Bukan Sekolah Musik….


Oleh: Fitri A.B.

Kubiarkan jari telunjuk kananku berjalan dari satu baris ke baris berikutnya demi mencari namaku di antara nama-nama yang diterima di sekolah ini. Di beberapa kertas yang tertempel di mading sekolah ini. Di antara kerumunan orang-orang yang juga ingin melihat namanya dan nama anaknya. Dalam hati aku berharap agar tidak lulus. Tapi segera berganti menjadi harapan agar lulus seperti yang orangtuaku inginkan. Dan ternyata, aku lulus.

Antara bahagia dan enggak saat mengetahui dan menyadari ini. Soalnya, agak setengah hati untuk masuk ke sekolah ini. Aku penginnya sekolah musik, bukan sekolah agama alias Aliyah. Ah ya, bagaimana dengan kabar 2 teman dekatku saat Tsanawiyah, Adi dan Budi? Bukankah mereka juga pengin sekolah musik? Kapan bisa bertemu mereka dan menanyakan hal ini?

Tapi ada syukur memenuhi sudut hatiku. Di antara ratusan orang yang mendaftar, aku menjadi salah satunya yang lulus. Apalagi sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di kota ini. But there is something that make me agak gimana gitu ya. You know what? Temanku Aliyah, masa’ temanku Tsanawiyah juga. Ya, entah kenapa hampir semuanya daftar dan berkesempatan lulus di sekolah ini. Tapi tak apa, itu kan hak mereka. Masak mau aku larang. Toh, ada teman-teman baru dari sekolah lain juga kan yang sekolah di sini.

Oh ya, sampai pengumuman kelulusanku hari ini, aku masih saja teringat pada seorang guru di sekolah ini yang menjadi pengujiku ketika mengikuti ujian praktek. Entah kenapa, aku langsung merasa dekat dengan beliau. Aku suka caranya mengarahkan dan menguji kami saat itu. Semoga nanti masuk dan mengajar salah satu bidang studi di kelasku.

Benar, harusnya aku bahagia. Ya, aku mengakui dan menyadari itu. Enggak harus sedih seperti mereka yang gak lulus dan menyudut di beberapa sisi sekolah ini. Parahnya sampai ada yang menangis di pelukan Ibunya. Tapi aku salut untuk mereka yang mengiringi ketidaklulusannya dengan senyuman. Kurasa itulah dia yang sering disebut orang kesabaran dan ketabahan.Bagaimana menurutmu?

Dan ini akan menjadi sejarah dan fakta terhebat di hidupku. Lagi-lagi, aku harus masuk ke sekolah yang bukan pilihan utamaku. Ya, ini kedua kalinya. Pertama sekali adalah ketika aku enggak jadi masuk pesantren seusai SD. Akhirnya aku bersekolah di madrasah tsanawiyah yang sebenarnya tergolong favorit juga di kotaku.

By the way, sejak kelas 3 tsanawiyah aku emang pengin sekali bisa sekolah di sekolah musik. Bahkan sudah ada 1 sekolah yang kutaksir sejak lama. So pasti alasannya because I like music dan jiwa seni itu kayaknya emang udah ada di diriku (cie.., cie…^_^ ). Harapanku suatu saat bisa jadi seorang ahli atau pakar musik. Semacam musisi gitu-lah, hehe.

Karena akhirnya aku lulus di sekolah ini, harapan menjadi musisi pun sirna. Di sini mana ada pelajaran musik atau seejenisnya. Atau nanti aku les musik saja di luar sekolah ya? Ah, entahlah. Kurasa jalani saja dulu. Mungkin ada banyak hal menarik dari sekolah ini yang tidak kuketahui.

Statusku yang hanya seorang anak berusia remaja, so pasti membutuhkan bimbingan dan arahan dari kedua orangtuaku. Ya, masuknya aku ke sekolah ini adalah sesuatu yang terbaik menurut kedua orangtuaku. Jadi apa yang kuterima hari ini alias lulus di madrasah aliyah ini akan kucoba untuk tidak menyesalinya. Ah, lagi-lagi aku teringat dengan Adi dan Budi. Dimana mereka bersekolah jadinya?

_bersambung_

Iklan

2 thoughts on “Bukan Sekolah Musik….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s