YJK #3: Aku dan Pipiet Senja (Episode kedua: Deg-Degan + Senang)


Oleh: Fitri A.B.

Perjalananku ke kampus pagi ini ditemani adikku, Kiki. Hari ini akan menjadi hari yang mengesankan dalam hidupku. Do you know what? Aku menjadi pembedah bukunya Bunda “Catatan Cinta Ibu dan Anak”. Ini kali kedua aku membedah buku but this is the first time aku aka membedah buku penulis fenomenal. Hmmm, curhat sedikit tentang asal muasal kenapa Fitri A.B. alias aku bisa menjadi pembedah buku itu, boleh ya?^^. Begini ceritanya….

Aku sudah menghubungi seseorang terbaik yang menurutku cocok untuk membedah bukunya Bunda itu. Sebut saja namanya Aini. Karena sesuatu hal, beliau meminta maaf karena tidak bisa menjadi pembedah meskipun sudah sempat mengatakan bersedia sebelumnya. Tanpa menunggu lagi, kuajak akalku bekerja untuk mencari siapa kiranya yang bisa menggantikan beliau. Hmm, akhirnya dapat juga satu nama. Dia adalah Naila (bukan nama sebenarnya).

Betapa leganya aku ketika beliau mengatakan bersedia. Beberapa kali kucoba menanyakan beliau dalam rangka meyakinkan diriku kalau beliau memang bisa. Jawabnya tetap sama bahwa beliau memang bisa. But, the bad fact come. Tiba-tiba, beliau bilang tidak bisa datang. Ia meminta maaf sebab lupa bahwa ia ada urusan di hari yang sama. Siapa lagi ya?

Kucoba tuntaskan kebingunganku dengan menghubungi panitia. Aih, betapa terkejutnya aku saat tiba-tiba mereka mengusulkan pembedahnya adalah aku. Bayangan apa yang akan terjadi saat aku membedah buku Bunda datang. Sms dari panitia pun kian menerorku. Mereka butuh jawabanku segera karena akan dicantumkan di brosur yang harus secepatnya dicetak. Di satu sisi aku senang sebab ini akan menjadi kesempatan berharga buatku untuk lebih baik lagi dalam membedah buku alias akan menjadi ajang pembelajaran khusus buatku. Di sisi lain, ada rasa khawatir menelusup di hatiku. Aku takut mengecewakan panitia dan Bunda.

Akhirnya dengan harap-harap cemas kukatakan jawabanku lewat sebuah sms….

“Asw. Maaf agak lama balasnya. Dengan basmalah insyaAllah Fitri A.B. bisa…”

Hufft…, begitulah ceritanya. ^^

Next story. Sebelum detik-detik yang ditunggu tiba, aku menyempatkan untuk promosi acara Bunda selama beberapa hari kedepan termasuk yang beberapa jam lagi akan tiba di FB-ku. Sekalian menghilangkan rasa cemas dan deg-degan yang sebenarnya mulai menghampiriku.

Jam 2 di depan aula IAIN SU. Aku duduk bersama Kiki menunggu Bunda dan rombongan Pak Isra. Beberapa kali aku melirik jam tanganku dan beberapa kali pula panitia menanyakan keberadaan Bunda. Hmm, kukira pasti mereka sudah tak sabar menunggu Bunda, sama seperti aku yang akan duduk di sebelah Bunda saat acara bedah buku nanti. Oh sungguh, detik-detik itu akan segera tiba….

“Kami sudah dekat, mba Fitri.” Sms dari Pak Isra

Sms itu tidak membuatku deg-degan lagi. Debaran di jantungku perlahan mereda. Aku lebih tenang. Hmm, itu karena aku memang berusaha untuk tenang. Harus itu, iyakan? J.

Sedan hitam melaju perlahan menuju aula. Bunda dan rombongan Pak Isra ada di dalam. Aku dan Kiki berjalan menuju mobil itu. Ketika Pak Isra menghentikan mobilnya, kami pun naik. Mobil kembali melaju menuju masjid Al-Izzah IAIN SU. Hmmm, saat yang dinanti pun akan tiba.

Catatan Cinta Ibu dan Anak di IAIN SU

Ini dia moment yang paling ditunggu-tunggu. Terbukti dengan sudah ramainya masjid dengan peserta dan panitia. para panitia sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Saat panitia tahu kalau Bunda telah memasuki masjid, mereka mulai mengarahkan para peserta yang berserak disana sini.

Dalam hitungan beberapa menit, peserta sudah berada dalam posisinya masing-masing, sesuai dengan instruksi panitia di dalam masjid. Kaum hawa di sebelah kanan dan kaum adam di sebelah kiri kami (aku, Bunda, dan Tika). Iya, di depan dengan posisi menghadap peserta sudah ada pembedah buku yaitu Fitri A.B. alias aku, Bunda sebagai penulisnya dan Tika sebagai moderator. Semua sudah berada di posisinya masing-masing dengan tugas masing-masing. Termasuk para panitia yang bertempat di beranda Masjid. Mereka menjadi seller buku-buku Zikrul Hakim di acara itu.

