Resensi Buku: Menyelami Keajaiban Kedelapan


Judul Buku : KEAJAIBAN KEDELAPAN

Penulis : Sy. Yusman

Penerbit : Format Publishing

Cetakan : I, Februari 2011

Halaman : 252 Halaman

 

Keajaiban Kedelapan merupakan novel bernuansa roman yang unik. Keunikan novel ini terletak pada gaya bahasanya yang tidak biasa dan pengetahuan yang mungkin belum tertahu pembaca. Ada imajinasi liar tersendiri dan pesan agama dalam novel ini yang bisa pembaca dapatkan. Ini pula yang menjadi ciri khas penulis dalam menulis novel ini. Novel ini merupakan novel pertama yang ditulis Sy. Yusman, seorang lelaki yang memiliki prinsip hidup “Berpikir besar dan bertindak sederhana”.

 

Berkisah tentang rasa cinta Gavrila yang begitu besar kepada Balapati. Rasa cinta yang membuka mata hatinya bahwa semua yang dilakukan Bajra tak mencerminkan sifat Ilahi yang sesungguhnya. Namun, tak berani menentang secara terang-terangan meski sesungguhnya ia telah menjadi penghalang walau tak menyadari perbuatannya. Balapati pun tak tahu bahwa gadis yang ia kasihi ternyata membenarkan logika sederhananya. Kepercayaan bahwa Tuhan itu bersifat transenden secara jasmani maupun rohani, namun cengkeraman kasih sayang Bajra menghadirkan perasaan yang campur aduk dan menempatkan gadis itu di persimpangan penuh bimbang. Berdiri di antara cinta dan manusia yang paling berjasa dalam perjalanan hidupnya.

 

Tentang penokohan, penulis menggambarkan karakter tokoh dalam novel ini dengan cukup hati-hati hingga nyaris seperti ada dalam dunia nyata. Biarpun novel ini merupakan sebuah karya fiksi tapi apa yang penulis kisahkan di dalamnya mewakili realita kehidupan saat ini yaitu, tentang hati nurani dan kebenaran yang seringkali ditutupi dan diingkari. Tapi bagaimanapun pada akhirnya cintalah yang mengakhirkan segalanya dengan sebaik-baik dan seadil-adilnya. Novel ini juga semacam aspirasi untuk menentang sikap hedonisme (baca: falsafah hidup yang mengajarkan untuk mencapai kepuasan sebesar-besarnya selama hidup di dunia) yang sampai sekarang masih ada.

 

Di sisi lain, novel ini identik dengan bahasa Sansekerta. Alur maju mundur yang penulis gunakan dalam cerita ini pun membutuhkan kefokusan kita, begitupun tentang istilah ilmiah yang hampir ada di tiap bab-nya. Namun, satu hal yang menjadi catatan penting bahwa penulis mempunyai sebuah visi yang jauh tentang bagaimana seharusnya kita berkehidupan. Ini yang menjadi salah satu kekuatan novel ini, selain kepiawaiannya menggambarkan setiap tokoh dengan detil dan konkret. Ini pula yang membedakannya dengan novel lainnya yang sejenis. Alur cerita yang hampir sempurna dengan latar tempat dan waktu yang imajinatif, saya yakin akan membuat pembaca penasaran dari bab ke babnya. Penulis seakan mengajak kita untuk memecahkan misteri keajaiban kedelapan itu. Membaca novel ini menjadikan kita seakan-akan adalah seorang detektif yang berusaha untuk menemukan dan menyelami apa sebenarnya keajaiban kedelapan itu.

 

Begitupun, bagi saya ada hal yang kurang menarik dari novel ini. Penemuan Keajaiban Kedelapan itu terkesan begitu mudah dan klise. Namun, penulis berhasil mengobatinya dengan menghadirkan kesimpulan yang “manis” di akhir ceritanya lewat serangkaian kalimat yang begitu menyentuh, “Tuhan, aku tahu Kau mengasihiku. Aku tahu Kau menyayangiku. Karena itu, kumohon padamu, kembalikan kasih sayang itu padaku. Kau tahu, jika ada seribu kebenaran, aku ada di situ. Kau pun tahu, jika ada seratus kebenaran, aku ada di dalamnya. Kau juga tahu, jika ada sepuluh kebenaran aku akan menjadi bagiannya. Jika hanya ada satu kebenaran, aku tahu Kaulah itu.”

