Antara Aku dan Drama Mandarin


Oleh: Fitri A.B.

Kemarin sore iseng memilih chanel yang ada di TV. Entah kenapa, pilihanku jatuh ke stasiun TV yang jujur aja, jarang sekali kutonton. Ada satu drama Mandarin yang lagi tayang ketika itu. Kurasa itu drama lama yang tayang ulang. Karena mengikuti di pertengahan cerita, jadilah aku tak tahu apa judul drama itu, hehe.

 

Tak apa, nanti judul bisa dicari tahu kalau drama itu ditayangkan lagi. Iya, semoga begitu yah ^_^. Karena ternyata, drama ini ditayangkan seperangkat dengan acara dialog khusus bersama para pemainnya. Dalam dialog itu, pemeran anak-anak dalam drama itu sudah tumbuh dewasa. Makanya aku menyimpulkan kalau itu drama lama yang tayang ulang. Ehmm, tapi ada satu hal lagi yang jadi simpulanku, It’s an educational and philosophical drama. I like that. Moga besok dramanya masih tayang.

 

Apa yang enak dan seru dari drama ini? Let me review the story yah ^_^. Tapi ya itu, aku mulai dari pertengahan cerita. Karena tadi memang cuma nonton dari pertengahan cerita :(.
—————

2 orang anak laki-laki yang Ayahnya berstatus sebagai seorang dokter spesialis bedah dan saraf pindah ke sebuah perkampungan yang bernama Yuli. Otomatis, Ayah mereka pun bertugas di kampung tersebut. Kedua anak itu disekolahkan kedua orang tuanya di sekolah musik yang cukup terkenal di kota. Hanya sesekali mereka berlibur dan pulang ke Yuli.

 

Suatu ketika, Ayah mereka meminta mereka untuk datang ke rumah sakit dan menjadi relawan kecil di sana. Si Ayah hanya meminta mereka memainkan piano yang ada di dekat meja resepsionis. Si Ayah berkata pada mereka bahwa piano itu adalah piano yang paling bagus yang ada di rumah sakit itu meskipun mungkin tak sebagus piano yang biasa mereka gunakan ketika ada pementasan musik.

 

Si Ayah meminta mereka memainkan piano itu untuk para pasien dan seluruh orang yang ada di sana. Harapannya agar suasana hati mereka yang mendengarkan bisa lebih baik, khususnya dengan pasien yang ada di sana. Meskipun si Ayah adalah seorang dokter, tapi dia meyakini bahwa musik membawa pengaruh yang luar biasa terhadap kondisi jiwa seseorang. Dia juga meyakini bahwa musik bisa menyembuhkan penyakit pasien yang ada di sana, selain dengan dukungan obat dan perawatan yang baik. Dokter yang unik dan cerdas, bukan?

 

Sampai di bagian ini, aku terkesima sekali. Selain si Ayah itu, ada tidak ya, dokter yang begituan di dunia nyata dan di dekat kita? Kalau ada kabari ya, hehe. Aku sepakat dengan si Ayah yang dokter itu. Musik itu memang banyak sekali pengaruhnya terhadap jiwa seseorang. Pribadi dan perasaan yang ada di dalam jiwa kita juga turut dibentuk oleh musik yang kita dengar. Kalau musik yang kita dengar itu sedih dan melow, jadilah kita pribadi yang melow, melankolis dan lemah. Jadi ingat kata Ippho Santosa di buku 7 Keajaiban Rezeki-nya bahwa kita akan menjadi pribadi yang lemah kalau sering-sering dengar lagu yang sedih-sedih. Kita sering dengar musik yang gimana? ^_^.

 

Tapi tiba-tiba aku malah mikir dan membayangkan tentang sebuah rumah sakit yang dokter-dokternya setuju dan bersemangat untuk selalu nge-play ayat-ayat suci Al-Qur’an yang terdengar di seluruh ruangan yang ada di rumah sakit itu. Alasannya karena mereka yakin bahwa Al-Qur’an itu bisa jadi faktor penyembuh para pasien yang ada di dalamnya. Al-Qur’an itu assyifa kan ya? Dan aku yakin, semua orang setuju dengan hal itu. Waw, kalau apa yang kubayangkan ini benar-benar ada ^_^. Teman-teman ada yang pernah menemukan rumah sakit yang beginian? Please tell me ya, where it is.

