YJK #2: Aku dan Pipiet Senja


(Episode 1: Ketika Segala Rasa Bercampur Aduk)

Oleh: Fitri A.B.

Ini bukan pertama kalinya aku bertemu perempuan itu. ini sudah yang ke-4 kalinya. Pertama, saat ia berkunjung ke Rumah Cahaya FLP Sumut sekitar tahun 2005. Kedua, saat aku menjadi salah satu utusan FLP Sumut untuk hadir dalam acara SILNAS FLP di Depok tahun 2008. Ketiga, saat aku menjadi utusan FLP Sumut untuk hadir dalam acara Up Grading Nasional di Jogjakarta, Februari 2011 yang lalu. keempat, di bandara Polonia, di depan pintu kedatangan. Hmmm, oh ya, perempuan itu bernama Pipiet Senja. Aku memanggilnya dengan Bunda. Ya…, Bunda Pipiet Senja…. Ketiga pertemuanku itu beda dengan pertemuanku yang keempat ini. Lebih berkesan…, menurutku.

Inilah kisahku di pertemuan kami yang keempat…. Check it out…, ya! ^^

Bandara Polonia-Medan, pukul 15.30 wib

Setelah keliling dari satu tempat ke tempat lainnya bersama Pak Isra (Kepala Cabang Zikrul Hakim), stafnya dan temanku Tika untuk mengantarkan buku Pipiet Senja yang rencananya akan dibedah selama 3 hari ke depan, aku dan Tika memutuskan untuk stay di Bandara Polonia saja. Pak Isra and staf-nya memilih untuk kembali ke kantornya untuk suatu kepentingan.

Aku mengira Bunda akan tiba pukul 16.00 wib. Rupanya Bunda telah mengabarkan pada Pak Isra bahwa ia akan tiba sekitar pukul 18.00 wib. Padahal aku dan Tika sudah tak sabar ingin berjumpa dengannya, perempuan penyuka warna ungu. Tapi aku tak mau ambil pusing soal itu. menunggu beberapa jam lagi aku pikir bukan masalah besar. Akhirnya, aku dan Tika memutuskan untuk istirahat sejenak di Mushalla bandara sambil menunggu Ashar tiba.

Tentu aku dan Tika tidak menghabiskan waktuku hanya di Mushalla. Aku mengajaknya berjalan menuju anjungan bandara. Dengan modal Rp 2 Ribu per orangnya, siapa saja bisa masuk ke anjungan itu dan menikmati panorama lapangan bandara itu dari jauh. Ada penumpang dan pesawat yang baru datang dan akan berangkat disana. Aku jadi ingat berita di televisi beberapa waktu lalu, yang menyatakan kalau lapangan bandara Polonia terkena banjir.

Sejenak saja kami menatap ke lapangan bandara itu. kami lebih banyak menghabiskan waktu kami untuk diskusi, cerita dan membaca. kulihat Tika sudah tak sabar untuk bertemua dengan Bunda, begitupun aku sebenarnya. Sampai-sampai kami tak bosan-bosannya melirik ke jam yang ada di HP kami sampai beberapa kali.

Oh No…, Batre HP-ku Low…!

HP-ku berbunyi. Tapi bukan bunyi panggilan masuk, sms, atau alarm. Itu bunyi yang paling ku khawatirkan terjadi di saat-saat penting. Itu bunyi yang menandakan kalau HP-ku batrenya low. Kalau bawa charger sih masih lumayan. Aku sama sekali tidak bawa charger. Belum lagi penuturan Tika yang membuat kami tertawa tapi juga cemas.

“Ka…, kita sama. HP Tika juga udah low batrenya. Bahkan udah mati total dan Tika ga bawa charger juga. Hehehe. HP kakak kan belum mati total, ya udah sekarang matikan aja dulu. Sekitar jam 6 nanti, baru hidupkan lagi. nanti Pak Isra dan Teh Pipiet susah menghubungi kita.” Katanya serius. Kuturuti kata-katanya dan kurasa itu tepat sekali.

1 jam telah berlalu. Tika melirik jamnya dan sudah jam setengah 5 rupanya. Bosan juga lama-lama duduk di anjungan itu. kami memutuskan untuk turun dan duduk di bangku tunggu yang ada di sekitar kios-kios penjual makanan. Di dekat kami muncul 2 anak balita lucu dan menggemaskan dengan didampingi baby sitter-nya masing-masing. Yang satu sangat aktif, suka melompat-lompat dan suka ke sana-sini. Baby sitter yang bersamanya pun kulihat kelelahan di buatnya. Yang satu lagi tidak begitu aktif tapi berusaha mengikuti apa yang dilakukan balita satu lagi dengan ditemani baby sitter-nya pula. Beberapa menit kemudian, baru kusadari kalau mereka kembar (bukan baby sitter-nya lho ya… tapi balitanya, hehehe). Dan aksi mereka itu cukup menghibur kami.

