paling susah itu ketika aku kelas 6 SD. Masa-masa kami baru pindah kemari. Saat itu menurutku, lokasi rumahku ini lokasi paling pelosok =D. Pokoknya, tiada hari tanpa rebutan angkot. Dan hari ini, aku masih merasakannya walau tak sesulit dulu. So, kali ini pun tetap harus rebutan angkot, hehe.
———-

Kurasa aku menjadi orang paling bingung dan malang hari ini meski telah sampai di sekolah baruku ini sebelum pukul 07.30 wib. Aku terkejut setengah mati, hehe. Di lapangan sekolah ini semua teman-temanku telah berbaris. Ada yang sejak jam 07.00 wib dan ada yang sejak beberapa menit yang lalu. Dan akhirnya, aku masuk kebarisan teman-teman yang baru baris beberapa menit yang lalu alias yang terlambat.

Aku malu. Sangat malu. Plus bingung juga tentunya. Kenapa aku masuk barisan yang terlambat dan kenapa aku harus masuk ruangan khusus. Aku kan datang sebelum pukul 07.30 wib. Apa yang salah?

Kesimpulanku sementara aku memang datang lewat dari jadwal yang ditentukan. Hari ini bukanlah hari dimulainya belajar. Hari ini harinya aku dan teman-temanku menikmati waktu bersama kakak-kakak senior alias instruktur. Ya, aku hanya melihat satu atau dua orang guru di sekolah ini. Selebihnya, aku dan senioran kami yang di lehernya tergantung sebuah badge bertuliskan instruktur dan panitia.
————–

Di depan barisan kami yang terlambat, seorang instruktur berbicara dengan tegas dan ketus. Marah-marah gak tentu. Aku kesal sekali dengannya. Tapi rupanya, dia lebih kesal padaku. Di antara yang terlambat, aku yang paling lain daripada yang lain. Iya juga sih, hehe. Teman-temanku semua memakai badge peserta ta’aruf yang bertuliskan Nama, Asal Sekolah, Tanggal Lahir dan Cita-Cita. Dan aku tak ada memakai hal yang serupa. Maluku kini berkuadrat.

Setelah mencuri-curi waktu untuk berbisik dengan teman di sebelahku, ternyata semalam kami diperintahkan untuk datang kemari. Mendengarkan beberapa pengarahan dan instruksi dari pihak sekolah tentang hal-hal yang berkaitan dengan ta’aruf. Aku tak ingat sama sekali dengan hal ini. Jadilah aku bernasib seperti ini hari ini.

Ada yang lebih mengesalkan dan menyeramkan dari instruktur yang di depan kami tadi. Ya, kini kami ada di sebuah ruangan khusus yang berisi 2 orang instruktur. Sebelum masuk ke ruangan ini, aku membaca sebuah kertas yang tertempel di pintu ruangan itu. Ada tulisan “Ruang Coaching Instruktur”. Dan instruktur yang mengantarkan kami ke ruangan ini tak lagi bersama kami. Dia keluar. Mungkin harus mengurus orang-orang yang masih akan lebih terlambat dari kami.

Dan petualangan baru pun dimulai. Kami “direpetin” habis-habisan oleh kak Ali di ruangan ini. Ya, sebut saja namanya kak Ali. Awalnya, aku menyebutnya dengan Abang. Ehm, dan benar-benar taubat manggil Abang setelah ditegur versi marahnya kak Ali di depan teman-temanku saat itu.

“Abang, abang. Abangmu dari mana?” begitulah katanya setelah aku menjelaskan sesuatu padanya sambil bertutur Abang padanya. Maluku kini pangkat tiga, hehe.

Sesekali aku melirik tajam ke kak Ali. Hatiku agak berontak sebenarnya. Pengin aja kuteriakkan isi hatiku yang sebenarnya. Kalau aku gak suka dimarahin kayak gitu. Tapi rupanya lirikan itu tertangkap kak Ali. And you know what? Dia melirik lebih tajam ke arahku. Aku gak jadi pengin teriak karena itu. Kak Ali lebih seram dari yang kubayangkan =D.

Sembari  marah, dia pun sesekali berjalan mengitari kami. Rasanya pengin ngomong kuata-kuat supaya dia menghentikan omelan-omelannya itu segera. Satu hal yang pasti, kami baru benar-benar bisa keluar ruangan itu setelah mendapat satu hukuman darinya. Betapa ini menjadi hari yang menyebalkan. Tapi semua memang khilafku, aku lupa datang sehari sebelum ta’aruf ini. Karena ternyata ada banyak himbauan dan info penting ketika itu, termasuk himbauan untuk membuat badge sendiri, hehe.

 Kena Tegur Instruktur
“Dek, itu yang  di tangan kamu dilepas sekarang ya!” Perintah seorang instruktur akhwat. Intonasinya bukan penawaran atau peringatan tapi sudah masuk kategori perintah.

Aku terkejut. Perasaan yang kupakai di pergelangan tanganku bukan benda haram. Cuma selingkar gelang yang terbuat dari kain berwarna pink bercampur putih. Jadilah aku bertanya-tanya dimana letak ketidakbolehannya. Tapi, daripada aku kena marah seperti marahnya kak Ali, ya kulepaskan saja gelang itu dari tanganku. Ehm, mungkin karena dengan itu aku akan kelihatan beda dengan kawanku yang lain. Atau karena aku juga telah melanggar peraturan tertulis selama masa ta’aruf ini.

“Oh iya kak….” kataku terpaksa sambil melepaskan gelang itu dari tanganku.

Parahnya, yang menegurku memang cuma satu orang instruktur akhwat. Tapi di sisi kanan dana kiri beliau sudah ada 3 orang instruktur akhwat lagi yang turut menyaksikan dan mendengarkan masalahku itu. Aku kan malu. Kesannya aku ini bandel atau sejenisnya.

Pada akhirnya kusimak maksud kakak itu. Kurasa dia bermaksud baik. Agar aku paham bahwa untuk sekolah di sekolah ini tidak perlu macam-macam. Cukup satu macam saja. Ehm, biar kudeskripsikan ya penampilan keempat instruktur itu secara umum. Mereka semua berjilbab lebar, wajahnya berseri, kritis, cerdas tapi agak cerewet, hehe. Terus gimana ya nanti kalau aku ketemu mereka saat proses belajar mengajar dimulai?

(Hei.., ceritanya masih bersambung ya.  ^_^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s