 

Lanjut ke bagian cerita berikutnya. Ketika si Ayah meninggalkan mereka (kedua anak itu), mereka masih berpikir panjang untuk benar-benar memainkan piano yang ada di hadapan mereka itu. Mereka juga sempat mengamati kondisi di sekitar rumah sakit itu beberapa kali. Mereka bingung. Bermain piano di rumah sakit adalah pengalaman aneh pertama yang harus mereka lakukan. Sesekali mereka saling bersitatap muka. Dan berakhir dengan adegan benar-benar jadi memainkan piano itu.

 

Sempat terjadi dialog singkat di antara mereka tentang musik apa yang harus mereka mainkan ketika itu. Lalu, mereka bersepakat untuk memainkan irama Musim Dingin. Mereka kelihatan sangat menikmati permainan mereka. Orang-orang yang ada si rumah sakit itu? Ternyata hanya beberapa orang yang menikmati dan bertepuk tangan.

 

Sampai ketika musik yang mereka mainkan usai. Mereka terkejut dan terheran-heran karena hanya beberapa orang saja yang menikmati dan bertepuk tangan pada mereka yaitu tiga orang resepsionis yang duduk tidak jauh dari mereka. Mereka kembali bersitatap muka seusai menatap orang-orang (pasien dan keluarga pasien) yang berada tidak jauh dari mereka yang sama sekali tidak merespon aksi mereka. Mereka bingung lagi.

 

Tak lama si Ayah datang dan menghampiri mereka. Menanyakan musik jenis apa yang mereka mainkan itu. Sebab pasien yang tengah diperiksanya di ruang periksa ternyata merasa tidak nyaman dengan musik yang mereka mainkan itu. Pasien si Ayah merasa ada sesuatu yang aneh dan tak enak di bagian hatinya karena musik itu.

 

Mereka menjawab pertanyaan si Ayah dengan sejujurnya. Mereka mengatakan bahwa mereka hanya memainkan irama yang mereka rasa paling sederhana dan enak di dengar. Si Ayah tidak memarahai apa yang telah mereka lakukan. Si Ayah meminta mereka untuk ikut ke ruangannya untuk membicarakan sesuatu hal dari hati ke hati.

 

Ada satu hal menarik yang kuingat dari perbincangan mereka di ruangan itu. Si Ayah mengatakan: “Ketika kalian berada di atas pentas yang sesuai dengan bakat kalian, kalian jangan menganggap rendah/ remah orang-orang yang mendengarkan kalian. Karena hal itu menjadi penentu, apakah sesudah penampilan kalian orang-orang akan memberikan tepuk tangan haru dan hangat untuk kalian. Orang-orang butuh sesuatu yang bermanfaat, sesuatu hal yang bisa menyemangati mereka dan memberikan pandangan baru dari kita.” Begitulah lebih kurang kata-kata si Ayah. Filosopis sekali bukan? *_*

 

Ehm, menurutku si Ayah benar. Ketika kita menjadi “orang yang dibutuhkan atau pusat perhatian” seharusnya kita menjadi orang yang bisa memberikan apa yang orang lain butuhkan dari kita. Bukan memaksa orang lain agar menerima apa yang kita lakukan di atas kelebihan yang kita punya. Memberi yang bermanfaat untuk orang lain lebih baik daripada memberikan apa yang tidak dibutuhkan oleh orang lain ketika itu.

 

Lanjut ke bagian cerita yang lain. Si Ayah lalu mengajak mereka ke lantai paling atas rumah sakit itu. Berdialog dari hati ke hati kembali sambil menatap ke pemandangan kampung Yuli yang sejuk dan indah. Di tempat ini, si Ayah bercerita tentang seorang pasien yang ia tolong beberapa waktu yang lalu. Yang mereka (kedua anak itu) tahu, pasien itu adalah seorang lansia yang tekena sakit saraf. Namun berkat cerita si Ayah, mereka jadi tahu kalau pasien tersebut kakinya mengalami luka dan mengeluarkan nanah yang banyak.

 

Mendengar cerita si Ayah mereka jadi heran. Mereka berpikir bahwa tidak seharusnya si Ayah mengobati pasien dengan sakit yang seperti itu. Seharusnya si Ayah hanya mengobati pasien yang mengalami masalah saraf atau hal-hal yang berbau bedah. Lalu dengan bijaksana, si Ayah mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu sama sekali bukan keterpaksaan. Justru dia melakukannya dengan senang hati. Karena membantu orang lain tak harus melihat bidang apa yang ia kuasai dan harus ditangani. Di saat ada yang memerlukan bantuan kita dan bantuan kita memang dibutuhkan, maka tak ada kata “tidak mau” dalam hal itu.