(Fitri A.B.) Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Unimed 2011 dan bergiat di FLP Sumut (Telah terbit di Koran Medan Bisnis, Minggu, 22 Januari 2012)

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/01/22/77623/menyelami_keajaiban_kedelapan/#.TxzUpXr4Iat

Ya Rabb, Izinkan Aku Marah…


Oleh: Fitri A.B.

Aku tahu, marah itu bukan sesuatu yang baik. Marah juga bukan sesuatu yang akan membuat hati menjadi tenang dan tenteram. Banyak kerugian yang akan kita alami kalau kita marah. Tapi kali ini ya Rabb, izinkan aku marah….

Aku tengah marah pada seseorang. Aku juga tidak pernah menyangka kalau aku harus marah padanya. Namun kebohongannya padaku, itulah penyebab kemarahanku ini. Tak seorang pun suka dibohongi di dunia ini, apapun alasan kebohongan itu.Aku tidak suka dibohongi, apalagi untuk hal yang besar. Dan aku tidak tahu, kenapa sebenarnya dia harus berbohong.

Kalau sudah marah, apalagi dengan orang yang sebenarnya selama ini menurut kubaik, aku lebih memilih diam atau berbicara seadanya, menghindar dan pelit senyum. Hm, aku tahu ini salah tapi begitulah aku terkadang kalau sudah marah. Ya, ini sama dengan memendam perasaan sebenarnya. Dan memendam perasaan itu sebenarnya sama saja dengan menyakiti diri sendiri.

Marah kukali ini “luar biasa”. Apalagi dia sama sekali belum meminta maaf padaku. Jadinya, semua rasa bercampur aduk. Ada benci bercampur perasaan lain yang tidak kuketahui namanya. Ah, jujur saja, akibat dari semua ini belakangan tidurku tidak nyenyak dan makan pun tidak begitu bersemangat. Dimana dan kapan pun, yang ada hanya dia dan rasa marah plus benci ini. Sungguh, aku ini manusia biasa, kawan.

Sebenarnya aku sadar, sifatku ini sama saja dengan sifat anak kecil. Aku pun sadar, kalau Allah tak akan pernah suka dengan kemarahan dan kebencian yang bersemi di hatiku ini. Hm…, lalu apa yang kulakukan selanjutnya? Dengan sepenuh hati aku berdoa semoga kebencian dan kemarahan ini segera berakhir. Ga enak kalau seperti ini terus-terusan. Jika dia tak juga meminta maaf, ya sudahlah. Aku tidak akan memintanya untuk meminta maaf, sebab itu harusnya datang dari hatinya. Kalau dia merasa ga bersalah, aku ga tahu lagi mau bilang apa.

Ah…, sebenarnya kadang-kadang pengin tertawa. Kenapa harus begini jadinya? Hm, tapi aku yakin Allah selalu menyelipkan hikmah pada setiap kejadian yang kita alami. Kecewa, sedih, dibohongi, dan segala rasa lainnya kurasa memang harus ada di beberapa episode hidup kita. Pada akhirnya, semua tergantung pada kita, bukan? Jika ingin cinta dan surga-Nya, sudah tentu harus berbuat yang Ia sukai.

Bismillah, hari ini, detik ini, aku lepas rasa marah dan benci ini. Banyak hal yang harus kupikirkan dan kukerjakan. Biarlah Allah saja yang menjadi penentu selanjutnya. Segera setelah amarah ini berlalu, semoga semua akan baik-baik saja. Meski sulit, tapi aku yakin bahwa aku pasti bisa.

Ya Rabb, izinkan aku marah…, tapi marah yang sebentar saja ya.^_^