Bila Hati Bicara Soal Menikah


Oleh: Fitri A.B.

Bicara soal menikah, aku jadi teringat masa-masa Aliyah dulu. Lho kok? . Iya, sindrum pengin nikah alias nikah muda itu sudah menyerangku sejak Aliyah. Ini efek positif dari baca bukunya Bang Haekal Siregar yang judulnya “Nikah Dini Keren #1”. 

Jadi gini ceritanya. Waktu itu ada teman sekolahku yang punya buku itu. Dan bisa dipastikan baru dia sendiri yang punya buku itu satu sekolahan. Alhasil, buku itu sudah terbang dari hati ke hati beberapa siswa, termasuk aku, hehe. Untuk bisa dapat giliran baca, aku harus rela ngantri. Emang benar-benar banyak yang pengin baca buku itu. Buku itu buku yang “menyihir”, sampai-sampai aku berencana untuk nikah setamat Aliyah (Ini rahasia kita aja ya… ^_^).

Luar biasa, bukan? Hehehe…. Tapi tenang saja, keinginan itu bukan karena sihir hitam kayak punyanya mbah dukun. Itu murni karena alasan-alasan positif kenapa seseorang lebih baik menikah segera. Tentu akal dan hatiku menerimanya sebab ada alasan syar’i yang mententeramkan jiwa . Ah ya, itu waktu umurku sekitar 17-an. Keinginan itu begitu menggebu-gebu. Keinginan aku yang ketika itu berstatus remaja.

Setelah selesai sekolah apakah aku nikah? Ternyata enggak…. . Keinginanku yang satu itu, kusimpan dulu sepanjang aku kuliah. Tugas kuliah yang segudang dan kesibukan di organisasi kampus yang kuikuti telah menyita perhatianku. Hm, aku yang tak sempurna ini kembali dihinggapi keinginan untuk menikah di masa-masa akhir kuliahku. Gimana ga, di sana sini, banyak temanku yang udah punya gandengan, maksudku suami . Pergi kuliah diantar, pulangnya dijemput. Belum lagi saat akan menyusun skripsi, temanku yang udah nikah itu kelihatan tanpa beban. Pasalnya, si suami bersedia sepenuh hati membantu dan mendukung si istri. Pokoknya, bikin aku pengin nikah…, hehe.

Well, memang menikah itu sesuatu yang gimana gitu ya . Momen paling special bagi setiap orang. Pokoknya sesuatu yang full dengan haru biru kebahagiaan. Ya, itu semua memang benar. Eits…, tapi tunggu dulu. Itu hanya satu sisi saja ternyata. Setelah baca beberapa buku tentang pernikahan (cie.., cie…), seperti bukunya Mba Asma Nadia “Catatan Hati Seorang Istri” dan “Sakinah Bersamamu”, Ustadz Faudzil Azhim dengan “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah”, “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” karya Mas Salim A. Fillah, dan lain sebagainya, banyak hal baru dan pandangan baru yang aku dapatkan soal pernikahan. Setidaknya, ini juga yang membuatku bertambah “dewasa” untuk masalah yang satu itu. Ternyata, nikah itu bukan hal yang mudah ya…? Juga bukan hal yang selalu penuh haru biru kebahagiaan. Tapi, ini bukan sesuatu yang kujadikan alasan kenapa di usia yang hm, hm, 23 ini aku belum juga menikah (Bukanpromosi.com =)) . Ini juga bukan sebuah provokasi buat kawan-kawan yang baca tulisan ini untuk tidak menikah, lho ya. 

Menikah itu buatku hakikatnya bentuk kesiapan dan kesediaan kita menghadapi “masalah” yang baru. Kita harus siap menerima segala ketidaksempurnaan dari pasangan hidup yang telah dipilihkan Allah. Kita juga harus siap bila bayangan kebahagiaan yang pernah kita pikirkan sebelumnya ternyata tidak begitu adanya ketika kita sudah masuk ke dalam pernikahan itu. Ya, kita harus punya banyak porsi keikhlasan, kesabaran dan keridhoan atas apapun nantinya yang akan kita hadapi. Terkadang agak dilema juga dengan pemberitaan di berbagai media tentang konflik-konflik kehidupan dalam berumah tangga. Mulai dari perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian dan lain sebagainya. Ah, tapi ini tidak dan tak boleh membuat kita menjadi orang yang phobia dengan menikah. Semua pemberitaan itu tetaplah menjadi pembelajaran yang berharga kita. Dan semoga kita tak mengalami hal-hal seperti itu.

Kukira, begitulah memang kehidupan ini. Setiap gerbang yang akan kita masuki punya ujian-ujian tersendiri di dalamnya. Ujian itu pun tidak hanya berupa kesulitan, kesedihan dan bencana. Kebahagiaan yang kita alami pun sebenarnya adalah ujian jika kita tidak pandai bersyukur padanya dan lupa berbagi pada sesama. Ketika kita masih kanak-kanak, Allah menguji kita dengan ujian yang sesuai dengan kemampuan kita. Begitu pun ketika kita remaja, dewasa dan memasuki usia tua nanti. Dan ketika kita memasuki gerbang pernikahan itu, pastilah Allah akan menguji kita sebagai tolak ukur seberapa dekat kita pada-Nya dan seberapa besar kadar keimanan kita pada-Nya. Kalau berhasil melewatinya dengan sebijaksana mungkin, InsyaAllah surga menanti  (Btw, kenapa jadi serius begini yah? Hehe).

Sepanjang kita hidup, ujian dari-Nya lah pewarna kehidupan kita. Semoga kita semakin dekat dengan-Nya lewat ujian itu, pun ketika kita berumah tangga. Jadi ingat dengan Fathimah (anak Rasulullah) dan Ali bin Abi Thalib, sepasang kekasih abadi yang mengharumkan cintanya lewat pernikahan (jadi pengin nikah…, hehe). Bukan tak ada ujian hidup yang menghampiri mereka. Namun, kebersamaan dan kedewasaan mereka rupanya mampu melewati itu semua dengan balasan cinta dari-Nya.

Di balik semua problematika pernikahan yang ada di tengah-tengah kita, aku tetap percaya bahwa pernikahan adalah kesempatan terbesar bagi setiap hamba-Nya yang ingin mensucikan cintanya untuk mendapat suguhan-suguhan cinta-Nya. Pahala pun kian bersemi sebab cinta yang bersemi telah dapat sertifikat halal langsung dari Allah. Dan pada pernikahan yang full ridho itu sesungguhnya ada Allah yang juga menyaksikan. So sweet, bukan? ^_^ Ah ya, yang pasti bicara soal nikah itu ga akan ada ujungnya, benar nggak? . Selalu saja ada hal menarik tentang pernikahan yang bisa kita ceritakan. Jika sudah ada yang menanyakan kesediaanmu untuk menikah, lalu orangtuamu telah menyetujui hal itu dan kau yakin Allah pun telah ridho, apalagi yang kau tunggu. Katakan “ya “dan siap-siap menerima kejutan dari-Nya (Dengar tu , Fit… hehe).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s