Catatan Perjalanan Medan-Padang #3: Aku, Kamu dan Kita di Tanjung Medan


(Ini kelanjutan tanggal 16 Mei 2012 ya kawan. Ehm…, masih dalam rangka arisan menulis itu =) . Entah kenapa-lah ya aku kedapatan tanggal yang berhujan kisah paling banyak, hehe.  *Melirik Lia, Ririn, and Suci. Check it out again ya kawan…. ^_^)

Terdampar di Tanjung Medan

Pagi masih basah sejak shubuh. Kaca bus masih bersisa titik-titik hujan. Ada hujan di sebagian perjalanan kami, sejak shubuh hingga hari benar-benar pagi. Ehm, kami baru di desa Tanjung Medan (salah satu nama tempat di Sumbar) ketika tiba-tiba bus kami macet alias mogok alias gak bisa melaju lagi =D. Apa penyebabnya? Hehe, cerita punya cerita, dari sumber yang dapat dipercaya, katanya bus kami mogok karena ada masalah pada mesinnya. Maaf, awak bukan dokter mesin alias teknik mesin, jadi tak tau dengan detail apa masalahnya, hehe.

Hujan sudah usai ketika kami terdampar di desa ini. Ketika pagi masih berada di sekitar pukul 07.30 wib. Mesin mati, AC busnya pun mati. Kali ini, diriku nyari-nyari AC, hehe. Soalnya sedang tak berada di penghujung malam. Bus kami pun mendadak pengab alias sumpek. So, setelah sarapan dengan menu sederhana bersama beberapa FLPers di dalam bus, kami putuskan untuk turun.

Setiap yang kita alami tak lepas dari ketetapan Allah, kan? Terdamparnya bus kami di negeri orang ini tentulah bagian dari takdir Allah juga. Banyak hal yang kami alami selama beberapa jam di sini. Ya, pada akhirnya butuh waktu 4 jam untuk menunggu bus kami sembuh dari sakitnya =). Dan 4 jam itu telah menyempatkan kami mengalami hal-hal tak terduga dan berkesan. I’m serious. So, check it out, what it is ^_^. 

Ibu dan Ayah Baru

Awalnya aku dan Nurul hampir tak jadi untuk nge-charge hp di masjid raya yang ada di desa ini. Nurul kelihatan berat untuk ke masjid ini. Ehm, mungkin karena khawatir ditinggalin bus kali ya, hehe. Sebenarnya aku takut juga. Tapi gak mungkin mereka ninggalin kami, soalnya gak ada kami pasti gak rame. Ups, apa pulak ni =D. Ya, itu alasan paling logisnya menurutku. Sebenarnya ke masjid ini bukan cuma untuk numpang nge-charge tapi untuk hal lainnya, hehe.

Meski agak berat dan penuh pertimbangan, sampai jugalah kaki kami di masjid yang sudah dikunjungi lebih awal oleh FLPers yang lain. Masjid yang sederhana menurutku, meski disebut sebagai masjid raya. Dan Alhamdulillah, masjidnya tidak terkunci. Biasanya susah dapat masjid yang terbuka pada jam-jam segitu, apalagi di kampung orang.

Di teras masjid, kami bertemu dengan seorang laki-laki muda. Taksiranku dia itu salah seorang pengurus masjid. Tak begitu jelas wajahnya karena tertutup helm yang ia kenakan. Kulihat, dia pun buru-buru ingin pergi. Meski begitu, sempat juga kami menanyakan kondisi masjid apakah terkunci atau tidak.

Setelah dia menunjukkan bagian pintu yang tidak dikunci (soalnya masjid itu puny banyak pintu, hehe), kami dengan penuh semangat melangkah dan mncari pintu itu. Belum sempat masuk ke dalam, tiba-tiba seorang laki-laki yang usianya kurasa lebih muda 10 tahun dari Ayahku menghampiri kami. Kupikir beliau mau marah, apalagi setelah kami bilang kalau kami mau nge-charge HP kami. Ternyata eh ternyata, beliau malah menunjukkan lokasi colokan di dalam masjid itu. Ini akibat pernah menemukan masjid yang melarang siapa saja yang ingin mengambil listrik dari masjid itu. Apalagi ini bukanlah kampung awak =D.

Pencolokan pun dimulai oleh Nurul. Aku masih mencari posisi colokan yang lain di masjid itu. Nurul mengabarkan kalau arus listrik di colokan itu tidak jalan (hehe, macam liputan berita ya?). si Bapak masih menunggui kami. Bukan karena takut kami melakukan hal-hal yang tidak baik dalam masjid, tapi karena ingin memastikan apakah colokannya berfungsi dengan baik.

