Seperti Kata Ayah…, Harus Mandiri


Oleh: Fitri A.B.
Sekali lagi, nama yang tertera di kertas kelulusan itu memang namaku. Beberapa hari lagi, aku pun akan duduk di bangku sekolah ini. Mulai mengenal satu demi satu teman, guru, dan semua yang mau dan harus kukenal, hehe. Tapi sebelum itu semua…, aku harus daftar ulang dulu ^_^.

Urusan daftar ulang bukan urusan yang mudah rupanya. Pantas saja, yang lain minta ditemani orang tua atau saudaranya. Seperti Ida, teman baruku yang pertama atau Aiga, teman SD-ku yang akhirnya satu sekolah lagi denganku. Seperti yang lain yang urusannya ditungguin orang tuanya sampai selesai. Enak ya…? Dan aku…, seperti biasa melakukan semuanya sendiri sejak awal, hehe.

Seperti kata Ayah…, aku harus mandiri. Itu yang dikatakan Ayah sejak aku tamat SD dan hendak mendaftar ke sekolah lanjutan. Waktu itu, aku memang ditemani Ayah saat mendaftar, tapi sampai di sana, urusan tulis menulis berkas atau formulir, aku yang harus mengerjakannya. Kata Ayah tulisanku bagus dan rapi. Tapi kurasa itu hanya bujukan Ayah agar aku mau melakukannya ^_^. Padahal beberapa anak seusiaku yang juga mendaftar di sekolah itu, yang menuliskan formulirnya adalah orang tua mereka. Ayah memang begitu, padaku khususnya. Kurasa menanamkan kemandirian padaku adalah salah satu bentuk sayangnya padaku.

Soal tulis menulis, aku jadi ingat wali kelasku saat kelas 4 SD. Beliau dikenal dengan nama Pak Sardo. Guru yang paling kufavoritkan ya beliau. Jadi, ketika itu guru yang masuk di kelasku ada 2 guru saja, guru pelajaran Agama dan  wali kelas yang merangkap mengajarkan semua mata pelajaran kecuali Agama.  So pasti, guru Bahasa Indonesiaku adalah Pak Sardo sendiri.

Hal yang paling kuingat dari beliau adalah beliau hanya menerima tugas siswanya yang ditulis dengan tulisan tali (sambung). Awalnya rumit. Amat rumit. Tapi akhirnya, menjadi sesuatu yang menyenangkan, mengasyikkan dan menguntungkan. Kebiasaan itu membuatku mendapat kepercayaan dari beliau untuk menuliskan bahan pelajaran yang akan diajarkannya pada kami setiap kali ia masuk ke kelas kami. Lain waktu, wali kelasku saat kelas 6 SD memintaku menulis nama 2 temanku dan namaku di piagam penghargaan bagi yang juara. Jadi ceritanya, waktu itu aku dapat juara 2 dan otomatis dapat salah satu piagam, hehe. Berlanjut hingga aku sekolah tsanawiyah, aku dipilih dan dipercaya jadi sekretaris kelas sejak kelas 1 hingga kelas 3.

Nah, ada dua kenangan paling mengesankan di masa tsanawiyahku yang masih berhubungan dengan tulis menulis (maaf ya, agak lari sedikit, hehe). Suatu waktu, aku terlambat masuk ke sekolah. Sudah pasti dapat hukuman guru yang berwenang . Entah kenapa, waktu itu yang menghukum aku dan yang lain adalah guru Fiqihku. Malu, so pasti. Tapi, namanya terlambat, mau tidak mau ya harus dijalani hukumannya.

Nah, seusai mendapat hukuman, kami disuruh menuliskan nama kami di sebuah buku. Jangan tanya itu buku apa, sebab buku itu dikhususkan untuk yang bermasalah termasuk terlambat. Seusai menuliskan nama, kami disuruh bubar. Tapi entah kenapa, guruku itu memanggil namaku dan menanyaiku sesuatu hal. Dan pada akhirnya, beliau memintaku untuk menuliskan namaku dan nama seluruh temanku di kartu UAS yang masih kosong (pada waktu itu aku kelas 3 dan sudah mendekati masa Ujian Akhir Semester). Bahasa lainnya dapat job khusus, hehe. Eits, tapi ini bukan hukuman tambahan lho ya ^_^.  Aku sempat mengamati beliau sebelumnya bahwa beliau mengamati tulisan kami yang terlambat satu per satu. Dan sejak saat itu, aku jadi dekat dengan guruku itu. 🙂

Next experience is saat aku diminta salah satu guru Matematiku yang akan pindah tugas ketika itu. Ada beberapa berkas yang harus diselesaikannya dan beliau memintaku untuk membantunya menyelesaikan hal itu. Dan semuanya harus diselesaikan dengan tulisan tangan.

Sampai hari ini, aku berterimakasih sekali pada Pak Sardo untuk kebiasaan baik yang pernah ditanamkannya padaku dan teman-temanku ketika SD dulu. Sebab ini pula, aku bisa membantu Mama dan Ayah menuliskan raport hasil belajar siswa mereka sejak aku kelas 1 tsanawiyah. Suatu saat…, semoga bisa bertemu lagi dengan beliau. Buatku, beliau adalah guru yang luar biasa.