Peserta begitu antusias dan semangat mengikuti acara ini. So pasti, itu dibuktikan dengan ekspresi para peserta saat mendengarkan dan banyaknya pertanyaan yang muncul secara lisan dari mereka. Penulis sendiri, yaitu bunda Pipiet Senja juga tak kalah semangatnya. Dengan gaya dan logat khasnya, peserta yang hadir sesekali dibuat tersenyum-senyum. Semangat dan apa yang disampaikan beliau tampaknya begitu menyihir para peserta. Bagaimana dengan pembedah sendiri? Hmm, baiknya kita tanya peserta yang hadir, moderator atau bunda sendiri…, hehehe.

Acara usai tepat ketika tidak lama adzan Ashar tiba. Sementara begitu acara benar-benar ditutup, Bunda “diculik” kesana kemari oleh para peserta demi mendapatkan tanda tangan dan foto Bunda. Begitupun ketika Bunda telah selesai shalat Ashar, Bunda masih saja “diculik”.

Ada ajakan Bunda yang membuat aku dan Tika surprise. Bunda mengajak kami jalan-jalan ke Berastagi bersama pak Isra dan stafnya sore itu juga. Adikku, Kiki, ia memilih untuk pulang sebab ia ada suatu keperluan di rumah.

(Syukran katsir untuk kawan-kawan panitia LDK Al-Izzah IAIN SU^^)

Mendadak Panik

Apakah gerangan yang Bunda pikirkan? Kenapa ia begitu panic? Begitu kata hatiku ketika melihat wajah Bunda ketika kami masih berada di beranda masjid. Sementara kulihat di sudut yang tak jauh dariku, para panitia sedang menunggu kesediaan Bunda untuk berfoto bersama mereka. Di sudut yang lain, seorang akhwat juga tengah menunggu satu kesempatan baik untuk mendapatkan tanda tangan Bunda.

Aku memberanikan diri mendekati Bunda menanyakan apa yang terjadi. Hmm, iya walaupun sempat ada rasa khawatir kalau pertaanyaanku itu akan menimbulkan kesan ingin tahu sesuatu yang tak harusnya kutahu. Ternyata eh ternyata, si Bunda memberitahukanku masalahnya. Rupanya kekhawatiran Bunda ada hubungannya dengan Butet yang saat itu minta dikirimkan uang melalui ATM oleh Bunda untuk suatu kepentingan yang mendesak. Begitukan Bunda? ^^

Berastagi, Kami Datang…

Kami berhenti sejenak di kantor Zikrul Hakim. Kesempatan ini kami gunakan untuk melihat-lihat kantor itu dan kepentingan lainnya, termasuk poto-poto bersama Bunda dengan ekspresi masing-masing tapi dengan satu rasa, BAHAGIA.

Oya, orang-orang yang akan ke Berastagi bertambah 4 orang lagi.ada Mba Win, Fitri Arniza, Fauziah Harsyah Butet, dan Zuliana Ibrahim. Ko’ bisa? Iya, tadi setelah dari IAIN SU, kami singgah ke rumah Mba Win untuk suatu keperluan, termasuk mengajak Mba Win turut bersama kami. Ketika aku turun dari mobil Pak Isra, hendak masuk ke gang-nya Mba Win untuk melihat Mba Win apakah sudah di rumahnya atau belum (mobil ga bisa masuk soalnya…J), ada 3 orang perempuan yang menghampiriku tiba-tiba dengan nafas terengah-engah dan keringat dingin.

“Ka, mana teh Pipiet? Mana teteh itu sekarang ka?” itu pertanyaan mereka kepadaku dengan semangat 45.

“Itu di dalam yang mobil warna hitam.” Kataku sambil terheran-heran dengan aksi mereka. Tangan mereka dingin semua saat kami bersalaman. Kurasa itu efek dari keinginan mereka yang menggebu-gebu untuk bertemu Bunda. Hufft, adik-adikku ini, ada-ada saja!^^

Alhasil, perjalanan itu benar-benar ramai. Pak Isra dengan stafnya duduk di bagian depan. Bunda, aku dan Mba Win duduk di belakang Pak Isra. Dan dibagian paling belakang, sudah pasti penghuninya adalah Fitri, Fauziah, Zuliana dan Tika. Sesekali ada canda tawa yang hadir di tengah-tengah kami. Tentu narasumber utamanya adalah Bunda.^^

Bunda rupanya sudah prepare makanan kecil untuk perjalanan ke Berastagi. Kami yang diajak tiba-tiba, jadinya ikut bantuin Bunda makan, hehehe. Suasana juga tambah ramai waktu Pak Isra membelikan goreng pisang Raja untuk disantap di mobil.

Mendekati Sibolangit, hawa dingin mulai terasa. Jaket yang kupinjam dari Sri Maulina, salah seorang panitia acara Bunda di IAIN SU saat tiba-tiba Bunda mengajak kami ke Sibolangit pun kupakai. Aku sangat “anti” dengan cuaca dingin. Kalau cuaca dingin dan aku tidak memakai jaket, tidak tahu apa jadinya aku ini (jadi ingat rasa dingin yang menusuk tulangku saat bermalam di Sibolangit beberapa waktu lalu ^^).