Mendekati jam 6, kami beranjak ke luar menuju pintu kedatangan. Tapi, aku minta Tika menemaniku membeli 2 botol air mineral di sala satu kios yang ada disitu.

“Akan kuminum saat berbuka puasa nanti.” pikirku saat itu

Cukup jauh juga berjalan dari pintu keberangkatan ke pintu kedatangan. Dengan semangat yang tak kami izinkan untuk pergi dari kami di masa-masa seperti itu, kami menikmati masa penantian kami untuk Bunda Pipiet Senja. Hari ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan. Aku dan Tika mengakui itu.

Mimpi-Mimpi Menjelang Senja…

“Suatu saat aku harus punya mobil pribadi.” Ucapku lirih karena melihat mobil-mobil yang parkir di sekitar bandara. Ternyata Tika mendengarnya.

“Amiin ya Rabb….” Katanya kemudian

Doaku di senja itu kuharap didengar oleh-Nya. Begitupun doaku tentang impianku menjadi penulis hebat yang menulis buku-buku inspirasi hingga di undang kemana-mana, tentang impianku yang yang kuucap di depan pintu kedatangan itu.

“Suatu saat aku akan melewati pintu itu lagi dengan status sebagai orang yang baru kembali dari perjalananku mengelilingi dunia.” Kataku lirih dan Tika mengaminkannya. Aku tersenyum. Mimpi-mimpi itu spontan terucap tapi dengan harapan bisa terwujud secara spontan juga…, hehehe. Bisa tidak ya?

Terinspirasi dari orang-orang hebat nih kayaknya. Orang-orang yang sukses dengan menulisnya, termasuk sosok yang kami tunggu itu, Bunda Pipiet Senja.

“Tika…, suatu saat kita yang harus dijemput oleh orang lain sebab undangan tertentu/ khusus….” Kataku serius. Whua…, ini impian atau impian ya? J

“Iya ka’. Amiin ya Rabb….”

Menjelang Maghrib…

Tidak ada tempat duduk di sekitar pintu kedatangan. Atas inisiatif kami (ciee…^^), kami duduk di troli yang nganggur di dekat kami. Sesekali kami berdiri tepat di depan pintu kedatangan berharap Bunda telah datang sebab waktu menunjukkan telah lewat dari jam 6. Tidak lama kemudian, karena Bunda belum juga tiba, kami pun kembali ke tempat semula alias duduk di troli. Mendadak ada “penggusuran”. Ya…, kami disuruh pindah dari troli itu karena akan dibawa masuk semua ke dalam. Hmmm, sepertinya ada pesawat yang baru tiba.

Sayup kudengar adzan berkumandang dari menara masjid yang wujudnya bisa kulihat dari posisi berdiriku. Tidak ada pilihan lain. Kami memutuskan untuk duduk di sebuah tembok pembatas berukuran sekitar 15 cm di atas lutut menghadap ke pintu kedatangan. Duduk di antara supir taksi. Aku mengeluarkan air mineralku dan meminumnya dengan niat berbuka puasa. Kurasakan puasa kali ini nikmat sekali (terimakasih ya Allah…).

10 menit kemudian, kami berjalan kembali menuju beranda pintu kedatangan. Ada keyakinan kalau Bunda akan segera keluar dari pintu kedatangan.

“Tika…, kakak yakin, pasti Bunda datangnya dengan jilbab ungu.” Kataku pada Tika

Beberapa menit kemudian dan dari kejauhan, ada perempuan berjilbab ungu berjalan dengan semangat menuju pintu keluar. Benar saja, perempuan itu adalah Bunda Pipiet Senja. Maka, begitu Bunda keluar, kami langsung meraih tangannya dan menyalaminya bergantian. Pak Isra yang sejak jam 5 sore juga sudah stay di Bandara pun turut menghampiri Bunda.