Pertolongan itu datangnya sering tidak terduga ya? =). Walaupun urusan charge men-charge adalah urusan sederhana, tapi di saat perjalanan jauh begitu, HP menjadi bagian yang harus terpenuhi kebutuhannya, hehe. Kalau sampai low-bat, of course tak bisa menghubungi keluarga. Allah menolong kami lewat si Bapak itu. Bukan main, beliau langsung menawarkan kami untuk nge-charge di rumahnya saja. A positive thinker sekali menurutku. Baru ketemu udah menganggap kami orang dekat ^^.

Sebelum benar-benar sampai ke rumah si Bapak, di dalam masjid kami sempat ngobrol dengan si Bapak. Hampir sama pertanyaan dan komentarnya dengan si pemilik rumah makan di Sipirok itu. Bertanya tentang kampus, asal, dan keperluan kami datang ke Medan. Bedanya si Bapak yang satu ini tampaknya sudah cukup familiar dengan nama FLP alias Forum Lingkar Pena. Ehm, jadi tersanjung, hehe.

Setelah cari mencari alamat rumah si Bapak (padahal sebenarnya gak jauh amat dari masjid raya yang letaknya berada di dalam gang ^_^), akhirnya ketemu juga. Rumah beliau berada tepat di pinggir jalan. Dari halaman beliau, kami bisa melihat bus kami yang masih dalam proses pengobatan. Rumah yang sederhana. But I like that. Desainnya masih sangat kental dengan nuansa kedaerahannya. Bertangga dan ujung atapnya runcing menyerupai rumah adat Padang.

“Assalamu’alaikum….” ucap kami penuh semangat.

“Waalaikumsalam….” jawab seorang perempuan yang lebih muda dari Ibuku sedikit. Jawab yang bercampur keheranan.

Jelas keheranan. Si Bapak tadi baru muncul beberapa menit kemudian, setelah kami menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami =D. Dengan sejujur-jujurnya kami mengatakan maksud kami.

“Ibu…, kami mau numpang nge-charge HP kami. Boleh ya buk…?” ucap kami dengan polos plus senyum tertulus dan tanpa basa-basi, hehe.

Setelah diperjelas lagi oleh si Bapak kepada si Ibu, akhirnya kami mendapat surat izin untuk nge-charge HP kami. Macam urusan berat aja ya? =D. Alhmdulillah, si Ibu paham tanpa harus ber-negative thinking. Dan pengecasan HP pun dimulai. Ini kebahagiaan paling ditunggu setelah beberapa jam tak menemukan kehidupan di dalam HP-ku.

Nge-charge enaknya sambil ngobrol, hehe. Iya, kami sempatin waktu buat nunggu si HP batrenya penuh dengan ngobrol banyak hal bersama si Bapak dan Ibu. Obrolan kami tak tentu arah =D. Kadang dari A ke Z, dai E ke A, dan seterusnya. Gantian. Kadang kami bertanya soal si Ibu dan Bapak dan kadang mereka yang bertanya soal kami. Ajaib! Meski ini adalah pertemuan pertama yang tak terduga, tak ada rasa canggung di antara kami. Seperti sudah keluarga sendiri. Jika tadi tak jadi ke masjid, pasti gak ketemu keluarga yang baik hati ini.

Ehm, mataku tertuju pada satu meja di dalam rumah itu. Meja yang full dengan berkas, kertas dan buku. Simpulanku sementara keluarga ini keluarga yang berpendidikan. Simpulku ini didukung dengan pernyataan si Ibu tentang si Bapak dan anak-anaknya. Si Ibu bilang…. (Bersambung….^_^)

Catatan Perjalanan Medan-Padang #2: All About Us in 16 Mei 2012


(Ini masih dalam rangka arisan nulis yang di adakan di kamar nomor 9 yang berpenghuni 4 orang penulis hebat. Ehm, ya siapa lagi kalau bukan aku, Lia, Ririn, dan Suci. Maaf lahir batin…, kali ini agak narsis, hehe. Dan aku kebagian yang tanggal 16 Mei 2012. Check it out ya kawan…. ^_^ ).

Kami belum sampai ke Padang. Ehm, ya iyalah baru sekitar 12 jam perjalanan yang kami lalui =D. Kami baru sampai di Sipirok. Bersebab busnya transit di sini, makan malam kami pun tertunainya di sini. Di sebuah rumah makan yang letaknya persis di pinggir jalan. Agak berat sebenarnya buatku untuk turun dari bus. Aku masih dalam kondisi kedinginan. Susah untuk bergerak jadinya. Aku hampir pingsan kedinginan di bus itu =D. Busnya ber-AC dan parahnya, AC-nya gak bisa diajak berkompromi. Gak bisa di setel seperti maunya kita. Awal perjalanan AC itu tak menjadi masalah buatku. Tapi semakin ke penghujung malam, rasa dingin itu menusuk-nusuk hingga ke tulangku. Ya, aku paling anti dengan cuaca dingin (tapi begitu pun, aku tetap ingin pergi ke beberapa negara impianku yang nyatanya bermusim dingin, hehe. Lho kok jadi cerita ini? =D). Rasa dingin itu menyakitkan, walau sesaat ^_^.