Di senja sore berwarna kuning kemerah merahan, perjalanan itu kami mulai. Ini akan menjadi bagian yang tak akan terlupakan juga, begitupun diskusi kecil soal menulis yang terjadi di antara kami saat itu.

Jalan menuju Berastagi yang terjal dan kecil dengan tikungan yang tajam dan berbahaya, sesekali membuat kami panik, termasuk Bunda. Kemacetan juga sempat terjadi di salah satu sisi jalan yang kami lalui. Ups, rupanya sedang hari libur alias tanggal merah. Kemacetan yang panjang ini selain karena ukuran jalannya yang sempit ternyata juga karena banyak orang-orang yang berlibur atau pulang kampung dengan menggunakan kendaraan pribadi, khususnya mobil. Itu kesimpulanku….

Pak Isra’ tampaknya tahu kalau kami semua sudah lapar. Hmmm, kami pun singgah di rumah makan Garuda yang ada di sekitar sana. Alhamdulillah…, jarang-jarang begini bisa makan malam bareng penulis hebat alias Pipiet Senja. Whua…, ada kejadian yang membuatku tersenyum sendiri. Setelah sebelumnya para penghuni mobil pada diam semua (mungkin karena lapar), spontan semuanya kembali ceria. Ini pasti karena sudah makan, iya ga Mba Win, Fitri, Ana dan Tika…?Tak akan terlupakan….

Senja berganti langit yang kelam. Sudah malam. Tapi kami belum juga sampai di tempat tujuan kami. Cerita punya cerita, ternyata butuh beberapa jam lagi untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Hufft…, sementara jam sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Beberapa menit kemudian, kami singgah kembali. Kali ini bukan singgah di rumah makan tapi singgah di Masjid Kamal yang berada di depan Pusat Rehabilitasi Narkoba. Masjid yang selalu membuatku terkesima. Meski ukurannya tidak terlalu besar, tapi suasananya…hmmm, I like it.

Di sudut masjid, ternyata Mba Win tengah istirahat. Mendadak Mba Win kurang sehat. Kondisi ini membuat kami bingung meskipun Mba Win sudah mengatakan kalau ia akan istirahat di masjid itu saja selagi kami melanjutkan perjalanan ke Berastagi. Bunda pun sepertinya paham akan kondisi Mba Win. Menimbang, memikirkan…., dst, akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Selain itu, butuh beberapa jam lagi ternyata utuk benar-benar bisa sampai ke Berastagi. Kepulangan kami juga karena memikirkan kondisi Bunda yang pasti begitu lelah sementara besok sudah harus mengisi acara lagi paginya.

Beberapa km perjalanan, satu per satu, perlahan tapi pasti, kami mulai tertidur, kecuali Pak Isra dan stafnya. Jalanan yang tidak rata, sesekali membuat kami terbangun. Setelah itu, tidur dilanjutkan kembali hingga kami benar-benar tidak sadar kalau kami sudah sampai di tujuan kami…. However, this’s a nice trip for me.

Nginap di Zikrul bersama Bunda, Tak Terbayangkan…J

Malam ini Bunda tidak tidur di rumah Mba Win. Pak Isra sudah menyediakan tempat malam ini di kantor Zikrul Hakim. Ada sebuah kamar telah disediakan Pak Isra di sana. Tadinya aku mau tidur di rumah Mba Win tapi rupanya Pak Isra memintaku agar ikut juga ke kantor untuk menemani Bunda. Sebenarnya tanpa diminta pun aku mau saja ikut tapi ada rasa khawatir kalau kamar yang disediakan oleh Pak Isra hanya cukup untuk Bunda.

Hmmm, dengan rasa bahagia plus terharu (cie…,cie…), aku ikut bersama Bunda dan Pak Isra. Tika juga ikut dan dia sungguh senang. Waktu yang menunjukkan pukul 23.00 wib tidak memungkinkannya untuk kembali ke kosnya.

Tak ada sms atau telpon dari orang rumahku (orangtuaku dan adik-adikku maksudnya…, hehehe) yang intinya menanyakan keberadaanku. Sudah biasa seperti ini dan aku selalu berusaha untuk jujur dan amanah pada orangtuaku, apalagi urusan inap-menginap (jadi ingat masa-masa pesantren kilat di Aliyah dulu…. Lebih kurang seminggu lamanya panitia tidak membolehkan pulang). So, untuk kali ini, aku gampang minta izinnya.

Kami diantar menuju kamar yang sudah disiapkan. Alhamdulillah, rupanya kamarnya cukup luas dan tempat tidurnya cukup untuk 3 orang. Hmm, istirahat pun dimulai. Tunggu…! Tentu aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Dalam kelelahan yang kurasa menyergap kami, begitupun Bunda, kami (aku dan Bunda) diskusi kecil-kecilan. Soalnya di belahan tempat tidur yang lain, Tika telah terlelap. Kukira dia sangat kelelahan. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, seakan tak ada lelah menyergapi kami.

“Bunda…, apa yang membuat Bunda begitu mudah mengizinkan anak Bunda menikah?” tanyaku serius

(Bersambung…)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s