Catatan Kehidupan #6: Kata Siapa Aku Tidak Ingin Menikah….


Oleh: Fitri A.B.

 

Dulu sebelum selesai S1, hampir semua orang menanyakan hal ini padaku.

“Fit, kapan wisuda?” dengan nada penuh semangat

Menghadapi pertanyaan itu, aku tersenyum dan hanya meminta doa dari mereka agar segala urusanku tentang skripsiku itu segera selesai. Tetap berusaha tidak menunjukkan kesedihan dan keluhan meski selama proses bimbingan proposal hingga skripsinya ada banyak hal yang harus kuperjuangkan mati-matian. Mulai dari urusan tunggu menunggu dosen pembimbing yang tak pernah bisa dipastikan, urusan menyelesaikan skripsi yang teryata tidak sederhana, pengorbanan materi dan mental dan lain sebagainya.

Tentu aku bahagia ketika urusan skripsiku benar-benar selesai dan aku telah diwisuda. Pengorbanan dan perjuangan selama lebih kurang 4 tahun, akhirnya selesai juga. Tapi dalam hati aku berkata pada diri sendiri bahwa setelah hari dimana aku diwisuda, ada banyak hal yang harus kuperjuangkan lagi. Pekerjaan, adik-adik, dan lain sebagainya. Ya, meski orang tuaku tak pernah terlalu menuntut agar aku mencari penghasilan sendiri tapi buatku itu memang sudah seharusnya. Tidak enak rasanya, jika aku harus meminta uang pada mereka untuk keperluanku lagi. Dan itu memang sudah kuusahakan sejak aku semester 2 (saat masih S1).

Ya, sejak semester 2, aku sudah mengajar privat. Kurasa itu bisa menutupi sebagian kebutuhanku. Untuk uang kuliahku, Alhamdulillah sejak semester 4 hingga semester akhir, aku tidak lagi meminta pada Ayah dan Mama’. Oh tentu bukan dari hasil mengajar privatku tapi dari beasiswa yang kudapat dari kampus. Beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, yang indeks prestasinya 3,5 ke atas. Alhamdulillah, aku termasuk yang di dalamnya. Mungkin hanya dengan begitu aku bisa membantu kedua orangtuaku. Ya, meski kedua orangtuaku PNS, tapi secara materi tidak bisa dikatakan selalu berkecukupan.

Kenapa jadi bicara soal kuliah? Hehe. Well, selesai dari S1, ada pertanyaan lain yang memburuku.

“Fit, kapan nikah?”

“Fit, jangan lupa undang-undang ya kalau walimahan?”

Pertanyaan itu selalu dilontarkan dengan nada semangat dan antusias. Mereka ga tahu kalau yang ditanya alias aku kebingungan mau jawab apa, hehe. Hingga semalam pertanyaan itu pun masih kuterima. ^_^

Ya iyalah aku kebingungan. Pasalnya, urusan menikah itu susah-susah gampang bukan gampang-gampang susah (bedakan?^_^). Banyak hal yang harus diperjuangkan untuk benar-benar sampai kesana. Tapi jangan bilang, kalau aku tidak ingin menikah. Aku menginginkannya. Hanya kurasa banyak hal yang harus kulakukan dulu sebelum benar-benar sampai kesana. Semoga aku tidak termasuk orang-orang yang tidak menyegerakan hal-hal yang Allah perintahkan.

Tentang semalam. Seseorang menanyakan hal ini padaku dengan antusias dan raut wajah yang serius. Lagi-lagi, aku hampir kehilangan kata-kata menjawabnya. Apalagi beliau yang bertanya itu mengungkit soal teman-temanku yang hampir semua sudah menikah (beliau ga tahu, kalau beberapa temanku bahkan ada yang sebentar lagi menjadi Ayah dan Ibu^_^).

Benar saja, hampir semua temanku memang sudah menikah lebih dulu daripada aku. Aku yang sekarang berusia 23 tahun, bukan merasa tidak pantas untuk menikah. Sekali lagi, menikah tidak selamanya menjadi hal yang mudah. Bicara menikah, berarti membicarakan kebaikan banyak orang. Bukan hanya kebaikan dua orang yang akan menikah saja. Semua butuh perhitungan.

Bertambahnya usia kurasa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Kurasa aku pun mengalaminya. Seperti ditulisanku yang lalu, sejak Aliyah aku sudah sangat ingin menikah alias nikah muda. Namun rupanya, lambat laun pemikiran itu berubah. Oh tidak, aku tidak mengatakan bahwa nikah muda itu tidak baik. Tapi tetap ada hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan agar tidak membawa sesal bagi mereka yang menikah dan orang-orang di sekitar mereka.

Sebagaimana mereka yang menginginkan menikah , aku pun begitu. Sungguh, aku tidak ingin meninggal sebelum menyelami ibadah yang satu ini. Sebab aku meyakini ada ibadah dan pahala yang tak ternilai harganya selama mengarungi hal yang satu ini. Ibadah dan pahala yang tak akan pernah didapatkan oleh sebagian orang yang berpikir atau telah memutuskan untuk tidak menikah sama sekali.

Nah, jadi kata siapa aku tidak ingin menikah? Sekali lagi. Justru aku ingin merasakan indahnya ibadah yang satu ini (tanpa lebih dulu melakukan “hal-hal yang Allah benci”). Ingin menyempurnakan separuh agamaku. Apalagi setelah baca dan mencoba memahami hadits yang satu ini, yang kukutip dari bukunya Ustadz Salim A. Fillah, “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”.

“Jika seorang hamba menikah, maka telah menjadi sempurnalah setengah agamanya. Maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada sebagian yang lainnya.” (HR. Al Hakim dan Ath Thabrani dari Anas bin Malik. Al Albani meng-hasan-kannya)

Kelak, ketika Allah memanggilku untuk selamanya, aku ingin statusku sudah menjadi seorang istri dan ibu. Semoga saja ketika itu aku benar-benar telah menjadi istri dan ibu yang sholehah. Ah ya, dan telah menjadi anak yang sholehah dan berbakti bagi kedua orangtuaku.

 

230212 – about life and love

Iklan

2 thoughts on “Catatan Kehidupan #6: Kata Siapa Aku Tidak Ingin Menikah….

    • hehe, iya kak. ini ga curhat tapi mencurahkan isi hati (emang apa bedanya ya?:D). Tu kak, makanya cepat nikah, biar ga dikejar-kejar wartawan =D *sok ngajari awak, padahal awak pun belum..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s