Catatan Perjalanan Medan-Padang #2: All About Us in 16 Mei 2012


(Ini masih dalam rangka arisan nulis yang di adakan di kamar nomor 9 yang berpenghuni 4 orang penulis hebat. Ehm, ya siapa lagi kalau bukan aku, Lia, Ririn, dan Suci. Maaf lahir batin…, kali ini agak narsis, hehe. Dan aku kebagian yang tanggal 16 Mei 2012. Check it out ya kawan…. ^_^ ).

Kami belum sampai ke Padang. Ehm, ya iyalah baru sekitar 12 jam perjalanan yang kami lalui =D. Kami baru sampai di Sipirok. Bersebab busnya transit di sini, makan malam kami pun tertunainya di sini. Di sebuah rumah makan yang letaknya persis di pinggir jalan. Agak berat sebenarnya buatku untuk turun dari bus. Aku masih dalam kondisi kedinginan. Susah untuk bergerak jadinya. Aku hampir pingsan kedinginan di bus itu =D. Busnya ber-AC dan parahnya, AC-nya gak bisa diajak berkompromi. Gak bisa di setel seperti maunya kita. Awal perjalanan AC itu tak menjadi masalah buatku. Tapi semakin ke penghujung malam, rasa dingin itu menusuk-nusuk hingga ke tulangku. Ya, aku paling anti dengan cuaca dingin (tapi begitu pun, aku tetap ingin pergi ke beberapa negara impianku yang nyatanya bermusim dingin, hehe. Lho kok jadi cerita ini? =D). Rasa dingin itu menyakitkan, walau sesaat ^_^.

Kau tahu apa yang kulakukan kemudian? =D. Kuminta pada beberapa orang temanku untuk menyumbat AC-nya dengan sesuatu. Berhubung yang ada cuma tisu, jadilah tisu itu yang jadi penyumbatnya. Itu pun tisunya punya si Suci, hehe. Bersyukur punya teman-teman yang care sama awak. Gak Cuma Suci yang kurepotkan, ada Endang, Lia, Jaka and Cipta, hehe. Soalnya, mereka yang duduknya paling dekat dan sebaris denganku. Tapi aku berusaha untuk tetap bertahan dengan kondisi itu. Berusaha untuk tidak merepotkan mereka terlalu banyak =). Lia, dialah orang yang paling kurepotkan. Soalnya kami sebangku, hehe. Thank you ya FLPers ^_^.

Perut yang kosong membuatku berusaha tetap bangkit dari bus itu. Aku pengin makan =). Mungkin kalau perut awak sudah berisi, rasa dinginnya bisa berkurang. Jika busnya tak jalan dingin AC itu memang gak begitu terasa. Tapi rupanya, di luar bus jauh lebih baik daripada di dalam bus. Ya, pada akhirnya aku turun, hehe. Benar saja, di luar lebih baik daripada di dalam. Aku beranjak ke toilet yang ada di sana. Sebelum sampai di toilet itu, aku melihat ada perapian di sana. Jadilah, aku berhenti sejenak di sana. Masih dalam rangka mendamaikan rasa dingin yang melilit diriku. Ah syukurlah, rasa dingin itu perlahan berhenti. Usai bersih-bersih dan segala macamnya, we take dinner together. Ehmm, ini momen yang udah lama ditunggu-tunggu si perut, hehe. Rasa dingin benar-benar mendukung perut untuk segera diisi dengan yang hangat-hangat. This is a special dinner.

Kita semua satu meja (mejanya besar soalnya) dan aku sepiring berdua dengan Ririn =). Menu yang aku dan Ririn pilih adalah dinner berlauk Ikan Asam Padeh. Aku ngikut aja sama Ririn untuk urusan pilih memilih lauk (udah lapar sih, hehe). Ha, satu yang gak boleh dilupakan itu teh manis panas. Pas amat untuk membuang rasa dingin itu jauh-jauh. 12 jam perjalanan memang belum sekali pun kami menikmakmati makanan/ minuman yang hangat-hangat. Dan inilah waktunya…. ^_^.

Don’t Look At Cover

Kumpul-kumpul gak lengkap tanpa foto-foto. Ya, of course, makan malam itu kami santap dengan jepretan dari beberapa angle. Kehebohan kami rupanya menjadi sorotan dan liputan utama orang-orang yang ada di rumah makan itu. Ehm, kami memang selalu jadi sorotan sepanjang jalan…, maklum, penulis-penulis hebat…, hehe (InsyaAllah…, Aamiin…). Bus yang sudah “teriak-teriak” mengharuskan kami untuk menyudahi dinner itu. Teh manis hangatku dan beberapa teman yang lain masih tersisa banyak. Ya, gak sanggup-lah kalau harus minum langsung teh sepanas itu =D. Jadilah, teh hangat itu dibungkus sesuai permintaan kami ke pihak rumah makan.

Belum benar-benar beranjak dari rumah makan (sambil menunggu pesanan kami yang lain untuk dibawa ke bus), seorang bapak yang kurasa adalah pemilik rumah makan itu “mewawancarai” aku dan Ririn =D. Pertanyaannya apresiasif sekali menurutku. Sampai-sampai di hatiku terlintas statement kalau si Bapak ini kayaknya lebih cocok jadi wartawan aja, hehe. Beliau tanya-tanya soal kampus kami, asal kami, kegiatan kami, dll. Bahkan beliau nyambung sekali diajak cerita soal kepenulisan (jangan khawatir, kami tetap ingat kok kalau bus kami udah “teriak-teriak” meski ngobrol setengah panjang dengan si Bapak itu =D). Ehm, ini cocok kali ya dengan istilah “Don’t look at cover”. Emang benar, kalau dilihat dari penampilan si Bapak, kayaknya gak mungkin beliau bakal tanya-tanya dan komentar hal yang begitu. (Bersambung….)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s