Kau tahu apa yang kulakukan kemudian? =D. Kuminta pada beberapa orang temanku untuk menyumbat AC-nya dengan sesuatu. Berhubung yang ada cuma tisu, jadilah tisu itu yang jadi penyumbatnya. Itu pun tisunya punya si Suci, hehe. Bersyukur punya teman-teman yang care sama awak. Gak Cuma Suci yang kurepotkan, ada Endang, Lia, Jaka and Cipta, hehe. Soalnya, mereka yang duduknya paling dekat dan sebaris denganku. Tapi aku berusaha untuk tetap bertahan dengan kondisi itu. Berusaha untuk tidak merepotkan mereka terlalu banyak =). Lia, dialah orang yang paling kurepotkan. Soalnya kami sebangku, hehe. Thank you ya FLPers ^_^.

Perut yang kosong membuatku berusaha tetap bangkit dari bus itu. Aku pengin makan =). Mungkin kalau perut awak sudah berisi, rasa dinginnya bisa berkurang. Jika busnya tak jalan dingin AC itu memang gak begitu terasa. Tapi rupanya, di luar bus jauh lebih baik daripada di dalam bus. Ya, pada akhirnya aku turun, hehe. Benar saja, di luar lebih baik daripada di dalam. Aku beranjak ke toilet yang ada di sana. Sebelum sampai di toilet itu, aku melihat ada perapian di sana. Jadilah, aku berhenti sejenak di sana. Masih dalam rangka mendamaikan rasa dingin yang melilit diriku. Ah syukurlah, rasa dingin itu perlahan berhenti. Usai bersih-bersih dan segala macamnya, we take dinner together. Ehmm, ini momen yang udah lama ditunggu-tunggu si perut, hehe. Rasa dingin benar-benar mendukung perut untuk segera diisi dengan yang hangat-hangat. This is a special dinner.

Kita semua satu meja (mejanya besar soalnya) dan aku sepiring berdua dengan Ririn =). Menu yang aku dan Ririn pilih adalah dinner berlauk Ikan Asam Padeh. Aku ngikut aja sama Ririn untuk urusan pilih memilih lauk (udah lapar sih, hehe). Ha, satu yang gak boleh dilupakan itu teh manis panas. Pas amat untuk membuang rasa dingin itu jauh-jauh. 12 jam perjalanan memang belum sekali pun kami menikmakmati makanan/ minuman yang hangat-hangat. Dan inilah waktunya…. ^_^.

Don’t Look At Cover

Kumpul-kumpul gak lengkap tanpa foto-foto. Ya, of course, makan malam itu kami santap dengan jepretan dari beberapa angle. Kehebohan kami rupanya menjadi sorotan dan liputan utama orang-orang yang ada di rumah makan itu. Ehm, kami memang selalu jadi sorotan sepanjang jalan…, maklum, penulis-penulis hebat…, hehe (InsyaAllah…, Aamiin…). Bus yang sudah “teriak-teriak” mengharuskan kami untuk menyudahi dinner itu. Teh manis hangatku dan beberapa teman yang lain masih tersisa banyak. Ya, gak sanggup-lah kalau harus minum langsung teh sepanas itu =D. Jadilah, teh hangat itu dibungkus sesuai permintaan kami ke pihak rumah makan.

Belum benar-benar beranjak dari rumah makan (sambil menunggu pesanan kami yang lain untuk dibawa ke bus), seorang bapak yang kurasa adalah pemilik rumah makan itu “mewawancarai” aku dan Ririn =D. Pertanyaannya apresiasif sekali menurutku. Sampai-sampai di hatiku terlintas statement kalau si Bapak ini kayaknya lebih cocok jadi wartawan aja, hehe. Beliau tanya-tanya soal kampus kami, asal kami, kegiatan kami, dll. Bahkan beliau nyambung sekali diajak cerita soal kepenulisan (jangan khawatir, kami tetap ingat kok kalau bus kami udah “teriak-teriak” meski ngobrol setengah panjang dengan si Bapak itu =D). Ehm, ini cocok kali ya dengan istilah “Don’t look at cover”. Emang benar, kalau dilihat dari penampilan si Bapak, kayaknya gak mungkin beliau bakal tanya-tanya dan komentar hal yang begitu. (Bersambung….)