Perjalanan dimulai. Mobil Pak Isra melaju dengan cepat tapi tetap hati-hati. Lampu-lampu jalan sudah menyala dengan sempurna dimana-mana. Malam itu, kami menyusuri kota Medan bersama seorang penulis hebat. Sepanjang perjalanan ada obrolan-obrolan kecil di antara kami. Tak jarang, ada tawa kecil di sela-sela obrolan kami. Lebih tepatnya saat mendengar cerita Bunda tentang perjalanannya dari Jakarta ke Medan.

Sempat bingung akan membawa Bunda makan dimana. Tapi akhirnya, food court yang berada di dekat Masjid Raya menjadi pilihan Pak Isra. Sampai detik itu, aku masih canggung berhadapan dengan Bunda walaupun sudah keempat kalinya bertemu. Hmmm, tapi setiap kali perasaan canggung itu datang, aku mencoba untuk menepisnya.

Makan malam dimulai… (hmm, Alhamdulillah…,berkah puasa ini. Bisa makan malam dengan Bunda… hehehe). Bunda memilih soup untuk menu makan malamnya. Aku dan Tika memilih Mpe-Mpe Palembang. Makan malam yang tak terlupakan. Suasana sepi di food court menjadi ramai dengan obrolan Bunda yang lucu tapi memotivasi. Ya, di sela-sela obrolan kami, Bunda menyuntikkan motivasi menulis untuk kami, tepatnya Aku dan Tika. Aih…, jadi lebih semangat menulis setelah itu.

“Sekarang ini sudah tidak ada lagi sastrawan, khususnya dari daerah yang karyanya dikenal dan dikenang banyak orang, seperti Buya Hamka, dsb.” Lebih kurang, itu adalah salah satu ucapan Bunda saat kami makan malam di food court yang berkesan bagiku.

Sebelum beranjak dari food court, Bunda bilang kalau ia tidak mau tinggal di hotel selama di Medan. Kulihat wajah Pak Isra agak bingung sebab mereka sudah booking satu kamar di salah satu hotel di Medan. Kebingungan Pak Isra juga karena bingung mau membawa Bunda kemana. Awalnya Bunda menanyakan rumahku, apakah bisa dijadikan tempat Bunda menginap. Whuaa…, betapa terkejut dan senangnya aku saat Bunda menanyakan itu. Tapi bukan aku tak senang dan tak mau Bunda meginap di rumahku. Rumahku yang cukup jauh dan suasanya yang cukup ramai kupikir akan mengganggu Bunda. Kalau rumahku dekat, sudah aku tawarkan duluan…^^ dan pasti akan menjadi cerita seru yang tak terlupakan pula.

Akhirnya…, rumah Mba Win menjadi sasaran kami (Mba Win, thanks yo…^_^). Itu pun dengan perjuangan yang cukup menguras hati. Iya…, soalnya HP-ku mati total dan nomor Mba Win ada di HP-ku, bukan tersimpan di SIM card-ku. Tika turut bingung kubuat, apalagi HP-nya juga mati. Dengan Basmalah, kucoba untuk menghidupkan HP-ku. Alhamdulillah, bisa juga HP-ku hidup. Tapi aku tahu, HP-ku hanya bisa bertahan sampai beberapa menit saja. Dengan cepat dan perasaan cemas, ku ketik sesingkat pesan untuk Mba Win. Isinya…

“Asw. Mba Win, ni Fitri FLP. Tlg hubungi nmor ni ya mba xxxx. Segera. HP f3 lobet. Da yg mau di blg soal Pipiet Senja.”

Tahukah nomor siapa xxxxx itu? Itu nomor Pak Isra…, hehehe. Ia benar-benar bingung saat Mba Win kemudian langsung menghubungi nomornya sampai Mba Win akhirnya menyebut namaku pada Pak Isra. Aku meminta maaf dan minta izin pada Pak Isra karena menggunakan HP-nya.

Masalah selesai. Bunda kami bawa ke rumah Mba Win. Kami sempat ngobrol beberapa menit. Kulihat jam dinding Mba Win, sudah jam 8 malam rupanya. Aku harus cepat pulang karena tidak mungkin malam itu aku menginap di rumah Mba Win. Aku tidak bawa pakaian ganti dan besok paginya aku juga harus memastikan kesiapan acara di IAIN SU.

Dengan berat hati, aku dan Tika pun pamit pada Mba Win dan Bunda. Ku katakan bahwa besok malam aku akan menginap bersamanya. Aku yakin akan ada hal-hal seru dan bermanfaat selama bersama Bunda beberapa hari kedepan. Dan aku tak mau melewatkan itu…. (Bersambung)

*In memoriam 2011 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s