Saat Cintaku Harus Kubagi….


Oleh: Fitri A.B.

Hm, waw, luar biasa, keren, Subhanallah, dan apalagi ya…, hehe. Ini salah satu ekspresiku di saat aku harus membagi cintaku. Syukurnya ini hanya sekitar dua, tiga, atau empat. Coba kalau lebih dari itu? Nggak sanggup aku… ^_^. Well, aku mau cerita soal hidupku yang belakang ini agak sibuk (sok sibuk iya, hehe). Saat dimana aku harus memfokuskan tenaga dan pikiranku pada beberapa hal yang semuanya sama-sama penting. Kalau dipikirkan aja, iya, benar-benar bikin pusing dan bikin tidur ga nyenyak. Tapi aku ingat salah satu kata penyemangat di hidupku, apapun itu jangan hanya dipikirkan tapi harus diatasi dan dikerjakan segera.

 

Ini soal cintaku yang harus kubagi rata. Harus adil. Nggak boleh berat sebelah. Tapi, tetap harus ada urutan prioritasnya. Ya, semester 2 ini benar-benar sesuatu untukku. Lho kok? Hehe, iya, jadi ini soal cintaku yang harus kubagi untuk sekelumit hal di hidupku belakangan ini. Sekelumit hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah tugas kuliahku yang “luar biasa keren”, deadline lomba nulis dan semangat nulisku yang masa-masa ini juga “luar biasa keren”, tugas dari Mama’ dan Ayah untuk bantu buat RPP, nyiapin “menu special” untuk bahan mengajar privat Bahasa Inggris, amanah di FLP Sumut, and so on. Waw, really made me have to try extra. Ada yang mau bantu ga ya? ^_^

 

Jangan sampai kejadian ke aku (atau teman-teman sekelasku) apa yang pernah dialami oleh senior kami. Ya, ada sekitar satu atau dua orang yang masuk rumah sakit alias di opname karena terlalu mikirin tugas kuliah yang dibebankan padanya. Tapi kurasa itu bukan hanya karena mikirin tugas “yang super manis” itu, tapi kemungkinan disebabkan oleh faktor lain. Misalnya, istirahat yang tidak cukup, makanan (jadwal makan) yang tidak dijaga, ngerjain tugasnya pakai sistem kebut semalam, membebankan tugas kelompok pada diri sendiri, dan lain sebagainya.

 

Jadi, untuk mengantisipasi itu semua, aku melakukan sesuatu hal yang kurasa efektif. Aku me-list semua tugas/ kerjaan/ amanah atau apalah namanya yang harus kukerjakan. Sudah pasti, aku harus menyisipkan waktu deadline-nya di tiap tugas yang ku-list itu. Selesai me-list, aku pun mulai berjalan dari satu tugas ke tugas yang lain. Dari situ aku tahu, mana hal yang harus kukerjakan duluan dan mana yang belakangan. Wuih…, setelah ku-list, hal yang harus kukerjakan emang banyak :D.

 

Kadang-kadang pengin patah semangat aja kalau melihat tugas yang segudang itu. Tapi, aku selalu mengingatkan diriku kalau apa yang kualami saat ini adalah resiko terbaik atas pilihanku. Ya, melanjutkan kuliah lagi kan pilihanku, tetap di FLP Sumut juga pilihanku, mengajar privat pilihanku dan membantu kedua orangtua memang kewajibanku. Hidup itu memang penuh dengan pilihan yang beresiko, hehe.

 

Tulisan ini sampai di sini dulu. Aku harus beranjak ke hal lainnya yang sedang ngantri untuk kuselesaikan. At least, aku yakin semester ini akan kulalui dengan sebaik-baiknya, lebih baik dari sebelumnya. Sebenarnya tugas yang segudang bukanlah hal yang paling memberatkan. Ada hal lain yang jauh lebih berat dari sekedar tugas yang ada. So pasti, itu adalah kemampuan untuk bertahan dengan segala kondisi yang ada dan kemampuan untuk memberikan pengaruh yang positif bagi orang-orang di sekitar (hehe, soalnya setiap banyak tugas, pasti hampir semua teman-teman di kelas di rundung emosi).

 

“Kini aku mengerti, bahwa peran utama dari target yang kubuat itu bukanlah untuk kucapai, tapi agar aku segera memulai. Tidak ada yang bisa kucapai, jika aku tak segera memulai. Jika aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku akan dibuat tahu saat aku melakukan. Sumber ilmu adalah tindakan. Pada akhirnya, yang bertindak yang menjadi benar-benar berilmu. Tapi memang aku ini lucu, ingin sampai tapi tidak berangkat, aku melumpuhkan keinginan berhasil dengan rasa takut gagal, dan aku hanya bersedia melakukan yang kecil tapi mengeluhkan hasil kecil. Tuhan, hari ini rahmatilah kesungguhanku untuk: 1. Memperjelas rincian apa saja dari yang ingin kucapai. 2. Menetapkan tindakan yang akan kulakukan untuk mencapainya. 3. Menetapkan kemampuan apa saja yang harus kumiliki dan yang kutingkatkan. 4. Menetapkan cara-cara baru untuk menjadikan diriku pribadi yang lebih mudah diterima, disukai, dan dipercaya. KEMUDIAN, Dampingilah aku saat aku MEMULAI dari tindakan yang paling KECIL dari semua rencanaku – dengan SEGERA. Mudah-mudahan dengannya Engkau menyegerakan pencapaian hasil dari upayaku. Tuhan, aku rindu sampai kepada kehidupan yang damai, sejahtera, dan berbahagia. Aamiin.” (Mario Teguh)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s