 

Percakapan mereka terputus ketika si Ayah diminta untuk ke ruang UGD lewat telepon selularnya. Mereka tak langsung meninggalkan tempat itu meski si Ayah telah turun terlebih dahulu. Mereka terbawa dengan apa yang si Ayah katakan. Sambil menatap perkampungan Yuli yang terlihat indah dari lantai paling atas rumah sakit itu, mereka merenungi apa yang si Ayah katakan.

 

Mereka memutuskan untuk turun tidak lama kemudian. Mereka susuli ayah mereka yang tengah mengobati beberapa pasien dengan sakit yang berbeda secara diam-diam. Mereka mengamati dengan hati apa yang si Ayah lakukan.

 

Pertama ketika si Ayah mengobati kembali pasien lansia yang kakinya luka dan bernanah itu. Si Ayah mengobati dan melayani pasien itu dengan sepenuh hati dan keramahan yang luar biasa. Tak ada kata atau eskpresi lelah, bosan dan benci terhadap pasien tersebut. Si Ayah mengobatinya dengan sabar. Padahal sekali lagi, si Ayah tak seharusnya menangani penyakit yang seperti itu.

 

Kedua, ketika si Ayah mengobati pasien lansia juga dengan penyakit tuanya. Si Ayah terlihat mahir dan lihai menghadapi lansia tersebut. Masih dalam kondisi mengikuti si Ayah secara diam-diam, mereka hampir tak tahan melihat jarum suntik yang si Ayah suntikkan ke lansia tersebut. Sembari melihat eskpresi lansia itu yang biasa saja ketika disuntik, mereka juga turut menyimak apa yang si Ayah lakukan dan katakan sampai-sampai si lansia tersebut tidak merasakan kesakitan. Malah lansia tersebut tersenyum dan sesekali tertawa karena ucapan si Ayah alias dokter itu.

 

Setelah melihat berbagai lakon si Ayah selama di rumah sakit, mereka memutuskan untuk pulang. Sepanjang jalan mereka berdiskusi tentang apa yang Ayah mereka lakukan dan katakan selama di rumah sakit itu. Banyak pelajaran penting yang telah mereka dapatkan hari itu. Salah satunya adalah memanfaatkan kemampuan mereka dengan bijaksana sekalipun waktu dan tempatnya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
———-

Aku sendiri merasa bahwa drama ini memang drama yang mendidik dan bernilai filosofis. Si Ayah benar-benar Ayah dan dokter yang bijaksana dan sederhana. Tidak mendidik dengan kata-kata atau perilaku yang menyakitkan kedua anaknya. Si Ayah juga memberi teladan yang baik untuk kedua anaknya. Dalam konsep pendidikan sendiri, keteladanan adalah cara efektif untuk mendidik anak agar menjadi pribadi yang berbudi.

 

Tokoh Ayah dalam drama ini juga menyadarkan kita bahwa setiap kali potensi kita tidak dimanfaatkan sebagaimana harusnya atau seperti yang kita harapkan, kita harus berjiwa besar. Tak boleh ada kekecewaan. Karena baik tidaknya suatu perbuatan itu bukan tergantung dari ketepatan orang lain atau lingkungan menempatkan kita. Apapun tugas atau amanah yang diembankan pada kita, walaupun itu tidak seperti yang kita harapkan – katakanlah bukan pekerjaan/ amanah yang menjadi terget kita – kita tetap harus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya dengan sepenuh hati.

 

Dalam Islam sendiri dikatakan bahwa Allah turut menyaksikan apa yang kita usahakan dan kerjakan.

“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah : 105)

 

So, biar Allah saja yang menilai. Jika hari ini apa yang kita miliki – entah itu pekerjaan, pendamping hidup, rezeki, dll – tidak sesuai dengan yang seharusnya, kita tetap harus mensyukuri semuanya dan mengambil hikmah dan makna positif di balik semua itu. Allah itu Maha Adil, bukan? ^_^

(Ketika menuliskan ini aku lagi banyak tugas kuliah, hehe. Tapi karena semangat nulisku lagi muncul, kutulislah tulisan ini. Aku baru sadar dan nggak nyangka, rupanya tulisan ini selesai di 5 halaman dalam waktu di luar dugaanku. Padahal targetku hanya 2 atau 3 halaman, hehe. Semoga bermanfaat ya kawan ^_^)

Iklan

One thought on “Antara Aku dan Drama Mandarin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s