Dan hari ini, semua berkas daftar ulang yang diberikan pihak sekolah kutulis sendiri. Semua urusan ini dan itu, I do it myself. Sebelum berangkat ke sini sebenarnya aku sudah meminta Ayah untuk menemaniku. Bersebab Ayah ada urusan dan Ayah percaya aku bisa sendiri, jadilah aku mengurus semuanya sendiri. Ayah…, aku tahu di sana kau pasti mendoakanku agar urusanku hari ini cepat selesai ^_^.

Akhirnya, urusan daftar mendaftar ulang pun selesai, termasuk urusan bayar membayar yang perlu dibayar. Lelah juga mengurus semuanya sendiri. Ketika berniat pulang, aku bertemu Ida dan saudaranya yang menemaninya daftar ulang. Rupanya mereka pun hendak keluar sebab urusannya sudah selesai. Di gerbang sekolah kami bertemu dan tanpa basa basi dia mengajakku untuk makan siang di seberang sekolah alias mentraktirku.  Sampai di rumah nanti, akan kuceritakan semua yang kualami hari ini pada Ayah dan Mama’ ^_^. Dan akhirnya, aku  memang benar-benar jadi bersekolah di sekolah ini.

-Bersambung-

Iklan

Bukan Sekolah Musik….


Oleh: Fitri A.B.

Kubiarkan jari telunjuk kananku berjalan dari satu baris ke baris berikutnya demi mencari namaku di antara nama-nama yang diterima di sekolah ini. Di beberapa kertas yang tertempel di mading sekolah ini. Di antara kerumunan orang-orang yang juga ingin melihat namanya dan nama anaknya. Dalam hati aku berharap agar tidak lulus. Tapi segera berganti menjadi harapan agar lulus seperti yang orangtuaku inginkan. Dan ternyata, aku lulus.

Antara bahagia dan enggak saat mengetahui dan menyadari ini. Soalnya, agak setengah hati untuk masuk ke sekolah ini. Aku penginnya sekolah musik, bukan sekolah agama alias Aliyah. Ah ya, bagaimana dengan kabar 2 teman dekatku saat Tsanawiyah, Adi dan Budi? Bukankah mereka juga pengin sekolah musik? Kapan bisa bertemu mereka dan menanyakan hal ini?

Tapi ada syukur memenuhi sudut hatiku. Di antara ratusan orang yang mendaftar, aku menjadi salah satunya yang lulus. Apalagi sekolah ini menjadi salah satu sekolah favorit di kota ini. But there is something that make me agak gimana gitu ya. You know what? Temanku Aliyah, masa’ temanku Tsanawiyah juga. Ya, entah kenapa hampir semuanya daftar dan berkesempatan lulus di sekolah ini. Tapi tak apa, itu kan hak mereka. Masak mau aku larang. Toh, ada teman-teman baru dari sekolah lain juga kan yang sekolah di sini.

Oh ya, sampai pengumuman kelulusanku hari ini, aku masih saja teringat pada seorang guru di sekolah ini yang menjadi pengujiku ketika mengikuti ujian praktek. Entah kenapa, aku langsung merasa dekat dengan beliau. Aku suka caranya mengarahkan dan menguji kami saat itu. Semoga nanti masuk dan mengajar salah satu bidang studi di kelasku.

Benar, harusnya aku bahagia. Ya, aku mengakui dan menyadari itu. Enggak harus sedih seperti mereka yang gak lulus dan menyudut di beberapa sisi sekolah ini. Parahnya sampai ada yang menangis di pelukan Ibunya. Tapi aku salut untuk mereka yang mengiringi ketidaklulusannya dengan senyuman. Kurasa itulah dia yang sering disebut orang kesabaran dan ketabahan.Bagaimana menurutmu?

Dan ini akan menjadi sejarah dan fakta terhebat di hidupku. Lagi-lagi, aku harus masuk ke sekolah yang bukan pilihan utamaku. Ya, ini kedua kalinya. Pertama sekali adalah ketika aku enggak jadi masuk pesantren seusai SD. Akhirnya aku bersekolah di madrasah tsanawiyah yang sebenarnya tergolong favorit juga di kotaku.

By the way, sejak kelas 3 tsanawiyah aku emang pengin sekali bisa sekolah di sekolah musik. Bahkan sudah ada 1 sekolah yang kutaksir sejak lama. So pasti alasannya because I like music dan jiwa seni itu kayaknya emang udah ada di diriku (cie.., cie…^_^ ). Harapanku suatu saat bisa jadi seorang ahli atau pakar musik. Semacam musisi gitu-lah, hehe.

Karena akhirnya aku lulus di sekolah ini, harapan menjadi musisi pun sirna. Di sini mana ada pelajaran musik atau seejenisnya. Atau nanti aku les musik saja di luar sekolah ya? Ah, entahlah. Kurasa jalani saja dulu. Mungkin ada banyak hal menarik dari sekolah ini yang tidak kuketahui.

Statusku yang hanya seorang anak berusia remaja, so pasti membutuhkan bimbingan dan arahan dari kedua orangtuaku. Ya, masuknya aku ke sekolah ini adalah sesuatu yang terbaik menurut kedua orangtuaku. Jadi apa yang kuterima hari ini alias lulus di madrasah aliyah ini akan kucoba untuk tidak menyesalinya. Ah, lagi-lagi aku teringat dengan Adi dan Budi. Dimana mereka bersekolah jadinya?

_bersambung_