Membincangkan Rindu #3


Oleh: Fitri A.B.

Jangan tanya apa rasanya jika bertemu dengan yang (paling) dirindu. Sekalipun rasa itu tersembunyi, kau bisa mendengarnya pada tiap sisi angin yang kemarin menutupi segala resah. Ya, sejenak rindu itu usai. Sebab sekali lagi, pertemuan adalah satu-satunya cara paling ampuh ‘tuk melepaskan hati dari rindu itu. Kapan pun itu.

Ada yang harus kita persiapkan setelah pertemuan kali ini. Mau tidak mau, sadar tidak sadar, tiap etalase paling sendu mata kita kan disesaki rindu lagi. Sebab nyatanya, perpisahan masih menjadi bagian dari perjalanan kita. Kita bertemu, lalu berpisah. Bertemu lagi, lalu berpisah  lagi. Begitu seterusnya. Perjalanan yang melelahkan, bukan?

Lain waktu, kita perlu berakad pada waktu dan hati masing-masing. Bahwa ini hanya ‘tuk sesaat. Sebab tetap harus ada ujung pada setiap hal di hidup kita. Begitu pun rindu. Dan hari ini, aku masih merindu. Sebab temu yang sejenak dan tak terencana, mungkin belum bisa menyudahi rindu.

-250312-

Iklan

Membincangkan Rindu #2


Oleh: Fitri A.B.

Kau benar, rindu adalah lirik paling sunyi dari tiap langkah kita yang masih menegak hingga hari ini. Kita tak akan pernah menemu wujudnya. Tapi, kita bisa mendengarnya pada rinai hujan, bisik dedaunan, geliat angin, ilalang-ilalang berembun di kota kita dan tentu di ruang paling sendu mata itu. Rindu, kurasa kau pun (pernah) akrab dengannya.

Kau pun pasti tahu, bahwa akhir dari rindu adalah pertemuan. Meski sebentar, meski tak direncanakan. Kurasa kita pun sama-sama tahu, bahwa tiap kali rindu menjadi penunggu paling setia di sudut paling sembunyi hati kita, Allah menjadi yang pertama sekali menyaksikan dan mendengarnya. Semoga kita tak lupa untuk menugu rindu itu pada-Nya, agar tak keliru. Sebab rindu kita pada yang lain jika tak kita bingkai dengan sebaik-baik bingkai, rupanya bisa menjadi penyebab jauhnya kita dengan Rabb kita.

-240312-